Orang tua siswa di Magelang mengeluhkan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan saat Ramadan, salah satunya ialah kentang mustofa. Mereka berharap menu MBG juga memperhatikan soal pemenuhan gizi.
Keluhan ini salah satunya disampaikan Haksoro (45) warga Sawangan, Kabupaten Magelang. Menu kering MBG tersebut mulai diterima anaknya sejak masuk pertama setelah libur awal puasa Ramadan.
"Anak saya masih TK. Pada hari pertama, Senin (23/2), menunya berupa roti, susu UHT dan pisang. Hari kedua, Selasa (24/2), kurma 3 biji, 2 telur rebus, dan roti tawar," kata Haksoro kepada detikJateng, Rabu (25/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nah hari ini sama, ada yang lucu. Mosok menunya kentang Mustofa. Kentang dipotong-potong, diiris kecil-kecil, terus 5 butir telur puyuh dan jeruk," sambung Haksoro.
Menurut dia, total nilai menu itu tidak sampai Rp 8 ribu.
"Menu yang TK kecil ya Rp 8 ribu. Tapi kalau saya menghitung sama istri nggak nyampai Rp 8 ribu. Dengan nominal buah harga Rp 2 ribu misalnya, hitungan kami paling banter Rp 5 ribu," imbuhnya.
"Oke lah mereka (SPPG) berasumsi bahwa itu menu kecil buat anak-anak. Tapi kandungan gizinya nggak masuk. Contohnya, betul kentang ada karbohidrat, tapi kalau kentang sudah diproses goreng berarti lebih banyak lemaknya ketimbang karbohidrat. Terus, terus puyuh itu kan kolesterol tinggi," imbuh Haksoro.
Haksoro pun mempertanyakan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyediakan MBG apakah hanya sekadar mengejar anggarannya atau memang memperhitungkan kandungan gizinya.
"Kalau kandungan gizinya kan nggak masuk kalau segitu. Kandungan gizi yang dimaksudkan dengan Makan Bergizi Gratis (MBG) itu kan ada bergizinya," ucap dia.
"Kenapa memaksa Rp 8 ribu dengan menu yang ora mbejaji (tidak layak). Menurutku menunya asal. Jadi, harapan kami ada perbaikan. Ini kan program nasional, program besar. Ini katanya bukan program mencari untung, tapi program demi rakyat. Harusnya ya menu yang dikasih ya harus sesuai dengan kebutuhan rakyat," tambah Haksoro.
Menurutnya, tujuan dari MBG bukan sekadar memberi makan, tapi juga harus mempertimbangkan soal pemenuhan gizi.
"Memberi makan anak yang cukup secara pemenuhan gizi. Nah, kalau modelnya kayak begitu (menu kering) roti tawar dianggap karbohidrat. Padahal jelas ada gluten segala macam, terus fungsinya ahli gizi di dapur SPPG apa kalau dia tidak menghitung jumlah kandungan gizi dalam satu porsi," ujar dia.
"Susu ultra (UHT) dipakai tidak manis. Tapi, tetap dengan proses, kenapa tidak pakai susu murni dari Boyolali, dari petani. Itu kan sirkular ekonomi kan lebih jalan," tegasnya.
Haksoro menambahkan, menu MBG di hari biasa lumayan bagus.
"Menunya lumayan ada buah, sayur, lauk. Tapi, Ramadan ini kenapa mereka nggak kreatif," kata dia.
Menanggapi keluhan dari orang tua siswa terkait menu kering MBG saat puasa Ramadan, Bupati Magelang Grengseng Pamuji meminta SPPG supaya memperbaiki menunya.
"Kalau kami konsisten itu. Sudah menunya diperbaiki yang baik," kata Grengseng.
"Kalau misalnya ada informasi yang mungkin kurang pas, itu dicarikan referensi informasi yang bisa dijadikan sumber informasi, contoh harga. Harga satu paket yang tersiarkan Rp 15 ribu. Tapi, ternyata faktanya untuk anak kecil Rp 8 ribu sama Rp 10 ribu atau berapa itu detailnya. Nah itu coba cari nanti di BGN, berapa detailnya. Apa, menu, harga menu berapa, nah itu silakan untuk konversi yang baik," tambahnya.
Pihaknya mencontohkan, melihat harga Rp 10 ribu sama harga Rp 15 ribu orang melihatnya berbeda.
"Ya itu aja. Tapi, jangan terus ketika itu harganya Rp 10 ribu terus goleke sak -sak'e ya ojo (mencarinya asal-asalan ya jangan). Tetap berikan yang terbaik. Itu saya yakin cukup Rp 10 ribu itu kalau dikonversi dengan kilokalori dengan wajar, saya yakin cukup dan cara ndesone murwad, layak lah," tegas Grengseng.
Penjelasan SPPG
Dihubungi terpisah, Koordinator Wilayah (Korwil) Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Kabupaten Magelang, Nrangwesthi Widyaningrum, mengatakan menu kecil hari pertama SPPG Gondowangi Sawangan ialah roti isi kacang merah yang mengandung sumber karbohidrat dan berisi protein nabati.
"Susu UHT plain mengandung sumber protein hewani, pisang sumber serat," kata Westhi dalam pesan melalui WhatsApp.
Kemudian untuk hari ini, kata dia, menunya kentang Mustofa, telur puyuh rebus, dan jeruk.
"Menu kentang Mustofa (mengandung) sumber karbohidrat pengganti nasi, telur puyuh rebus sumber protein hewani dan jeruk sumber serat dan vitamin. Kentang mustofa Rp 3 ribu, telur puyuh rebus 5 butir Rp 2,5 ribu dan Rp 2,5 ribu," kata dia.
"Untuk pemesanan SPPG menyesuaikan harga koperasi. Karena pembayaran ada di belakang setelah invoice/tagihan keluar dari koperasi. Biasanya sebelumnya SPPG menyesuaikan harga pasar untuk HPP yang direncanakan," ujarnya.
Westhi menambahkan, saat ini SPPG Magelang Sawangan Gondowangi masih menyalurkan MBG ke 38 sekolah dan 7 posyandu.
"Dengan rincian 3500 PM (Penerima Manfaat) peserta didik, 182 balita, 25 ibu hamil dan 53 ibu menyusui," pungkasnya.











































