Cara unik dilakukan pengurus Madrasah Tsanawiyah (MTs) Pakis, Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, Banyumas, dalam menjaring siswa tahun ajaran baru 2023. Calon siswa cukup membawa hasil bumi yang didapat dari hasil kebun sendiri sebagai persyaratan masuk ke sekolah tersebut.
Kepala MTs Pakis, Isrodin menjelaskan hasil bumi yang dibawa tidak ditentukan jumlah dan jenisnya. Yang terpenting kebijakan tersebut tidak memberatkan orang tua wali.
"Alhamdulillah banyak orang tua anak-anak yang membawakan hasil buminya. Daftar peserta didik baru dengan hasil bumi," kata Isrodin kepada wartawan, Kamis (13/7/2023).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alhasil, berbagai macam hasil bumi dibawa oleh para orang tua wali. Ada yang membawa kelapa empat buah, pisang satu tundun, tales, singkong, dan beras.
"Ada yang bawa pisang, kelapa, beras, labu, singkong dan aneka macam hasil bumi. Ini sebagai ikatan saja. Nanti juga akan kita nikmati bersama," terangnya.
![]() |
Syarat dengan membawa hasil bumi untuk mendaftar bukan tanpa alasan. Sebab sebagian besar wali murid yang hidup di lereng selatan Gunung Slamet tersebut berprofesi sebagai petani dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah.
"Sebenarnya yang paling substansial adalah di dunia pendidikan kita bahwa ketika persoalan pendidikan yang mahal menjadi masalah bagi masyarakat sekitar. Tapi bagi kita bagaimana mencoba menghadirkan solusi. Uang bukan segalanya, yang penting anak-anak punya semangat untuk sekolah," jelasnya.
Dengan hasil bumi ini menurutnya sebagai ikatan. Bahwa metode pembelajaran di MTs Pakis salah satunya dunia agroforestri. Nantinya anak-anak akan diajarkan dunia pertanian, peternakan, dan kehutanan serta pendidikan keagamaan dan pengetahuan umum.
"Selain pendidikan akademik yang dipelajari, nanti anak-anak lebih belajar tentang hidup dan kehidupan. Jangan sampai anak desa tidak bisa bertani," ungkapnya.
![]() |
Pada tahun ajaran kali ini, MTs Pakis menerima 8 siswa baru. MTs tersebut hingga tahun ini memasuki tahun yang ke 11 sejak berdiri.
"Kalau total siswa dari kelas 1 sampai 3 ada 22 murid. Mereka merupakan warga sekitar yang merupakan anak petani. Proses belajar akan dimulai tanggal 17 Juli besok," ujarnya.
Selengkapnya di halaman berikutnya....
Sementara itu salah satu wali murid, warga Grumbul Karanggondang, Suwarsiti (68) mengatakan, tidak merasa keberatan dengan hasil bumi yang menjadi syarat untuk mendaftar. Sebab, ia cukup memetik tales di halaman rumahnya yang berjarak sekitar 2,5 km dari sekolah tersebut.
"Sangat meringankan tentunya. Ini saya daftarkan cucu saya. Dia kepengin sekolah yang dekat saja. Sebab kalau yang jauh tidak mampu dan harus keluar biaya lagi. Nggak ada kendaraan juga. Tadi saya ke sini saja jalan kaki sekitar setengah jam," katanya.
Kebijakan tanpa mengeluarkan biaya tentunya sangat membantu Suwarsiti. Sebab penghasilannya yang bekerja sebagai petani hanya mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
"Di sini gratis. Tidak dipungut biaya apa-apa. Kepenginnya cucu saya juga. Katanya dia bercita-cita jadi dokter mata. Karena matanya minus biar bisa bantu orang," pungkasnya.