Disbud Cek Persembunyian Bupati Klaten Saat Agresi Militer Belanda, Ada Apa?

Achmad Hussein Syauqi - detikJateng
Senin, 15 Agu 2022 18:19 WIB
Rumah bekas persembunyian dan pemerintahan Bupati Klaten 1948 di Desa Japanan, Kecamatan Cawas.
Rumah bekas persembunyian dan pemerintahan Bupati Klaten 1948 di Desa Japanan, Kecamatan Cawas. Foto diambil Sabtu (13/8/2022). (Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng)
Klaten -

Tim Dinas Kebudayaan Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Pemkab Klaten turun mengecek rumah persembunyian Bupati Klaten drg Soedomo semasa perang kemerdekaan 1948-1949. Rumah yang terletak di Desa Japanan Kecamatan Cawas itu sudah ditetapkan sebagai cagar budaya namun belum mendapat perhatian serius dari pemerintah.

"Tadi pagi Disbudporapar bersama camat dan kades telah silaturahmi atau mohon izin sama yang punya rumah lewat video call. Beliau (pemilik rumah) sudah sepuh rumahnya di Jogja," ungkap Kepala Dinas Kebudayaan Pemuda Olahraga dan Pariwisata Pemkab Klaten, Sri Nugroho kepada detikJateng, Senin (15/8/2022) siang.

Nugroho mengucapkan terimakasih atas informasi dan saran masukan dari masyarakat terkait rumah tersebut. Namun tindaklanjutnya masih menunggu koordinasi.


"Ini baru langkah awal. Langkah selanjutnya masih akan kita koordinasikan dengan pihak terkait," jelas Nugroho.

Pendamping Desa Japanan Kecamatan Cawas, Agus Santosa menyatakan tim dinas datang dan mengecek lokasi didampingi Kades dan Camat.

"Betul tadi dari Dinas ke lokasi bersama Pak Kades dan Camat. Mengecek sekaligus memasang spanduk," ungkap Agus.

Selaku pendamping desa, dirinya berharap bangunan bernilai sejarah tersebut bisa dimanfaatkan untuk hal yang positif, meski sekadar upacara HUT kemerdekaan.

"Misalnya untuk upacara HUT kemerdekaan atau untuk kegiatan lainnya. Sebab sudah lama kosong," imbuh Agus.

Sebelumnya diberitakan, rumah persembunyian Bupati Klaten, drg Soedomo dan para pejabat saat berjuang menghadapi Agresi Militer Belanda II tahun 1948 di Desa Japanan, Cawas, Klaten, Jawa Tengah, sudah ditetapkan sebagai warisan cagar budaya. Namun, rumah bersejarah itu belum mendapat perhatian serius dari pemerintah.

"Kita sebenarnya sudah berupaya mengembangkan bahwa rumah itu agar ada nilai sejarahnya. Pak Agus (pendamping desa) sudah menyoundingkan ke Jakarta tapi ternyata susah," ungkap Kades Japanan, Kecamatan Cawas, Eko Puji Sarwono kepada detikJateng di kantornya, Jumat (12/8) siang.

Eko mengatakan untuk pengembang fungsi rumah tersebut, Pemdes sudah berkoordinasi dengan keluarga besar drg Soedomo. Bahkan keluarga sudah membuatkan patung.

"Keluarga sudah membuatkan patung drg Soedomo, ditaruh di dalam rumah. Patung itu sebagai wujud apresiasi, istilahnya nguri-uri (melestarikan) sejarah perjuangan. Kita juga mengumpulkan foto, tujuannya ke arah museum nantinya," jelas Eko.



Simak Video "Belasan Pasangan di Klaten Ikut Nikah Massal, Pengantin Tertua 80 Tahun"
[Gambas:Video 20detik]
(aku/sip)