Tanah Gerak Makin Parah, Warga Jangli Semarang Mulai Bongkar Rumah

Tanah Gerak Makin Parah, Warga Jangli Semarang Mulai Bongkar Rumah

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Rabu, 11 Feb 2026 15:31 WIB
Para warga membongkar rumah yang terdampak tanah gerak di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Rabu (11/2/2026).
Para warga membongkar rumah yang terdampak tanah gerak di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Rabu (11/2/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng.
Semarang -

Warga Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, terpaksa membongkar rumahnya secara mandiri akibat tanah gerak yang kian parah usai hujan deras semalam. Mereka mengamankan material bangunan karena takut rumah roboh.

Pantauan detikJateng di RT 07 RW 01 Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, tampak warga bergotong royong membongkar rumah dan balai RT. Mereka memindahkan material bangunan ke lokasi yang dinilai aman.

Salah satunya dilakukan Slamet Riyadi (47), warga RT 07 RW 01 Kelurahan Jangli yang sudah tinggal di kawasan tersebut sejak lahir. Ia tengah mengamankan triplek, kayu, dan material yang bisa diselamatkan.

Para warga membongkar rumah yang terdampak tanah gerak di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Rabu (11/2/2026).Para warga membongkar rumah yang terdampak tanah gerak di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Rabu (11/2/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng



Senin (9/2) lalu, rumahnya tampak masih utuh meski di dalamnya tampak retakan di mana-mana. Kandang kambingnya yang sebelumnya sudah hampir roboh itu kondisinya kian mengenaskan. Kambing-kambing sudah tak ada di kandangnya.

"Dari sore sampai pagi semalam hujannya deras sekali. Tadi malam terasa goncangan, rumah bunyi 'pletok-pletok'. Keramik mumbul semua, plafon juga sudah rusak," kata Slamet saat ditemui di lokasi, Rabu (10/2/2026).

Slamet mengatakan, pembongkaran rumah dilakukan mulai pagi ini setelah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyarankan bangunan tersebut tidak lagi layak ditempati. Ia memilih membongkar lebih dulu untuk mengantisipasi kerusakan yang lebih parah.

"Dibongkar ini materialnya akan diamankan untuk membangun lagi. Kita antisipasi kalau ambruk pas hujan lagi terus rusak, tapi kalau ini tadi kerja bakti mandiri warga," ujarnya.

"(Ada rencana membangun lagi rumah di mana?) Belum ada keputusan. Tadi Dinas Perkim (Perumahan dan Kawasan Permukiman) ke sini. Belum tahu relokasi nanti ke mana. (Ada rencana relokasi?) Kayaknya gitu," lanjutnya.

Rumah Slamet sendiri berukuran sekitar 4x10 meter dan ditempati satu keluarga bersama istri dan dua anak. Sementara puluhan kambingnya terpaksa dievakuasi ke kandang milik adiknya di sebelah barat kampung.

"Kandang ternak tadi malam ambruk. Ini ada sekitar 20 kambing, alhamdulillah bisa dievakuasi," katanya.

Menurut Slamet, usai hujan deras mengguyur Kota Semarang malam tadi, aliran listrik, air PDAM, hingga jaringan internet di kampung sempat terputus.

"Tadi malam itu Wi-Fi, listrik, PDAM itu semua terputus. Ada rasa goncangan-goncangan kayak rumah itu 'pletok-pletok'. Jelas toh tanah ini gerak," terangnya.

"Saya perasaannya campur aduk. Kandang ini tadi malam ambruk. Saya sudah tiga malam tidur di musala. Sementara rata-rata yang roboh ngungai di musala," sambungnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para warga membongkar rumah yang terdampak tanah gerak di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Rabu (11/2/2026).Para warga membongkar rumah yang terdampak tanah gerak di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Rabu (11/2/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng



Ia menyebut, sedikitnya empat rumah warga terdampak parah. Dua rumah sebelumnya dilaporkan roboh, sementara satu rumah lainnya juga akan dibongkar seperti milik Slamet, untuk mencegah ambruk mendadak.

"Kerugian kalau ditotal mungkin sampai puluhan juta rupiah," ujar Slamet.

Sementara itu, Ketua RT 7 RW 1 Kampung Sikep, Joko Sukaryono, mengatakan total warga terdampak mencapai sekitar 63 kepala keluarga atau 300 jiwa. Namun, sejauh ini baru tiga keluarga yang mengungsi.

"Yang ngungsi ada tiga KK. Ada yang di musala, ada juga yang ke rumah saudara. Alhamdulillah tidak ada korban jiwa," katanya.

Joko menyebut, sebagian besar warga kini masih was-was, termasuk mereka yang tidur di musala pada malam hari. Warga berharap pemerintah segera memberikan kepastian, terutama terkait relokasi.

"Harapan warga jelas, ingin direlokasi ke tempat yang aman. Ekonomi warga di sini menengah ke bawah, jadi kami berharap ada solusi yang bijak dari pemerintah," pungkasnya.




(apl/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads