Pilu Rangga Bocah Klaten yang Mendadak Buta, Mimpi Sekolah Tak Kunjung Tiba

Pilu Rangga Bocah Klaten yang Mendadak Buta, Mimpi Sekolah Tak Kunjung Tiba

Achmad Hussein Syauqi - detikJateng
Kamis, 29 Sep 2022 11:57 WIB
Rangga dan ibunya Umiyatun bermain di depan rumah, Kamis (29/9/2022).
Rangga dan ibunya Umiyatun bermain di depan rumah, Kamis (29/9/2022). (Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng)
Klaten -

Bocah berumur 7 tahun asal Klaten, Jawa Tengah, Rangga Dimas Iskandar tak bisa sekolah usai mengalami kebutaan mendadak. Meski sudah dua kali menjalani operasi mata, bocah ini belum bisa melihat terang dunia.

"Kalau kondisinya alhamdulillah sudah lumayan anteng tapi masih belum bisa melihat. Masih kontrol rutin juga," ungkap ibu Rangga, Umiyatun (33) kepada detikJateng di rumahnya Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo, Kamis (30/9/2022) siang.

Umiyatun menjelaskan sejak anak semata wayangnya mengalami demam dan buta mendadak Februari 2021, dirinya terus berusaha mencarikan pengobatan. Terakhir operasi mata kanan kedua dilakukan, kondisi Rangga masih hiperaktif hingga kembali muncul selaput putih di matanya.


"Baru (mata) yang kanan tapi karena kemarin kondisi masih hiperaktif jadi untuk penyembuhan susah. Akhirnya muncul selaput putih lagi yang menutupi matanya," jelas Umiyatun yang bekerja serabutan merawat Rangga.

Menurut Umiyatun, dirinya terus membawa anaknya ke RS untuk kontrol. Namun sampai kini usahanya belum membuahkan kemajuan anaknya.

"Saya ngerasa kok lama penanganannya, cuma kontral-kontrol tapi gak ada perkembangan. Kadang ngerasa capek juga sudah 1 tahun 8 bulan," ujarnya.

Padahal, lanjut Umiyatun, anaknya ingin segera kembali ke sekolah. Namun impian ke sekolah itu tak kunjung datang.

"Anak juga pengen sekolah tapi saya gak bisa berbuat apa-apa dan apa yang harus saya lakukan saya juga bingung. Rangga harus EEG (rekam listrik otak) lagi dijadwalkan tanggal 7 Oktober besok," papar Umiyatun.

Namun untuk periksa EEG itu, kata dia, anaknya harus mengikuti beberapa terapi. Umiyatun harus membayar sendiri biaya terapi itu.

"Harus terapi perilaku kontrol ke poli tumbuh kembang dan ke poli neurologi anak. Itu semua harus bayar pakai umum, kartu KIS hanya untuk poli mata," imbuh Umiyatun.

Umiyatun sangat berharap ada pihak yang bisa membantu segera kesembuhan anak tunggalnya. Sebab anaknya ingin segera sekolah lagi.

"Saya hanya ingin anak saya pulih dan bisa beraktivitas seperti anak umumnya. Dia pengin segera sekolah tapi bagaimana lagi kondisinya belum bisa," pungkas Umiyatun.

Simak keterangan Kades di halaman selanjutnya...