Bupati Klaten soal Viral Siswi Gagal Masuk Aubade gegara Hijab: Miskomunikasi

Bupati Klaten soal Viral Siswi Gagal Masuk Aubade gegara Hijab: Miskomunikasi

Achmad Hussein Syauqii - detikJateng
Kamis, 28 Agu 2025 19:27 WIB
Jalan di depan SMPN 2 Klaten menuju arah stadion Trikoyo. Foto diunggah Kamis (28/8/2025).
Jalan di depan SMPN 2 Klaten menuju arah stadion Trikoyo. Foto diunggah Kamis (28/8/2025). (Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng)
Klaten -

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten turun tangan mengusut kabar siswi SMPN 2 Klaten yang viral dikabarkan gagal masuk tim aubade karena sekolah menerapkan aturan hijab. Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo menilai masalah terjadi karena miskomunikasi.

"Jadi kemarin saya sama Mas Wakil Bupati mengajak ketua FKUB, kepala Dinas Pendidikan silaturahmi ke SMPN 2, kami langsung ke guru pembimbing aubade, kepala sekolah dan semua komplet ada. Kemudian kami bergeser ke rumah Bu Vita yang anaknya tidak lolos, kami mendengarkan dari dua versi," paparnya di Pemkab Klaten, Kamis (28/8/2025) siang.

Dijelaskan Hamenang, kedua pihak sudah menyampaikan pendapatnya. Dari pendapat pribadinya terjadi kesalahpahaman dalam kejadian tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau dari pendapat pribadi, sekali lagi pendapat pribadi, ini ada kesalahpahaman tapi tidak mengarah ke SARA. Maka berdasar hal tersebut fokus kami sesegera mungkin anak tersebut kembali ke sekolah," kata Hamenang.

ADVERTISEMENT

Menurut Hamenang, jangan sampai hanya kegagalan ikut tim aubade membuat masa depan anak hancur. Posisi saat ini anak tersebut berada di sekolah terbaik di Klaten yaitu SMPN 2.

"Posisi saat ini berada di sekolah terbaik di Klaten yaitu SMPN 2 di kelas IX, sebentar lagi SMA sehingga jangan sampai mengganggu persiapan untuk ke SMA. Terkait dugaan SARA sepenuhnya kami kembalikan ke orang tua," sambung Hamenang.

Pemkab, sebut Hamenang, sudah mencoba melakukan mediasi dan kedua pihak juga sudah mempertemukan kedua pihak dan sudah saling memaafkan. Hal itu harus dilihat dari dua sisi sehingga tidak terbawa opini.

"Harapan kita bersama mari melihat dari kedua sisi, jangan terbawa opini salah satu pihak dan sekali lagi fokus kami agar masa depan anak bisa berlanjut. Di dinas ini juga berproses dengan BKPSDM, apakah akan ada sanksi atau seperti apa," lanjut Hamenang.

"Tentu akan ada evaluasi karena yang menjadi titik permasalahan itu miskomunikasi pemahaman keseragaman itu harus berhijab atau tidak, padahal tidak seperti itu," imbuhnya.

Selengkapnya di halaman berikutnya...

Viral Gagal Masuk Aubade gegara Hijab

Sebelumnya diberitakan, seorang siswi SMP Negeri (SMPN) 2 Klaten berinisial A dikabarkan gagal masuk tim aubade sekolah gegara pihak sekolah terapkan aturan wajib berhijab. Siswi kelas IX yang kebetulan nonmuslim itu dikabarkan trauma. Kabar tersebut diposting akun Instagram @boyolalikita pada Senin (25/8) malam.

"Siswi Beragama Hindu Dari SMPN
2 Klaten Gagal Masuk Tim Aubade
Sekolahnya Karena Pihak Sekolah
Terapkan Aturan Wajib Berhijab.
Kini Siswi Tersebut Trauma dan
Seminggu Mengurung Diri di Karnar," tulis postingan itu sebagaimana dikutip detikJateng, Rabu (27/8/2025) pagi.

Vita, orang tua siswi tersebut, menceritakan kejadian itu berawal dari curhat putrinya yang merasa sedih dan kecewa gagal menjadi tim lomba aubade padahal sudah dirindukan sejak kelas VII. Saat seleksi putrinya tidak lolos aubade dan hanya diberi dua pilihan menjadi official atau kembali ke kelas.

"Dikumpulkan di lapangan itu berjumlah 70 orang, kemudian ditanya dan intinya disampaikan tidak ada diskriminasi apa pun tapi demi keseragaman anak saya hanya diberi dua pilihan, menjadi official atau kembali ke kelas. Anak saya bilang pilih ke kelas daripada ketinggalan pelajaran jika official karena dia itu pasukan GS Garda Satya sekolah, saya tanya lagi alasan kenapa jawabannya ya karena tidak berhijab," terang Vita kepada detikJateng.

Sebab tidak percaya dan mendengarkan keterangan sepihak, sambung Vita, dirinya mengonfirmasi kepada salah satu tim seleksi aubade melalui chat WA. Tim yang bersangkutan memberikan beberapa penjelasan sebagai jawaban.

"Kemudian Pak Aji menjawab: Saya jawab ya bun semoga bisa diterima. Jadi begini bun, untuk aubade ada beberapa kriteria penilaian dr juri
beberapa tahun ini, Kekompakan, keseragaman, kerapian, kesamaan gerak, jumlah peserta. Nah mengacu ini kita dari tahun ke tahun menerapkan hal itu bukan karena saya pribadi beragama yg sama dengan anak2 yg berhijab, cuma karena tuntutan keseragaman kami harus mengambil keputusan itu bun untuk 1 seragam ceweknya bun, Karena tahun kemarin juga kebetulan juga ada GS anak nasrani juga pada akhirnya menjadi official di tim aubade, mereka juga sangat semangat untuk aubade tapi saya tidak mungkin memaksa mereka untuk memakai hijab demi ikut hijab maka dr itu kami tawarkan kembali ke anak2 itu menjadi official karena di tim aubade sendiri bukan hanya 45+5 cadangan saja bun, kami juga ada tim official 3 orang dan 5 PMR yg sepaket harus kerja bareng2 demi lancarnya ketika kegiatan berlangsung. Intinya itu," ungkap Vita.

Setelah itu, kata Vita, dirinya sempat bertanya ke Dinas Pendidikan dan ke beberapa pihak untuk mempertanyakan aturan dan kriteria penilaian yang sebenarnya. Namun kegagalan itu sudah berdampak pada putrinya yang kemudian menjadi pemurung dan mengurung diri.

"Dia nangis, dia murung, dia di kamar. Pada saat penjurian aubade tanggal 17 Agustus anak saya teriak di kamar, histeris, dia teriak karena ada kasus seperti itu kok SMP-nya tetap juara," imbuhnya.

Halaman 2 dari 2
(afn/apu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads