Bencana tanah bergerak melanda kawasan RT 07/RW 01 Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Para warga yang terdampak meminta bantuan pemerintah supaya direlokasi, karena waswas tinggal di atas tanah yang terus bergerak.
Pantauan detikJateng di Kelurahan Jangli RT 07 RW 01, tampak beberapa warga mengevakuasi barang di dalam rumah untuk dibawa ke rumah kerabatnya. Mereka membawa televisi, kompor, dan baju-baju di rumah.
Sebagian warga juga berkumpul di pengungsian yang didirikan di musala terdekat karena rumahnya sudah tak bisa dihuni lagi. Mereka menatap rumah dan jalanan yang sudah porak poranda.
Retakan di Jalan Jangli-Undip pun makin besar hingga motor tak bisa melintas. Beberapa kali warga menyetop pengendara yang hendak melintas.
Salah satunya Slamet Riyadi (47), yang rumahnya baru saja dipenuhi tanah yang retak di setiap sudut. Tampak kamar, dapur, hingga ruang tamu rumahnya itu penuh dengan retakan.
Slamet mengaku tengah tertidur saat tanah bergerak Minggu (8/2) malam. Saat terbangun dari tidurnya, rumahnya sudah porak poranda dengan retakan di setiap sudut.
"Tadi malam itu rumah ini masih saya tempati. Terus ada 20 cm-an ternyata yang bergerak, bangun itu sudah porak poranda. Terus ngevakuasi barang tadi," kata Slamet kepada detikJateng di lokasi, Senin (9/2/2026).
Ia mengaku waswas hingga berencana mengungsi agar tak lagi tinggal di rumah dengan tanah yang terus bergerak itu. Slamet berharap pemerintah bisa membantu dengan menyediakan lahan relokasi bagi warga terdampak.
"Sebagai warga negara ya kita juga bukan warga liar, di sini juga punya KTP. Harapannya untuk pemerintah ya minta kebijaksanaannya, relokasi atau gimana. Kan kita waswas," harapnya.
Terlebih, kandang kambing dan ayamnya pun terdampak. Penjual kambing itu tak bisa lagi memelihara kambing yang sudah jadi nafkah utamanya selama bertahun-tahun.
"Kandangnya malah lebih parah. Kambingnya sekarang masih di kandang, tapi besok rencananya ya mau dipindah, terus dijual. Saya juga mau mengungsi di masjid, soalnya kan risiko anak-anak," terangnya.
"Dari dulu di kampung ini setiap Idul Adha selalu menyembelih banyak kambing, kita selalu terbanyak. Tapi seperti ini ya sudah dijual paling nanti," lanjutnya.
Hal senada dikatakan warga lainnya, Kadar (58). Ia mengaku masih tinggal di rumahnya meski dapur, kamar mandi, dan kandang ayam miliknya sudah roboh akibat tanah gerak.
"Alhamdulillah masih bisa tinggal di rumah cuma kan ya hati-hati. Kalau hujan atau malam itu ya nggak bisa tidur," ujarnya.
(apu/ams)