Hari Terakhir Eks PM Amir Syarifudin Sebelum Dieksekusi TNI di Karanganyar

Tim detikJateng - detikJateng
Senin, 15 Agu 2022 14:57 WIB
Kondisi makam Amir Sjariffoedin dan 10 tokoh PKI lain di TPU Ngaliyan, Karanganyar, Jawa Tengah, Minggu (26/9/2021).
Kondisi makam Amir Sjariffoedin dan 10 tokoh PKI lain di TPU Ngaliyan, Karanganyar, Jawa Tengah, Minggu (26/9/2021). Foto: Andika Tarmy/detikcom
Solo -

Suatu hari di Kudus, akhir November-Desember 1948. Dalam penantian diangkut ke Jogja menggunakan kereta khusus bersama sejumlah tawanan penting lain, Amir Syarifudin meminta sebuah buku kepada Kapten Soeharto, perwira yang mengurusnya saat itu.

Dalam suatu wawancara dengan Soe Hok Gie di Jakarta pada 1967, eks Kapten Soeharto mengatakan waktu itu buku satu-satunya yang dia miliki adalah Romeo and Juliet karangan Shakespeare.

"Menurut Soeharto, Amir membaca buku ini ketika menantikan keberangkatannya ke Jogja. Amir duduk sendiri di kereta api yang sengaja dikosongkan untuknya," tulis Gie dalam skripsinya tahun 1969, yang kemudian dibukukan dengan judul Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan (Yayasan Bentang Budaya, 1997).


Ketika ia sampai di stasiun Jogja, Gie melanjutkan, rakyat berjejal-jejal untuk melihat wajah bekas Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan Republik Indonesia ini. Ia kelihatan tenang melihat rakyat yang berjubel-jubel di stasiun melalui jendela kereta.

Dalam skripsi berjudul asli Simpang Kiri Sebuah Jalan: Kisah Pemberontakan Madiun September 1948 untuk mendapatkan gelar sarjana dari Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, Soe Hok Gie menuliskan Amir Syarifudin adalah bekas Menteri Pertahanan dan anggota Politbiro CC PKI.

Perjuangan Amir Syarifudin

Amir Syarifudin memulai karier dalam Kongres Pemuda II (Oktober 1928) yang mencetuskan Sumpah Pemuda. Kemudian, ia menjadi pengikut Sukarno dalam Partindo (Partai Indonesia) dan akhirnya memimpin Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia).

Pada zaman Jepang ia dipenjarakan karena ikut gerakan bawah tanah. Soe Hok Gie kemudian mengutip Laporan Dari Banaran, kisah pengalaman seorang prajurit selama perang kemerdekaan karya TB Simatupang (1960).

"Mereka yang pernah mengenalnya dari dekat akan tetap memelihara kenang-kenangan kepada seorang manusia yang baik dan peramah, seorang pemikir yang cepat kadang-kadang brilian, seorang orator yang dalam keulungan pidato hanya kalah oleh Bung Karno, seorang pejuang dan pekerja yang tabah dan tidak memikirkan kepentingan dirinya sendiri."

Amir bersama sejumlah rekannya ditahan di penjara Benteng Yogyakarta. Mereka tenang-tenang saja dan tetap menunjukkan kebesarannya. Dari Jogja, mereka kemudian dipindahkan ke Solo.

Tentang 'Malam Eksekusi di Karanganyar', silakan baca di halaman berikutnya...