Kolom Minggu Pagi

Si Miskin

Muchus Budi R. - detikJateng
Minggu, 14 Agu 2022 06:06 WIB
Poster
Ilustrasi (Foto: Edi Wahyono)
Solo -

Si Miskin bukanlah orang yang serba kekurangan, tapi yang selalu merasa kurang. Sedangkan orang kaya bukanlah yang serba berkecukupan, melainkan yang selalu merasa cukup.


Sekitar tahun 1950, Wakil Presiden Muhammad Hatta saat pulang ke kediamannya setelah bertugas, disambut sebuah pertanyaan menohok perasaan dari Rahmi Hatta, sang istri tercinta. Ibu Rahmi bertanya tentang kebijaksanaan Pemerintah melakukan pemotongan harga ORI (Oeang Repoeblik Indonesia) dari 100 menjadi 1. Menurut Rahmi, dampak dari kebijakan itu adalah dia semakin tidak akan mampu membeli mesin jahit yang sudah lama diidamkan dengan uang tabungan yang dia kumpulkan selama ini.

Bung Hatta, ekonom dan politikus yang bijak itu berusaha menghibur istrinya, "Sungguh pun saya bisa percaya kepadamu, tetapi rahasia ini tidak patut dibocorkan kepada siapa pun. Biarlah kita rugi sedikit, demi kepentingan seluruh warga negara. Kita coba menabung lagi."

Masih dari Bung Hatta. Sepanjang hidupnya ternyata dia sangat ingin bisa memiliki sepatu merk Bally, yang amat terkenal pada masa itu. Karena belum mampu membelinya, Sang Wapres menggunting potongan iklan sepatu Bally dari sebuah majalah dan selalu disimpan rapi di buku harian pribadinya.

Betapa mengharukan kisah ini, karena hingga dia menutup mata untuk terakhir kalinya pada bulan Maret 1980, 'impian sederhana' sang proklamator itu tak pernah terwujud. Potongan iklan dari majalah itu masih terus dia simpan hingga akhir hayatnya dan ditemukan oleh salah seorang putrinya ketika membuka-buka buku harian Bung Hatta, beberapa saat setelah beliau wafat.

Tak hanya dari Bung Hatta kita bisa berkaca. Mari kita simak kehidupan Ir Sutami, legenda pembangunan Indonesia. Dipercaya Sukarno dan diandalkan Soeharto, Sutami menjadi menteri di dua era pemerintahan yang saling berseberangan. Ini menunjukkan bahwa dia seorang profesional, bukan bagian dari rezim.

14 tahun menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum (PU), puluhan proyek infrastruktur skala besar diselesaikan, tak sepeserpun dia ingin mengambil untung untuk pribadinya.

Sekedar menyebut beberapa karya besarnya adalah Gedung DPR di Jakarta, Jembatan Semanggi di Jakarta, Waduk Jatiluhur di Jabar, Jembatan Musi di Sumatera Selatan, Bendungan Karangkates di Jatim, Bandara Ngurah Rai di Bali.

Sutami tak tergiur gemerlapnya dunia, hingga dijuluki menteri termiskin dalam sejarah Indonesia. Rumahnya di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, dibeli dengan cara mencicil. Bahkan beberapa kali tercatat telat membayar listrik rumah pribadinya di Solo, hingga PLN mencabut sambungan listrik di rumah itu.

"Politikus bisa berbohong, tetapi sangat mustahil bagi teknisi untuk memanipulasi fakta," kata Sutami.

Dari kawasan yang agak jauh lagi kita pasti mendengar keteladanan dari Mahatma Gandhi, pemimpin pergerakan kemerdekaan India. Tokoh Ahimsa pencetus gerakan Satyagraha dan Swadesi ini bahkan menjahit dan menyulam pakaiannya sendiri yang robek karena dia ingin menjaga kehidupan lebih baik sebagai pribadi mandiri.

Kalau kita memerlukan teladan kekinian, silakan melongok sosok Jose Mujica, Presiden Uruguay periode 2010 hingga 2015. Saat dia menjadi presiden, kekayaan pribadinya tak lebih dari 1,800 AS dollar atau sekitar Rp 25 Juta. Namun demikian Mujica masih mampu menyumbangkan 90 persen dari 12.500 dollar AS gajinya tiap bulan untuk program sosial.

Rumahnya di kawasan pertanian yang minim penjaga. Mobil pribadinya saat menjadi presiden hanyalah Volkswagen Beetle keluaran 1987 dan setiap lawatan kemana pun, dia memilih penerbangan kelas ekonomi.

"Si miskin adalah mereka yang kebutuhannya selalu berlebih sehingga tidak pernah puas. Bumi ini sebenarnya cukup, bahkan berlebih, untuk memberi makan semua penduduk bumi. Namun menjadi tidak cukup untuk memberi makan satu orang yang rakus," kata Mujica.

Sastrawan dan sosiolog kenamaan dari Jawa, R Ng Ronggowasito, pernah menuangkan gagasannya yang amat sangat fenomenal. Dia menyebut sebuah situasi akan datangnya suatu masa yang layak disebut 'jaman edan'. Sebagai seorang pemikir dan sosiolog, dia menuliskan dengan sangat gamblang tentang penyebab datangnya situasi penuh kepanikan dan kebatilan itu.

Pada bait kedua tulisannya dalam 'Serat Kalatidha', Ronggowarsito menulis demikian; "ratune ratu utama, patihe patih linuwih, pra nayaka tyas raharja, panekare becik-becik, paranedene tan dadi, paliyasing kala bendu... (sebenarnya rajanya termasuk raja yang utama, perdana menterinya juga cerdik, kebijakan yang dikeluarkan sangat baik, namun segalanya itu tidak mampu membendung datangnya zaman terkutuk...).

Mengapa demikian? Ronggowarsito telah menyebut sejak awal tentang penyebab utamanya. Di bait pertama dia menulis dengan gamblang; "mangkya darajating praja, kawuryan wus sunyaruri, rurah pangrehing ukara, karana tanpa palupi..." (marwah negara saat ini, sudah semakin merosot. tatanan negara rusak, karena tiada keteladanan...).

Ya, tidak ada keteladanan. Tidak ada satu hati dan tindakan. Bagaimana mungkin bisa berharap situasi lebih baik jika tidak ada yang selaras antara mulut dan hati, terutama pada para pemangku kewajiban pengemban nasib rakyat. Selalu memberikan petuah kebaikan namun di saat sama melakukan kebatilan dan keserakahan karena tenggelam dalam jiwa dan mentalitas yang miskin.


Solo, 14 Agustus 2022


Muchus Budi R adalah wartawan detikcom

--Tulisan ini merupakan pendapat pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi.



Simak Video "Asyiknya Menyusuri Gua Sumitro di Kulon Progo"
[Gambas:Video 20detik]
(mbr/apl)