Di Gedung Ini Sutan Sjahrir Pernah Diculik hingga Dibebaskan Bung Karno

Tim detikJateng - detikJateng
Sabtu, 13 Agu 2022 19:49 WIB
Gedung BI Solo, dipotret pada Jumat (12/8/2022) malam.
Gedung BI Solo, dipotret pada Jumat (12/8/2022) malam. Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikJateng
Solo -

Sebuah sejarah penculikan yang bersejarah terjadi di Indonesia pada 1946. Tidak main-main, korban penculikan saat itu merupakan salah satu orang yang sangat penting. Dia adalah Perdana Menteri pada saat itu, Sutan Sjahrir.

Usia kemerdekaan Republik Indonesia kala itu masih kurang dari setahun. Kondisi pemerintahan maupun politik masih belum stabil. Apalagi, Belanda masih sangat bernafsu untuk bisa kembali lagi menduduki Indonesia dengan membonceng tentara sekutu.

Berbagai cara dilakukan oleh para pejuang pada waktu itu untuk bisa tetap mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta.


Salah satu langkah yang dilakukan adalah dengan memindahkan Ibu Kota RI dari Jakarta menuju Yogyakarta yang dianggap lebih aman. Sejumlah tokoh, seperti Bung Karno, Bung Hatta, hingga Sutan Sjahrir juga memilih berjuang dengan jalur diplomatik.

Di buku berjudul Peristiwa 3 Juli 1946, Yuanda Zara menulis bahwa jalur yang dipilih oleh sejumlah tokoh itu tidak didukung kelompok yang lain. Sebab, ada satu kelompok yang lebih memilih opsi militer untuk mempertahankan kemerdekaan.

Mereka diantaranya adalah Tan Malaka, Iwa Kusuma Sumantri dan Chaerul Saleh. Perbedaan pendapat dua kelompok ini semakin meruncing.

Penculikan Perdana Menteri Sjahrir

Kota Solo menjadi saksi peristiwa meruncingnya perbedaan pendapat kelompok ini. Saat itu, Perdana Menteri Sjahrir bersama rombongannya baru saja melakukan perjalanan ke Jawa Timur.

Mereka lantas berencana untuk bertolak ke Yogyakarta untuk menghadiri sidang kabinet. Namun, mereka memilih untuk singgah di Kota Solo.

Rencananya, mereka hanya ingin singgah sejenak di kota tersebut. Sebagai seorang tokoh dan pejabat, Sjahrir dan rombongannya mendapatkan sambutan yang cukup hangat.

"Sebagai tamu kehormatan, PM Sjahrir dan para koleganya sedianya menginap di sebuah tempat eksklusif, bekas kediaman kepala Javaasche Bank. Penjagaan keamanan dipercayakan kepada polisi militer," tulis Yuanda Zara.

Namun, penjagaan dari Polisi Militer itu ternyata tidak mampu menjamin keamanan Sjahrir. Sebab, penculiknya juga sekelompok tentara yang menolak opsi diplomasi.

Satu jam sebelum tengah malam kelompok itu sudah mulai bergerak. Mayor AK Yusuf bersama kelompoknya yang telah mendapat restu dari Panglima Divisi III Yogyakarta Mayjen Sudarsono menelusup masuk ke gedung Javasche Bank.

Di bawah todongan senjata, Sjahrir yang biasa mendapat julukan Bung Kecil ini digelandang memasuki mobil yang sudah disiapkan. Pejabat itu lantas dibawa dalam sebuah mobil yang dikawal oleh satu mobil lain. Rombongan tersebut bergerak ke daerah Paras, Boyolali yang menjadi lokasi penyekapan.

Penculikan yang terjadi di 27 Juni 1946 ini membuat Sjahrir absen dalam sidang kabinet. Pemerintah saat itu akhirnya menyadari adanya penculikan tersebut.

Dalam jurnal berjudul Peran Mayor Jenderal Sudarsono dalam Peristiwa 3 Juli 1946 di Indonesia yang ditulis Syamsul Setiawan dkk, pemerintah tidak tinggal diam dengan penculikan ini.

Bung Karno dengan cukup serius melakukan pencarian. dia juga mengambil langkah mengambil alih kedudukan Sjahrir sebagai Ketua Dewan Pertahanan.

"Berhoeboeng dengan kedjadian dalam negeri jang membahajakan keselamatan negara dan perdjoeangan kemerdekaan kita, maka kami Presiden Repoeblik Indonesia dengan persetoedjoean kabinet dalam sidangja tanggal 28 Djoeni 1946,mengambil kekoeasaan pemerintahan sepenoeh-penoehnja oentoek sementara waktoe, sampai kembalinja keadaan biasa jang memoengkinkan kabinet dan lain-lain badan resmi bekerdja sebagaimana mestinja," demikian Bung Karno membacakan pengumumannya.

Adapun Sjahrir dan kawan-kawan akhirnya dibebaskan oleh para penculiknya dan dikembalikan ke Istana Presiden di Yogyakarta.

Gedung Javasche Bank Tempat Penculikan Sjahrir

Gedung tempat penculikan Sjahrir dan rombongannya tersebut merupakan bangunan bekas De Javasche Bank (DJB) Agentschap Soerakarta. Bangunan itu dibangun di Kota Solo pada 1867. Kini gedung tersebut menjadi kantor Bank Indonesia Perwakilan Solo yang berada di Jalan Sudirman, Solo.

Dikutip dari laman Javanologi UNS, De Javasche Bank merupakan bank sirkulasi milik pemerintah Hindia Belanda yang bertugas mencetak dan mengedarkan uang.

De Javasche Bank Agentschap Soerakarta merupakan kantor cabang pertama yang bukan berada di wilayah pesisir. Selama ini pendirian kantor cabang DJB selalu berada di wilayah pesisir.

Operasional De Javasche Bank sempat ditutup pada masa pendudukan Jepang. Kemudian, setelah kemerdekaan, gedung ini digunakan untuk Kantor Bank Indonesia Perwakilan Solo.



Simak Video "Dear Warga Bandung, Berikut 2 Lokasi Penukaran Uang Baru Emisi 2022"
[Gambas:Video 20detik]
(ahr/dil)