Di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah (Jateng) terdapat sebuah dukuh yang percaya terhadap larangan mendengarkan nyanyian sinden. Dukuh itu bernama Dukuh Singomodo, Desa Kandangsapi, Jenar, Sragen. Bahkan, tradisi ini sudah dipegang oleh warga di dukuh tersebut secara turun temurun. Berikut 7 fakta Dukuh Singomodo dan kepercayaan pada pantangan mendengarkan nyanyian sinden.
1. Tidak Punya Radio dan Televisi
Warga di Dukuh Singomodo sangat percaya mereka dilarang mendengar nyanyian sinden. Kepercayaan itulah yang kemudian membuat warga di dukuh tersebut hingga kini memilih tak memiliki televisi maupun radio.
Sekelompok warga yang masih menjaga kepercayaan tersebut ada di RT 5. Memang tidak semuanya, tapi kebanyakan dari warga yang tak punya TV dan radio tinggal di dekat makam Singomodo.
"Kepercayaan itu masih dipegang erat oleh warga. Tidak ada yang memiliki televisi maupun radio, terutama yang rumahnya di dekat makam. Mereka khawatir jika nanti keputar lagu sinden," kata Kepala Desa (Kades) Kandangsapi, Pandu, kepada detikJateng belum lama ini.
2. Kepercayaan Sejak Nenek Moyang
Sesepuh Desa Kandangsapi, Sukarno (65) alasan warga tak mau memiliki TV karena takut jika tak sengaja memutar nyanyian sinden.
"Tape radio kalau diputar klenengan Jawa, ada sindennya tidak boleh. Kalau kasidah hadroh, masih bisa," ucapnya.
Dia menuturkan, tradisi itu sudah dipegang teguh dari nenek moyang. Hal ini tak terlepas dari kisah Syekh Nasher atau Eyang Singomodo, yang merupakan tokoh agama, yang menyebarkan Islam di Desa Kandang Sapi.
"Tradisi itu sudah ada sejak turun-temurun. Jadi oleh sesepuh desa kami tidak boleh. Pernah dibilang untuk menolak bala," pungkasnya.
3. Kisah Syekh Nasher
Sukarno menuturkan, tradisi itu tak terlepas dari kisah Syekh Nasher atau Eyang Singomodo, yang merupakan tokoh agama, yang menyebarkan Islam di Desa Kandang Sapi.
Sehingga warga yang paling erat memegang kepercayaan larangan di atas yakni yang bertempat tinggal di dekat makam Syekh Nasher. Makam Syekh Nasher hingga kini masih kerap didatangi peziarah.
"Tradisi itu sudah ada sejak turun-temurun. Jadi oleh sesepuh desa kami tidak boleh. Pernah dibilang untuk menolak bala," pungkasnya.
4. Muncul Kejadian Aneh Dilanggar
Sejumlah kejadian aneh dipercaya menimpa masyarakat yang melanggar pantangan mendengar nyanyian sinden. Pantangan ini dipercaya berlaku terutama di kawasan makam Syekh Nasher atau Eyang Singomodo.
Tokoh Masyarakat Desa Kandangsapi, Muhammad Samsul Qomarudin, mengatakan masyarakat di kawasan makam Syekh Nasher takut memiliki TV maupun radio.
"Pernah ada kejadian ada warga memutar langgam Jawa. Dia tiba-tiba hilang, sekaligus radionya. Itu kejadian pada tahun 1990-an," katanya kepada detikJateng beberapa waktu lalu.
Samsul mengatakan warga tersebut hingga saat ini belum kembali, meski sudah dicari ke mana-mana. Bahkan, warga setempat tidak bisa menjelaskan bagaimana orang tersebut beserta radionya hilang.
Kejadian terbaru, lanjut Samsul menimpa rombongan peziarah dari Purwodadi. Rombongan yang tiba di Singomodo itu lalu naik ke atas ke makam Syekh Nasher untuk berziarah.
Namun sang sopir menunggu di dalam mobil. Tanpa mengetahui adanya pantangan, sopir itu memutar musik Jawa di dalam mobilnya sambil menunggu peziarah turun.
"Saat perjalanan pulang, empat ban mobil itu kempes semua. Untung saja tidak sampai terjadi kecelakaan," ujarnya.
Baca Ragam Pantangan Lainnya di halaman berikutnya...
Simak Video "Video: Kecelakaan Karambol di Tol Gayamsari Semarang, 8 Orang Terluka"
(apl/apl)