Kenapa PM Amir Syarifudin Berpaham Komunis? Ini Kata Soe Hok Gie

Tim detikJateng - detikJateng
Selasa, 16 Agu 2022 19:52 WIB
Soe Hok Gie
Soe Hok Gie. Foto: Istimewa
Solo -

Kenapa banyak pejuang kemerdekaan Indonesia, termasuk Amir Syarifudin, dulu disebut berpaham komunis? Sejarawan muda Soe Hok Gie sudah membahas hal ini dalam bukunya Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan. Berikut penjelasannya.

Tentang Eksekusi Amir Syarifudin

Ditulis detikJateng dalam artikel sebelumnya, mantan Perdana Menteri (PM) Amir Syarifudin dan 10 rekannya dieksekusi regu tembak TNI di sebuah desa di Karanganyar Jawa Tengah karena terlibat dalam Peristiwa pemberontakan PKI di Madiun pada September 1948.

Menurut Soe Hok Gie dalam bukunya Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan (Yayasan Bentang Budaya, 1997), berbicara tentang pemberontakan PKI di Madiun 1948 kita harus pula berbicara tentang latar belakang yang telah membentuk tokoh-tokohnya.


Sebab sikap tokoh-tokoh itu, termasuk Amir Syarifudin, dipengaruhi oleh masa lampau mereka di samping pengaruh Komunis Internasional (Komintern) pada masa itu.

Masa Krisis Pemikiran Pemuda

Dalam buku yang diangkat dari skripsi Soe Hok Gie pada 1969 itu dijelaskan bahwa sejak akhir abad ke-19, rakyat Indonesia mulai berkenalan dengan pendidikan Barat. Masuknya pendidikan modern yang dibarengi dengan perubahan zaman nan serba cepat itu menimbulkan 'krisis pemikiran' pada banyak pemuda Indonesia.

Perkenalan dengan ide-ide persamaan, martabat bangsa, dan lain-lain itulah yang menentang para pemuda untuk berpikir lebih maju. Krisis pemikiran pemuda pada awal abad ke-20 itu tercermin dalam biografi pemimpin-pemimpin pergerakan rakyat Indonesia pada tahun-tahun itu.

Soe Hok Gie mencontohkan salah satunya adalah Mas Marco Kartodikromo. Sebagai salah satu kaum terpelajar pada zaman itu, pengetahuan Mas Marco tentang ide-ide politik dunia Barat dikonfrontasikan dengan realitas yang kejam pada masa penjajahan.

"...Di stasiun-stasiun (tempat Bumiputra harus diam menerima makian dan tamparan tuan kulit putih), di pabrik-pabrik (perbedaan upah, dan banyak realitas lainnya" tulis Gie (hlm 4).

Pada saat-saat itulah, Gie menjelaskan, timbul sikap protes yang kuat dan kadang-kadang diwarnai oleh sikap radikal dan anarki yang berlebihan. Apa yang dialami oleh Mas Marco tentu dialami pula oleh tokoh-tokoh lainnya walapun dengan tekanan yang berbeda-beda.

Angin Perubahan Revolusioner

Dalam bab awal bukunya, Tokoh dan Panggung, Soe Hok Gie menyebutkan bahwa segala lapisan masyarakat pada masa itu merasakan embusan angin yang membawa pembaruan-pembaruan. Tiap kelompok menafsirkan 'angin' tersebut dengan pandangannya masing-masing.

"Barang siapa mengibarkan bendera 'revolusioner', akan memperoleh pasar di kalangan kaum radikal, kaum yang menunggu dengan tidak sabar perubahan-perubahan yang mereka harapkan," tulis Soe Hok Gie (hlm 6).

Kaum radikal itu berasal dari segala golongan. Pada masa awalnya, sikap radikal itu tidak memiliki warna ideologis. Gie mencontohkan pada sosok Haji Misbach, pejuang asal Solo yang aktivis Sarekat Islam, kemudian ikut dalam gerakan Indische Partij dan sekaligus ikut PKI.

Di kalangan kaum komunis pada masa sebelum kemerdekaan itu, Gie mengungkapkan, ada banyak tokoh yang secara ideologis sama sekali tidak Marxis-Leninis. Termasuk Mas Marco yang dikenal dengan mistik Kejawennya.

Begitu pula Amir Syarifudin Amir yang lahir di Medan pada 27 Mei 1907. Menurut Mohammad Hatta dalam buku Amir Sjarifoeddin: Nasionalisme yang Tersisih karya Yema Siska Purba (PolGov, 2013), Amir sangat sulit dipahami karena ia seorang komunis tapi juga sosok yang taat beragama.

Menurut Soe Hok Gie, sebagian dari pemimpin PKI yang kemudian muncul dalam Peristiwa Madiun 1948 itu dibesarkan dalam suasana angin perubahan yang membingungkan dan idealisasi revolusioner yang tidak jelas terarah.

"Pandangan-pandangan mereka sering tidak 'Marxis-Leninis'. Lebih banyak merupakan cetusan suara kelompok-kelompok yang menginginkan datangnya pembaruan" tulis Gie (hlm 6).



Simak Video "Melihat Antusiasme Warga Kulon Progo Pasang Seribu Lampu untuk HUT RI"
[Gambas:Video 20detik]
(dil/aku)