Amir Syarifudin, Calon Presiden yang Akhirnya Dieksekusi Bangsa Sendiri

Tim detikJateng - detikJateng
Senin, 15 Agu 2022 14:32 WIB
Amir Syarifuddin (Fotocollectie Nationaal Archief RVD via Wikimedia Commons)
Foto: Amir Syarifuddin (Fotocollectie Nationaal Archief RVD via Wikimedia Commons)
Solo -

Sejarah arus utama mencatat Amir Syarifudin sebagai tokoh komunis yang terlibat dalam pemberontakan PKI di Madiun pada 1948. Namun, di balik sejarah kelam tersebut, banyak hal baik yang patut dikenang dari pejuang kemerdekaan sejak zaman pendudukan Jepang itu.

Dalam bukunya yang berjudul Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan (Yayasan Bentang Budaya, 1997), Soe Hok Gie, menuliskan Amir Syarifudin dieksekusi oleh regu tembak di Kampung Ngaliyan, Kelurahan Lalung, Karanganyar, Jawa Tengah, pada 19 Desember 1948.

Mantan perdana menteri RI di era Presiden Soekarno itu dieksekusi bersama 10 tokoh PKI lain dan dimakamkan dalam satu liang lahat. Hingga kini, makam kesebelas orang itu masih ada di Taman Permakaman Umum (TPU) Ngaliyan.


TPU Ngaliyan berjarak tiga kilometer dari kantor Bupati Karanganyar, sekitar 200 meter dari jalan raya penghubung Kabupaten Karanganyar-Wonogiri. Makam Amir Syarifuddin dkk berada di sisi utara. Dari 11 nisan yang berjajar rapi itu, satu di antaranya dibuat dari keramik merah.

Di bawah nisan merah itulah bersemayam jasad Amir Sjarifuddin. Sedangkan 10 makam lainnya hanya terbuat dari semen. Pada 26 September 2021, dikutip dari detikNews, kondisi 11 makam ini tampak tak terawat dan penuh semak belukar.

Namun, kondisi itu sudah terbilang layak dibandingkan 2006 silam. Pada 16 tahun lalu, dikutip dari detikNews, Amir Syarifudin dan 10 rekannya masih dimakamkan di satu liang yang sama. Makam mereka hanya berupa satu gundukan tanah 2 x 8 meter tanpa nisan atau papan nama.

Tentang Amir Syarifudin

Sebelum terlibat dalam Peristiwa Madiun 1948, Amir Syarifudin dikenal sebagai salah satu tokoh empat serangkai yang memimpin republik ini masa zaman revolusi mempertahankan kemerdekaan. Empat serangkai itu Sukarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Amir Syarifudin.

Sebelum Indonesia merdeka, Amir Syarifudin juga dikenal sebagai salah satu pelaku Sumpah Pemuda (Jong Batak) 1928 dan pejuang anti-Jepang. Karena memimpin gerakan bawah tanah, dia pernah ditangkap Jepang dan sempat dijatuhi hukuman mati.

Namun, berkat lobi-lobi dari Sukarno-Hatta, Jepang akhirnya meringankan hukumannya jadi penjara seumur hidup. Setelah Indonesia merdeka, dalam buku Amir Sjafiroeddin: Nasionalisme yang Tersisih karya Yema Siska Purba (PolGov, 2013) disebutkan, masyarakat awalnya bergerak sendiri. Semua bebas, hingga terjadi chaos dan pertempuran di beberapa tempat.

Solusi dari hal tersebut ialah menuntut adanya seorang pemimpin yang memberi komando.

"Sukarno bukanlah orang pertama yang ditunjuk sebagai Presiden RI, melainkan Amir. Yang menjadi kendala, saat itu Amir masih dipenjara dan diperkirakan telah dibunuh Jepang sehingga keberadaannya meragukan," tulis Yema mengutip buku Hesri Setiawan, Negara Madiun: Kesaksian Soemarsono Pelaku Perjuangan.

"Sjahrir adalah calon berikutnya -tetapi ia menolak- sementara Tan Malaka tidak diketahui keberadaannya. Akhirnya, tonggak kepresidenan diserahkan ke tangan Sukarno-Hatta (Yema, 2013:46)".

Tentang Makam Amir Syarifudin

Kepada detikNews pada Minggu (26/9/2021), salah seorang warga Ngaliyan, Sugiarto (69), mengatakan jarang ada orang yang mengunjungi makam Amir Syarifudin.

"Waktu kecil tiap hari angon (menggembala kambing) di sini. Dulu makamnya agak tinggi, tidak seperti ini," kenang Sugiyarto. Saat itu, lanjutnya, bahkan terdapat bangunan rumah kecil di samping 11 makam tersebut. Bangunan tersebut digunakan untuk keluarga dan peziarah yang datang.

Namun pasca-peristiwa G30S/PKI, nisan dan bangunan rumah tersebut dirusak orang. Seluruhnya dirusak hingga rata dengan tanah. "Waktu Gestok (Gerakan 1 Oktober) dirusak sampai rata. Sejak itu terbengkalai," ujarnya.

Baru sekitar 2008 lalu, keluarga Amir Sjarifuddin membangun lagi 11 makam tersebut. Hingga kini, meski tak terurus, kesebelas makam tersebut masih ada di TPU Ngaliyan.



Simak Video "Aksi Penghuni ODGJ Griya PMI Solo saat Fashion Show"
[Gambas:Video 20detik]
(dil/sip)