Sejumlah caleg PDIP di Jawa Tengah yang telah yang telah ditetapkan sebagai calon terpilih dalam pemilu terancam batal dilantik. Mereka terimbas sistem komandante stelsel yang diterapkan oleh partainya.
Dalam sistem tersebut membuka peluang caleg yang memperoleh suara besar harus mundur digantikan caleg dengan suara di bawahnya.
Ketua DPC PDIP Solo FX Hadi Rudyatmo tidak ingin mengomentari banyak soal Komandante tersebut. Sebab, Kota Solo tak menerapkan sistem tersebut pada Pileg 2024. Dia menyebut soal caleg yang terpilih sudah diatur dalam undang-undang maupun aturan dari KPU.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"UU bicaranya aturan suara terbanyak, apakah UU ini bisa dikalahkan aturan partai," kata pria yang akrab disapa FX Rudy itu saat ditemui awak media di Taman Sunan Jogo Kali, Solo, Sabtu (1/6/2024).
Dia sendiri mengaku tidak tahu menahu mengenai adanya sejumlah caleg terpilih dari PDIP yang akhirnya harus mundur terimbas sistem komandante.
"Saya tidak ikut Komandante, saya tidak tahu. Untuk pengunduran diri dan sebagainya di komandante saya tidak tahu persis. Kalau menurut aturan KPU suara terbanyak yang dilantik, karena proporsional terbuka," jelasnya.
Dia sendiri mengaku tidak pernah diajak berembuk soal sistem komandante ini oleh partainya. Setahu dia, di Jawa Tengah ini hanya PDIP Solo dan Boyolali yang tidak menerapkan sistem tersebut.
"Kalau tidak menerapkan Komandante tidak ada persoalan apapun. Kalau Solo kan dapil neraka," ujarnya.
"Dibawah 50 persen saya dengernya ikut Komandante, tapi benarnya seperti apa saya gak ngerti. Saya tidak ikut," pungkasnya.
PDIP Jateng Terapkan Komandante
DPD PDIP mengirim surat terkait pengunduran diri enam caleg terpilih DPRD Jateng ke KPU. Bendahara PDIP Jateng Agustina Wilujeng menyebut pengunduran diri para caleg tersebut karena sistem komandante.
Agustina menyatakan enam caleg itu mundur dengan sadar. Sebab, sistem komandante telah diatur dalam peraturan partai.
"Enam caleg terpilih yang mundur dengan sadar karena sistem komandante stelsel yg diatur dalam PP 01 /2023," ujarnya melalui pesan singkat Rabu (29/5/2024).
Dia menyebut para caleg PDIP sudah memahami sistem komandante yang diterapkan di seluruh Jateng. Mereka juga sudah diberikan kesempatan mundur bila keberatan dengan sistem tersebut.
"Pada saat DCS di masukkan ke KPU, mereka telah memahami sistem ini, dan pada kesempatan DCT, mereka juga memiliki kesempatan untuk tidak memenuhi syarat bila keberatan," jelasnya.
Sistem komandante itu disebut diterapkan di seluruh DPRD kota/kabupaten maupun provinsi. Dia mengaku mendengar beberapa caleg yang berkeberatan dengan sistem itu namun, dengan diskusi panjang sistem tersebut akhirnya disepakati.
"Sistem ini berlaku di seluruh Jawa Tengah, baik DPRD kab/kota dan provinsi. Keberatan disampaikan secara lisan dari beberapa caleg, namun setelah diingatkan dalam berbagai diskusi privat melalui banyak pihak, bahwa adanya waktu yang panjang dalam proses mempertahankan penalian, apakah akan dilanjutkan dengan sistem ini rata-rata memahami dan mengikuti prosedur," tambahnya.
Selain 6 caleg terpilih di DPRD Jateng, ada puluhan caleg PDIP di sejumlah kabupaten dan kota di Jateng yang harus mundur terimbas sistem ini. Sebagian dari mereka saat ini masih melakukan perlawanan.
Strategi Komandante PDIP Jateng
Ketua DPC PDIP Wonogiri Joko Sutopo pernah menjelaskan soal sistem komandante. Dia menjelaskan, dalam Pemilu 2024, PDIP memakai sistem pemenangan Komandante stelsel. Sistem ini digunakan untuk menentukan siapa saja yang nantinya terpilih menjadi anggota DPRD.
Ketentuan itu tertuang dalam Peraturan Partai No 1/2023. Aturan itu sudah disosialisasikan kepada para caleg sejak 2022.
Dalam sistem ini, yang dihitung bukanlah suara by name caleg, melainkan akumulasi perolehan suara partai di wilayah binaan alias desa masing-masing. Adapun akumulasi ini di antaranya didapatkan berdasar by name caleg dan suara coblos partai.
Joko menambahkan PDIP memiliki kewenangan untuk menentukan siapa caleg yang akan dilantik. Hal ini tertera dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu.
(ahr/ahr)