Hidup Nomaden di Tenda, Pasutri ini Ajak Pemuda Jaga Lingkungan

Angling Adhitya Purbaya, Ria Aldila Putri - detikJateng
Sabtu, 13 Agu 2022 13:30 WIB
Sepasang suami istri asal Kota Semarang Pristiawan (45) dan Dinda Wulandari (33) rela meninggalkan hiruk pikuk khidupan kota. Mereka memilih tinggal di tenda dan berpindah dari satu desa ke desa lainnya.
Sepasang suami istri asal Kota Semarang Pristiawan (45) dan Dinda Wulandari (33) rela meninggalkan hiruk pikuk khidupan kota. Mereka memilih tinggal di tenda dan berpindah dari satu desa ke desa lainnya. Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikJateng.
Semarang -

Sepasang suami istri asal Kota Semarang, Pristiawan (45) dan Dinda Wulandari (33), rela meninggalkan hiruk pikuk kehidupan kota. Mereka memilih tinggal di tenda dan berpindah dari satu desa ke desa lainnya.

Aktivis lingkungan itu tidak asal kemah, mereka juga memberikan edukasi kepada warga sekitar di tempat mereka tinggal.

Sudah beberapa pekan mereka menetap di Dusun Salaran di kaki Gunung Telomoyo, Getasan Kabupaten Semarang. Terlihat tiga tenda berdiri tidak jauh dari lapangan Dusun Salaran. Tenda-tenda itu punya fungsi masing-masing yaitu tempat istirahat, menjamu teman-teman aktivis yang datang, dan juga dapur.


Saat ditemui detikJateng, Pristiawan duduk lesehan di samping tenda sambil memotongi bambu untuk dibuat rangka lampion bentuk huruf. Sementara istrinya berkutat di tenda dapur. Kondisi fisik Pristiawan memang tidak sempurna, kaki kanannya diamputasi akibat kecelakaan. Namun dia punya tekad untuk menebar pengetahuan lingkungan yang ia ketahui dengan cara hidup nomaden.

"Jadi kami memang pindah-pindah dari satu kota ke yang lain dari desa ke yang lain. Kami belajar bagaimana menerapkan gaya hidup yang ramah lingkungan, meminimalisir jejak ekologi, jejak karbon yang disebabkan oleh aktivitas kehidupan sehari-hari," ujarnya saat ditemui detikjateng di tenda miliknya, Senin (8/8).

Sepasang suami istri asal Kota Semarang Pristiawan (45) dan Dinda Wulandari (33) rela meninggalkan hiruk pikuk khidupan kota. Mereka memilih tinggal di tenda dan berpindah dari satu desa ke desa lainnya.Sepasang suami istri asal Kota Semarang Pristiawan (45) dan Dinda Wulandari (33) rela meninggalkan hiruk pikuk khidupan kota. Mereka memilih tinggal di tenda dan berpindah dari satu desa ke desa lainnya. Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikJateng

Hal yang mendorong Pristiawan yaitu karena banyak generasi muda di pedesaan yang berbatasan langsung dengan hutan tapi tidak tahu cara melestarikan alam. Bahkan banyak yang sudah tidak mengenal beragam jenis pohon hingga kikuk saat diminta mencangkul.

"Kemarin itu pemuda di sini saya tanya jenis pohon dan tanaman di sekitar sini banyak yang tidak tahu. Kemudian waktu diminta mencangkul juga ternyata aneh cara pegang cangkulnya. Namun di beberapa desa masih banyak juga yang generasi mudanya masih terampil seperti waktu saya ada di sekitar Merapi," ujarnya.

Fenomena itu menurut Pristiawan tidak lepas dari perkembangan teknologi dan juga gaya hidup. Anak-anak dan pemuda desa banyak yang sibuk dengan gawai, kemudian ketika akhir pekan melancong ke kota atau tempat tongkrongan lain.

"Ya salah satunya pada main game dengan handphone. Main di luar juga jarang. Bahkan kita pernah gelar workshop mainan tradisional ternyata banyak yang tidak tahu, ini di desa lho. Contoh, Gobak Sodor (permainan tradisional di Jateng) tidak tahu," tegasnya.

Hal-hal semacam itulah yang membuat Pristiawan dan para aktivis lingkungan bergerak, karena masyarakat terdekatlah yang bisa menjaga lingkungan sekitar. Akan ada banyak kegiatan yang sudah dirancang salah satunya Festival Forest Art Camp. Anak-anak di desa tersebut juga dikenalkan tarian tradisional dan akan tampil di sana.

Sepasang suami istri asal Kota Semarang Pristiawan (45) dan Dinda Wulandari (33) rela meninggalkan hiruk pikuk khidupan kota. Mereka memilih tinggal di tenda dan berpindah dari satu desa ke desa lainnya.Sepasang suami istri asal Kota Semarang Pristiawan (45) dan Dinda Wulandari (33) rela meninggalkan hiruk pikuk khidupan kota. Mereka memilih tinggal di tenda dan berpindah dari satu desa ke desa lainnya. Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikJateng

"Kita akan melakukan kegiatan workshop pengelolaan sampah, merajut. Lalu festival forest art camp, pasar rakyat, pertunjukan seni budaya. Di pasar rakyat nanti ada konsep kembali ke makanan leluhur, minim sampah plastik, menggunakan daun, jadi itu malah bisa lebih meminimalisir sampah. Ketimbang pengelolaan sampah yang berbelit-belit lebih penting jika masyarakat dapat kembali ke kebiasaan organik," jelasnya.

Pristiawan juga menyoroti pengembangan industri pariwisata di Gunung Telomoyo. Menurutnya pembangunan ini mengancam kelestarian hutan dan sumber air yang ada di sekitar gunung.

"Padahal keberadaan hutan Telomoyo ini sangat berpengaruh dengan keberadaan Rawa Pening hari ini. Ini semuanya kan berkaitan, ada sekitar 14 aliran sungai yang ada di Telomoyo yang bermuara di Rawa Pening. Ketika di sini sering terjadi erosi dan longsor imbasnya ya di bawah sana. Kalau di daerah atas ini nggak ada organisir tentang gimana masyarakat harus merawat, menjaga hutan," imbuhnya.

Ia juga menyoroti pembangunan industri wisata yang jor-joran ada di sisi gunung bagian Barat. Bahkan betonisasi atau pembangunan juga telah mencapai wilayah Pager Gedog. Jika tidak diperhatikan, dikhawatirkan bisa rawan longsor.

Berita selengkapnya baca di halaman selanjutnya...