Muhammad Abdul Bar (57), nama seorang pria asal Kabupaten Magelang yang viral di media sosial karena memenangkan desain logo perusahaan luar negeri. Hasil dari profesi yang ditekuni ini bisa untuk biaya kuliah dua putri hingga membangun rumah.
Ia ditinggal di Dusun Demangan Timur, Desa Kaliabu, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Dari Sawitan atau Ibu Kota Kabupaten Magelang sampai Desa Kaliabu berjarak sekitar 20 km atau ditempuh sekitar 30 menit.
Muhammad Abdul Bar biasa disapa Wodeol. Sebelum menekuni profesi sebagai desainer logo perusahaan, dulunya merupakan sopir bus malam jurusan Magelang-Jakarta, pernah juga rute sampai Sumatera. Selain itu, dia pernah menjadi pengemudi truk tangki di Kalimantan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga akhirnya sejak tahun 2015 memutuskan untuk berhenti dari pengemudi dan beralih profesi sebagai desain logo perusahaan asing. Ia pun belajar secara otodidak untuk mendesain logo.
"Awalnya cuman merasa tidak cukup saja hasil yang dapatkan untuk kehidupan keluarga dari mengemudi. Terus, saya sering mencari lowongan pekerjaan di koran-koran. Dulu, iklan kecik ya," kata Wodeol mengawali pembicaran saat ditemui detikJateng di rumahnya, Senin (20/4/2026).
Wodeol menceritakan dari saking maniaknya mencari lowongan pekerjaan, dia sering ke warung internet (warnet). Saat itu, baginya internet masih termasuk hal yang asing dan baru.
"Saat itu, satu-satunya sopir bus yang mempunyai medsos baru awal-awalnya FB (facebook). Baru saya, sekitar tahun 2010. FB, masih barang istimewa, karena Twitter belum ada, apalagi TikTok," sambungnya sembari menyeruput kopi.
Ia pun tak menampik saat itu diajari penjaga warnet untuk yang browsing. Pada tahun 2010, di Kaliabu baru ada satu warnet.
"Ya di warnet hanya untuk mencari lowongan kerja, selain sopir bus. Akhirnya menemukan peluang kerja baru sebagai pengemudi truk tangki di Kalimantan. Di sana (Kalimantan) selama setahun," imbuhnya.
Hadiah Pertama USD 300
Seiring berjalannya waktu, dia pun semakin intens ke warnet, bahkan hampir setiap hari. Saking seringnya hingga kenal dengan pemilik warnet. Terkadang bahkan hingga digratiskan saat di warnet.
"Saya jadi tahu manfaat internet. Manfaat dari browsing," tuturnya.
"Singkat cerita seringnya ke warnet menemukan peluang kerja atau belajar desain. Persisnya saya lupa, sering ngobrol (penjaga warnet). Di situlah akhirnya menemukan bagaimana cara mendesain hingga contest design. Termasuk desain logo itu apa," kata Wodeol yang alumni SMA di Purworejo.
Wodeol mengaku, kali pertama logo yang dimenangkan dengan hadiah 300 dolar AS. Logo yang dimenangkan tersebut dari perusahaan otomotif Australia pada sekitar tahun 2010-an.
"Waktu itu dapat Rp 2,8 juta. Itu sudah luar biasa, kaya sak sugih-sugihe sak Kaliabu (kayak sudah kaya-kayanya se-Kaliabu). Di bandingkan dengan satu kali PP Magelang-Jakarta selama tiga hari (pengemudi), saya cuman dapat Rp 250 ribu," katanya.
"(Dari Rp 250 ribu) Saya kasih istri Rp 200 ribu, terus Rp 50 ribu buat sangu berangkat. Itu Rp 2,8 juta, otomatis (ketagihan) mencari lomba logo. Waktu itu modal PC (Personal Computer) Windows 486," kenangnya.
Semenjak memenangi desain logo tersebut, dia terus rajin mencari informasi lomba desain. Dia masih sempat menjalankan aktivitas sopir dan memanfaatkan waktu luang untuk mendesain logo.
"Waktu itu, masih aktif sebagai sopir. Kalau pulang nggambar. Akhirnya, suatu saat menang lagi, logo soal konsultasi keuangan. Itu menang dapat 200 dolar, saat itu kurang dari Rp 2 juta," tuturnya.
"Setelah setiap bulan sekali ada. Itu saya baru mengambil keputusan. Akhirnya memutuskan berhenti di jalan (dari pengemudi). Itu banyak yang mengatakan saya nggak waras, orang gila (kerja di rumah)," ujar dia.
Tetangga Belajar
Saat berhenti menjadi sopir, banyak orang yang menyayangkannya. Pasalnya, saat itu menjadi pengemudi bus dianggap pekerjaan yang hebat. Terlebih ketika itu, usianya masih menginjak sekitar 29 sampai 30 tahun.
"Orang mulai bisik-bisik nggak bener (dikira kerjanya). Karena sudah enak punya kerjaan, kok di rumah (dianggap menganggur). Curiga (kerja di ruang tamu), satu, dua, orang awalnya ngintip (kerjanya)," katanya.
Dari orang yang mengintip tersebut, lambat laun mengetahui kerjanya duduk di depan perangkat komputer. Kemudian, para tetangganya mendatangi untuk melihat proses yang dia kerjakan.
"Mereka datang ke sini, sering main. Duduk bareng, saya mengerjakan sesuatu. Yang inten bertanya, kemudian saya beritahu caranya," bebernya.
"Saya waktu itu arogan. Setiap kali menang, saya ambil Rp 100 ribu. Saya taruh di bawah meja (kaca komputer). Sampai satu meja penuh uang Rp 100 ribu. Mereka pada heran, saya bukan pamer. Mereka tertarik ingin (mendapatkan uang)," lanjutnya.
Para tetangga pun tertarik untuk belajar kepada Wodeol. Kemudian, mereka menularkan ilmu yang diperoleh hingga dikenal luas sebagai kampung desain.
"Kalau sekarang (konsisten) masih, kalau dihitung (jumlahnya) nggak bisa menghitung karena tidak ada data base (jumlah orang yang bertahan)," katanya.
50 Klien Perusahaan Asing
Pihaknya pun tetap menjalin komunikasi dengan perusahaan yang pernah dimenanginya. Terkadang saat perusahaan tersebut ulang tahun ia menyampaikan ucapan.
Termasuk juga hanya sekadar berkirim email sebatas menyapa. Hal tersebut dilakukan untuk tetap menjaga komunikasi dengan perusahaan tersebut. Selain itu, juga masih mencari lomba kontes logo.
"Ya kalau dihitung sih, saya nggak bisa secara persis detail berapa. Tapi, ya cukup lumayan. Ya 50 (perusahaan), sudah kembali order. Itu kebanyakan dari Amerika dan Australia," bebernya.
Perusahaan yang mengorder pembuatan logo pun beragam. Ada perusahaan otomotif, kosmetik, konsultasi bisnis, minuman, makanan, restoran dan lain sebagainya.
"Satu kampung pernah 20 orang menang kontes, terus datang ke sini ramai-ramai. Saya mengembangkan (membangun rumah) tahun 2012-2013-an keadaan kampung sini didengar oleh kementerian (ada) yang membuat film dokumenter (kegiatan kami)," tuturnya.
Saat itu, Kementerian Pariwisata yang mengetahui kegiatan yang dilakukan warga Desa Kaliabu. Untuk itu, Wodeol pernah diundang untuk talk show yang dipandu Andy F Noya dalam Kick Andy.
Bangun Rumah-Biaya Kuliah Anak
Wodeol menambahkan, dari hasil sering mengikuti contest holder (CH) bisa untuk membangun rumah. Selain itu, bisa untuk biaya kuliah kedua puterinya.
"Iya (bangun rumah) sama kuliah anak. Pertama, alumni Akper, terus yang kedua di UNS," tuturnya.
Ia mengatakan, tiap bulan rata-rata mendapatkan pendapatan di atas UMR.
"Karena kita untuk bekerja tidak bisa sebulan penuh. Kadang ada titik jenuh, bosan. Dari 30 hari, maksimal bisa kita manfaatkan cuman 10 hari, selebihnya buat (keluarga)," katanya.
Perihal pendapatan dari 2012 hingga 2026 ini, kata dia, paling tinggi pernah mendapatkan 2.000 dolar AS dalam sebulan.
"Pernah 2.000 dolar (sebulan), saat itu per dolar sekitar Rp 15 ribu. Kalau sekarang sebulan sekitar 500 dolar sudah bagus (karena banyaknya pesaing)," tambahnya.
Ia pun mendapatkan Platinum Designer dalam kompetisi Global 99designs. Meski demikian ia mengakui bagi sebagian orang penghargaan tersebut hal biasa, tapi baginya yang hanya lulusan SMA, penghargaan itu sangat istimewa.
"Banyak (di Indonesia mendapatkan platinum designer). Karena banyak (dapat) platinum bukan hal yang istimewa bagi mereka yang senior-senior. Tapi, kepada saya seolah istimewa. Menjadi heboh ke saya karena tamatan SMA, latar belakang sopir bus," tuturnya.
"(Mau sampai kapan bikin desain logo) Saya tidak tahu. Yang penting saat ini sudah menjadi lahan ikhtiar saya untuk mencari rezeki. Selama, insyaallah saya masih diberi rezeki sama Allah dan selama masih dihidupkan oleh Allah, saya kira masih dapat rezeki. Dan itulah lahan satu-satunya saya punya," pungkasnya.











































