Diduga Lakukan Pelecehan Seksual, Pengurus BEM KM Untidar Dipecat

Diduga Lakukan Pelecehan Seksual, Pengurus BEM KM Untidar Dipecat

Eko Susanto - detikJateng
Rabu, 05 Okt 2022 21:53 WIB
Kampus Universitas Tidar (Untidar), Magelang, Rabu (5/10/2022) malam.
Kampus Universitas Tidar (Untidar), Magelang, Rabu (5/10/2022) malam. Foto: Eko Susanto/detikJateng
Kota Magelang -

Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) Universitas Tidar memberhentikan secara tidak hormat terhadap salah satu pengurusnya yang berinisial ME. Staf Departemen Dalam Negeri BEM KM Untidar itu diduga melakukan pelecehan seksual terhadap dua mahasiswa laki-laki saat mereka tidur, Jumat (19/8) lalu.

"Kronologinya pada Agustus kejadiannya, di salah satu tempat saat dini hari. Kemudian, dari pelaku melakukan kekerasan seksual, termasuk pelecehan seksual," kata Ketua BEM KM Untidar, Teddy Firmansyah, kepada wartawan di kampus Untidar, Rabu (5/10/2022).

Teddy mengatakan, Forkes (Forum Kesetaraan) BEM KM telah menyelidiki kejadian tersebut. Korban awalnya melaporkan kejadian yang dialami ke pihak universitas. Kemudian, pihak universitas meneruskan kepada BEM KM.

"Awalnya (korban) mengadu ke pihak universitas karena korbannya kan dari luar (universitas lain). Maka pihak universitas meneruskan ke saya untuk segera ditindaklanjuti. Saya yang mengkoordinasikan dan menindaklanjuti di BEM KM sampai ke depannya," ujar Teddy.


Ditemui terpisah, Wakil Rektor III (Bidang Kemahasiswaan dan Alumni) Untidar, Prof Sugiyarto mengatakan istilah kekerasan seksual tersebut tidak ada.

"Kalau sampai istilahnya kekerasan seksual nggak ada. Mungkin ada penyimpangan, ada. Artinya ada kasus ketidaknyamanan dari mahasiswa (menyebut nama universitas) datang ke sini dijemput mahasiswa atas nama BEM, salah satunya. Mendapat perlakuan yang tidak nyaman. Sampai istilahnya perlakuan kekerasan seksual, tapi nggak sampai situ. Memang ada (penyimpangan)," kata Sugiyarto.

Sugiyarto mengatakan, kedua korban sudah dibawa ke psikolog dan kondisinya sudah tenang.

"Dari segi organisasi karena dia (pelaku) menjemput atas nama BEM, ya diselesaikan di ranah organisasi mahasiswa. Istilahnya memberhentikan yang bersangkutan dari organisasi BEM," tuturnya.

Sugiyarto menambahkan, kedua mahasiswa dari universitas yang jadi korban itu mengikuti program studi di Untidar.

"Inisiatif dijemput supaya kita carikan kos. Kita kenalkan kampusnya. BEM menugaskan si anak ini (pelaku) supaya menjemput dan mencarikan tempat kosnya. Dialah pas penjemputan itu ada penyimpangan dari perlakuan yang tidak nyaman tadi," ungkap Sugiyarto.

"Kalau pengakuannya dipeluk sama diraba. Memang agak sulit mengeksplor itu. Ditanya psikolog kan inginnya menutup. Bagi dia sendiri kan suatu aib sebenarnya. Dua mahasiswa yang ke Universitas Tidar dari (menyebut nama kampus) ini sudah kita bawa ke psikolog, sudah kita periksakan, hasilnya traumanya tidak terlalu," pungkasnya.



Simak Video "TransJ Bakal Tambah Armada Bus Pink untuk Cegah Kekerasan Seksual"
[Gambas:Video 20detik]
(dil/ahr)