Fenomena tanah gerak di Kampung Sekip RT 07 RW 01, Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, kian mengkhawatirkan. Satu rumah warga yang rencananya akan dibongkar justru roboh lebih dulu akibat pergerakan tanah.
Pantauan detikJateng hari ini, rumah milik Sri Darningsih (58) itu tampak sudah roboh. Rabu (11/2) lalu ia berniat membongkar rumahnya untuk menyelamatkan material.
Kini rumahnya sudah roboh hingga kayu-kayunya berserakan. Tampak lemari baju masih berdiri di tengah puing-puing. Sementara itu sejumlah material dikumpulkan di tengah dan ditutup terpal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sri mengatakan, rumahnya ambruk karena tanahnya terus turun sehingga menggeser tiang penyangga bangunannya.
"Tidak dibongkar ya ini, tapi memang roboh sendiri. Struktur tanahnya semakin turun, semua tiangnya bergerak, ada yang maju, ada yang mundur, ada yang bengkok, ada yang lepas dari sambungannya," kata Sri saat ditemui detikJateng, Jumat (13/2/2026).
Menurut Sri, tanda-tanda kerusakan rumahnya sudah terlihat sejak Rabu (11/2). Kondisinya semakin parah setelah hujan deras mengguyur kampungnya. Akibatnya, seluruh sambungan kayu terlepas.
"Awalnya memang rencana mau dibongkar, tapi ternyata cepat sekali. Hujan turun malamnya, paginya sudah roboh seperti ini," ujar dia.
Satu rumah warga roboh terkena tanah gerak di Kampung Sekip, Kelurahan Jangli, Tembalang, Kota Semarang, Jumat (13/2/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
Sri yang semula sempat menginap di Mranggen, Kabupaten Demak, kini akhirnya menumpang di tenda pengungsian yang sudah disiapkan di musala. Dia mengungsi bersama sejumlah warga lain.
"Sekarang kami di posko. Ada bantuan dari Dinas Sosial, selimut, kasur, jadi bisa dipakai istirahat. Harapannya nanti ada dapur umum karena kami kan juga mau masak tapi gimana," ucap dia.
"Untuk warga yang rumahnya masih bisa ditempati tetap di rumahnya. Tapi kebanyakan ibu-ibu yang takut, sama yang rumahnya roboh lari ke pengungsian semua," sambungnya.
Warga lain, Rojikah (54), mengatakan informasi evakuasi disampaikan langsung saat Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng meninjau ke lokasi, Rabu (11/2) lalu.
"Dikasih tahunya pas Bu Wali datang. Kalau hujan terus, katanya langsung disuruh ke pengungsian," kata Rojikah.
Ia menyebut saat ini sudah ada tiga rumah warga yang roboh dan satu rumah lagi sengaja dirobohkan. Kondisi tersebut membuat warga semakin waswas.
"Kalau di sini aman ya saya tetap di sini. Kalau nggak aman ke pengungsian. Soalnya kasihan anak saya lagi hamil enam bulan. Sebelumnya keluarga saya malah ada yang lahiran pas kondisi sudah begini," ungkap Rojikah.
"Harapannya ya tempat pengungsiannya bisa nyaman, terutama buat yang hamil. Kalau relokasi katanya emang ada rencana, tapi tempatnya belum tahu," imbuh dia.
Menurut Ketua RT 07 RW 01 Jangli, Joko Sukaryono, dampak pergerakan tanah di kampungnya terus meluas. Hingga kini, tercatat ada 15 rumah yang terdampak, dengan tiga rumah sudah roboh.
"Dampaknya semakin parah. Retakan tanah makin panjang. Rumah roboh itu karena sudah doyong (miring), lalu hujan kemarin menjadi ambruk," kata Joko.
Joko menambahkan, lahan evakuasi sementara tengah dipersiapkan oleh Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) serta BPBD. Lahan tersebut di tanah milik warga, berjarak sekitar 50-100 meter dari lokasi terdampak dengan luas sekitar 500 meter persegi.
"Nanti yang diungsikan hanya warga terdampak, jumlahnya sekitar 17 KK atau 54 jiwa, termasuk 10 anak-anak. Estimasi menghuni di tenda pengungsian nanti sekitar dua bulan," ujar dia.
Sebelumnya diberitakan, fenomena pergerakan tanah terjadi di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Akibatnya, sebanyak 15 rumah warga terdampak dan akses jalan penghubung antara Jangli dan kawasan Universitas Diponegoro (Undip) terputus.
Lurah Jangli, Maria Teresia Takndare, mengatakan tanah gerak terjadi di RT 07 RW 01 Kelurahan Jangli pada Kamis (5/2) dan Jumat (6/2). Peristiwa tersebut dipicu hujan deras yang turun terus-menerus dalam beberapa pekan terakhir.
"Karena kondisi hujan yang terus-menerus, membuat di wilayah saya, tepatnya di RT 07 RW 01, terjadi pergerakan tanah," kata Maria saat dihubungi detikJateng, Minggu (8/2/2026).
(dil/apu)












































