Tanah Gerak di Jangli Semarang, 10 Rumah Rusak-Akses ke Undip Terputus

Tanah Gerak di Jangli Semarang, 10 Rumah Rusak-Akses ke Undip Terputus

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Minggu, 08 Feb 2026 12:45 WIB
Tanah gerak di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, yang berdampak ke 10 rumah dan jalur Jangli-Undip.
Tanah gerak di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, yang berdampak ke 10 rumah dan jalur Jangli-Undip. Foto: Dok. BPBD Kota Semarang.
Semarang -

Peristiwa pergerakan tanah terjadi di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Akibatnya, sebanyak 10 rumah warga terdampak dan akses jalan penghubung antara Jangli dan kawasan Universitas Diponegoro (Undip) terputus.

Lurah Jangli, Maria Teresia Takndare, mengatakan tanah gerak terjadi di RT 07 RW 01 Kelurahan Jangli, Kamis (5/2) dan Jumat (6/2) lalu. Peristiwa tersebut dipicu hujan deras yang turun terus-menerus dalam beberapa pekan terakhir.

"Karena kondisi hujan yang terus-menerus, membuat di wilayah saya, tepatnya di RT 07 RW 01, terjadi pergerakan tanah. Dampaknya ada 10 rumah dan jalan penghubung Jangli-Undip putus," kata Maria saat dihubungi detikJateng, Minggu (8/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Maria menjelaskan, dari 10 rumah terdampak, satu rumah mengalami kerusakan parah hingga roboh seluruhnya. Sementara sembilan rumah lainnya mengalami keretakan di sejumlah bagian.

"Yang roboh total (roboh) ada satu KK. Kalau sembilan rumah lainnya retak, ada yang di lokasi vital di bagian depan, dapur, sampai bagian tengah rumah," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Pergerakan tanah itu disebut sudah terjadi sejak sekitar dua minggu sebelum kejadian terparah pada Kamis (30/1) dan Jumat (31/1). Dalam dua hari tersebut, penurunan tanah semakin signifikan, bahkan mencapai sekitar 50 sentimeter di beberapa titik.

"Hari Kamis kami cek belum terlalu turun, tapi Jumat kami datang lagi sudah beda sekali, turun cukup jauh," kata Maria.

"Kedalaman retakannya itu mungkin bisa sampai 500 meter lebih itu kayaknya ada. Pergeserannya kan tiap-tiap rumah itu juga berbeda-beda," lanjut dia.

Tanah gerak di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, yang berdampak ke 10 rumah dan jalur Jangli-Undip.Tanah gerak di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, yang berdampak ke 10 rumah dan jalur Jangli-Undip. Foto: Dok. BPBD Kota Semarang

Selain rumah warga, jalan penghubung antara Kelurahan Jangli dan kawasan Undip juga tidak bisa dilalui. Warga terpaksa memutar melalui jalur Jangli-Undip yang baru dengan waktu tempuh sekitar 15-20 menit.

"Harus memutar lewat jalur Jangli-Undip yang baru, memang tidak terlalu jauh sih. Tapi kalau biasanya 10 menit sudah sampai Undip, sekarang harus muter jadi sekitar dua kali lipat waktunya, 15-20 menit," ucapnya.

Maria menyebut, tanah di lokasi tersebut memang merupakan aset milik TNI Angkatan Darat. Meski demikian, ia berharap ada perhatian serius dari Pemerintah Kota Semarang untuk keselamatan warga.

"Memang itu tanah milik Angkatan Darat, tapi yang utama kita selamatkan dulu manusianya. Warga sudah tinggal di situ puluhan tahun. Kemarin kami dan warga sudah mengambil gambar dan melapor ke wali kota dan instansi terkait," tuturnya.

"Kemudian sudah ada respons dari BPBD, kami tinggal menunggu kebijakan pemerintah seperti apa. Saya harap jangan lama-lama, karena kasihan mereka juga. Sekarang belum ada perbaikan," sambungnya.

Ia menambahkan, pergerakan tanah masih berpotensi terjadi berdasarkan hasil kajian sementara dari Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah (Jateng). Oleh karena itu, warga diminta tidak berada di dalam rumah saat hujan turun deras.

"Kami sudah sarankan kalau hujan jangan berada di dalam rumah dulu, karena pergerakan tanah ini masih terus berjalan. Jadi saat ini ada yang mengungsi di rumah lain," ujarnya.

"Sepanjang saya menjadi lurah, pergerakan tanah ini baru pertama kali terjadi. Tapi kata warga, pergeseran tanah ini terakhir terjadi 25 tahun yang lalu, kata warga yang sudah tinggal sekitar 50 tahunan," lanjutnya.

Saat dimintai konfirmasi, Kepala BPBD Kota Semarang, Endro P Martanto, membenarkan adanya peristiwa tersebut. Ia menyebut, tanah gerak mengakibatkan 10 rumah dengan 15 KK terdampak.

"Hujan deras dengan intensitas tinggi mengakibatkan tanah gerak di Skip Sapta Marga RT 7 RW 1 Kelurahan Jangli. Ada 10 rumah terdampak, korban jiwa nihil," kata Endro.

BPBD Kota Semarang pun mencatat total kerugian materiel mencapai sekitar Rp 45,7 juta. BPBD bersama Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan pihak kelurahan telah melakukan asesmen serta menyalurkan bantuan kedaruratan berupa terpal, tikar, dan logistik.

"BPBD sudah turun melakukan assessment dan memberikan bantuan darurat. Untuk tindak lanjut perbaikan masih menunggu kebijakan pemerintah," kata Endro.

"Pemicu utamanya curah hujan tinggi. Air hujan meresap ke dalam tanah, menambah beban berat tanah, dan mengurangi ikatan antarpartikel, membuat tanah menjadi lembek dan mudah longsor," lanjutnya.

Ia pun mengimbau warga untuk tetap waspada mengingat prakiraan cuaca menunjukkan potensi hujan sedang hingga lebat yang masih dapat memicu pergerakan tanah lanjutan.




(apl/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads