Sejarah Tokoh Bangsa

Menyerah Dikepung TNI, Eks PM Amir Syarifudin Pincang-Kena Disentri

Tim detikJateng - detikJateng
Kamis, 18 Agu 2022 17:14 WIB
Amir Syarifuddin (Fotocollectie Nationaal Archief RVD via Wikimedia Commons)
Foto: Amir Syarifuddin (Fotocollectie Nationaal Archief RVD via Wikimedia Commons)
Solo -

Setelah tertangkap TNI di Desa Peringan dekat Purwodadi, 28 November 1948, Kolonel Djoko Soedjono mengaku hanya terpisah sekitar 200 meter dari Amir Syarifudin. Pengejaran pun diintensifkan.

Menurut Soe Hok Gie dalam bukunya Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan (Yayasan Bentang Budaya, 1997), tidak jelas apa yang menjadi latar belakang keputusan pimpinan Front Demokrasi Rakyat (FDR) dan laskar-laskar bersenjata membentuk pemerintahan baru di Madiun pada 1948.

Untuk diketahui, FDR dideklarasikan setelah kabinet Perdana Menteri (PM) Amir Syarifudin atau Amir Sjarifuddin digantikan kabinet baru dengan Mohammad Hatta sebagai PM.


Runtuhnya kabinet Amir era Demokrasi Parlementer itu berlatar pada Perjanjian Renville yang merugikan Indonesia. Berkat perjanjian pada 17 Januari 1948 itu, Belanda mencaplok lagi sejumlah wilayah sumber pangan dan hasil alam milik Indonesia. Amir Syarifudin mewakili Indonesia dalam perjanjian di atas kapal perang Amerika itu.

Dalam kata pengantarnya di buku Soe Hok Gie, Ahmad Syafii Ma'arif menuliskan Hatta sebagai yang paling bertanggung jawab terhadap jalannya pemerintahan pada saat genting, tak punya pilihan kecuali segera menumpas FDR di Madiun.

"Keterlambatan berarti akan lebih memudahkan Belanda untuk memukul Republik yang baru berumur tiga tahun," tulis Ahmad Syafii Ma'arif yang semasa hidupnya akrab disapa Buya Syafii itu.

Buya menambahkan, dengan kedatangan Muso, Amir Syarifudin dan pemimpin PKI lainnya telah makin revolusioner. Radikalisasi massa pun tak terbendung. Hatta dituduh sebagai agen imperialis.

"Kalaulah Musso tidak pulang ke tanah air saat itu, boleh jadi Pemberontakan Madiun tidak akan meledak dan pertumpahan darah sesama kita tidak perlu terjadi. Perang saudara pasti meninggalkan luka yang tidak mudah disembuhkan," tulis Buya Syafii (hlm xii).

Setelah Pemberontakan Madiun yang tak mendapat banyak dukungan rakyat itu dapat ditumpas, tak ada pilihan lain bagi Amir Syarifudin dan rekan-rekannya untuk menyelamatkan diri.

Walhasil, Amir yang pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan (1945-1948) dan Perdana Menteri (Juli 1947-Februari 1948), harus menjadi pelarian pada akhir hidupnya.

Kelompok-kelompok Amir dapat bertahan sampai akhir November 1948. Pengembaraan Amir dari Madiun mengitari Gunung Wilis dan Gunung Lawu tiba di daerah Pati dan Purwodadi. Setelah sejumlah rekannya termasuk Kolonel Djoko Soedjono ditangkap TNI, tak lama kemudian Amir menyerahkan diri.

Sebelum menyerahkan diri, Amir sempat mencoba meloloskan diri melalui rawa-rawa dan hutan. "Akhirnya, Amir menyerah kepada pasukan Kemal Idris. Keadaan Amir sudah payah, kurus, dan agak pincang. Ia menderita penyakit disentri," tulis Soe Hok Gie mengutip wawancara Mayjen Kemal Idris di televisi.

Setelah dibawa ke Kudus, Amir dan sejumlah tawanan lain ditahan di Jogja dan akhirnya dieksekusi oleh regu tembak TNI di Kampung Ngaliyan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, pada tengah malam 19 Desember 1948.



Simak Video "Melihat Antusiasme Warga Kulon Progo Pasang Seribu Lampu untuk HUT RI"
[Gambas:Video 20detik]
(dil/mbr)