Kata Pakar Gizi Undip soal Menu MBG Ramadan Ramai Jadi Sorotan

Kata Pakar Gizi Undip soal Menu MBG Ramadan Ramai Jadi Sorotan

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Kamis, 26 Feb 2026 16:29 WIB
Pakar gizi Universitas Diponegoro Semarrang merespons soal menu MBG saat Ramadan di beberapa daerah yang ramai menjadi sorotan.
Ilustrasi Makan Siang Gratis. Foto: Ilustrasi Makan Siang Gratis (Antara Foto/Andry Denisah)
Semarang -

Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) saat Ramadan di beberapa daerah menuai sorotan publik. Menurut pakar gizi Universitas Diponegoro (Undip) Semarrang, Prof. Dr. Diana Nur Afifah, S.T.P., M.Si, menu MBG saat Ramadan memang perlu disesuaikan agar tetap layak dikonsumsi.

"Kalau misalnya MBG mau dibagikan dalam bentuk masakan yang sudah matang, perlu dipastikan sampai buka puasa masih layak untuk dikonsumsi atau tidak," kata Diana saat dihubungi wartawan, Kamis (26/2/2026).

Guru Besar Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Undip itu menjelaskan, pilihan menu dalam bentuk kemasan bukan berarti otomatis buruk.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Perlu dicek satu-satu, tidak terus semua yang dalam kemasan itu tidak baik. Bisa jadi untuk menghindari kemungkinan basi, (basi) itu malah lebih bahaya," ujarnya.

"Kalau menunya buah, misalnya pisang atau susu, dipisah-pisah, silakan saja yang penting sudah bisa dihitung baik gizinya untuk asupan harian," lanjutnya.

ADVERTISEMENT

Disinggung soal temuan roti dalam menu MBG yang tidak berjamur hingga sepekan, Diana menyebut hal itu perlu dicermati lagi. Dia menjelaskan, pada umumnya roti basah termasuk bahan pangan yang relatif cepat rusak.

"Kalau sampai satu minggu belum berjamur, perlu dicek bahan tambahannya apa saja. Tapi kalau sudah punya izin edar dan diproduksi sesuai good manufacturing practices seharusnya aman," jelasnya.

Disinggung soal menu kering seperti keripik tempe, ia mengingatkan agar tujuan gizinya jelas. Jika dimaksudkan sebagai sumber protein, maka kandungan tempenya harus dominan.

"Kalau mau lebih baik, bisa dibuat tempe kering dibanding keripik yang biasanya tepungnya lebih tebal. Atau bisa juga alternatif lain seperti abon ikan, abon ayam, dendeng ikan. Itu jelas sumber protein," terangnya.

Dosen Prodi Magister Ilmu Gizi FK Undip itu juga merekomendasikan susu Ultra High Temperature (UHT) untuk MBG karena lebih aman disimpan pada suhu ruang sebelum dibuka.

"Susu dalam kemasan itu macam-macam, ada susu murni, ada sterilisasi, ada formulasi yang ditambahkan macam-macam. Ada lagi yang rasa susu, malah bukan susu. SPPG itu harus bisa memilih dengan baik," kata dia.

"Kalau hanya susu pasteri saja, harus habis sekali minum. Kalau tidak, harus masuk kulkas. Tapi tidak semua murid punya kulkas jadi seharusnya susu UHT," imbuhnya.

Akademisi yang ahli di bidang gizi ibu itu juga mengingatkan agar MBG tidak menggunakan produk kental manis sebagai pengganti susu, karena kandungan gulanya jauh lebih tinggi dibandingkan susunya.

"Jadi jangan sampai dia rasa susu atau kental manis. Karena kalau yang kental manis itu tuh bukan susu, lebih banyak gulanya dibandingkan susunya," ucapnya.

Diana juga menyarankan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar lebih selektif memilih pemasok bahan, termasuk menggandeng UMKM yang memiliki izin resmi.

Soal anggaran Rp 10 ribu per porsi yang kerap dipersoalkan publik, Diana menilai nominal tersebut masih memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan gizi, mengingat pengadaan MBG dilakukan dalam skala besar.

"Rp 10 ribu kalau beli satuan memang terasa kecil. Tapi kalau beli bahan baku dalam jumlah besar, harga pasti lebih murah. Itu yang harus dimaksimalkan," jelasnya.

Dia menambahkan, peran ahli gizi di setiap SPPG sangat krusial. Mereka bertanggung jawab menghitung kebutuhan energi dan zat gizi per porsi, misalnya sekitar 600 kilokalori per sekali makan dengan komposisi protein, lemak, dan karbohidrat yang seimbang.

"Jadi para ahli gizi ya di SPPG ayo bekerja sesuai dengan kompetensinya untuk memastikan makanan yang dibagikan ke balita, anak sekolah, ibu hamil, lansia dan sebagainya itu sesuai dan tepat sasaran," pungkasnya.




(dil/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads