Hari Konservasi Alam Nasional, Ini 6 Konsep dalam Islam Sejak Abad 17

Tim detikJateng - detikJateng
Rabu, 10 Agu 2022 17:37 WIB
Sejumlah peserta menanam bibit pohon di atas lahan gambut dalam program pelestarian lingkungan di Resort Habaring Hurung, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Senin (8/8/2022). Aksi penanaman 200 bibit pohon yang diinisiasi oleh Balai Taman Nasional Sebangau bersama Borneo Nature Foundation (BNF) tersebut sebagai upaya mendukung pemulihan ekosistem di kawasan konservasi perlindungan orangutan dan tanah gambut serta menyambut Hari Konservasi Alam Nasional 2022. ANTARA FOTO/Makna Zaezar/aww.
Sejumlah siswa menanam bibit pohon di atas lahan gambut dalam program pelestarian lingkungan di Resort Habaring Hurung, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Senin (8/8/2022). Foto: ANTARA FOTO/Makna Zaezar
Solo -

Hari Konservasi Alam Nasional atau HKAN adalah salah satu hari peringatan lingkungan hidup yang ada di Indonesia. Hari Konservasi Alam Nasional ditetapkan oleh Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono, pada 10 Agustus 2009. Apa itu konservasi alam dan bagaimana menurut ajaran Islam? Berikut penjelasannya.

Dikutip dari buku Konservasi Alam Dalam Islam karya Fachruddin M Mangunjaya (Yayasan Obor Indonesia, 2015), Islam sudah mengamalkan pelestarian sejak awal perkembangannya, jauh sebelum konsep pelestarian alam dikenal dunia.

Di saat masyarakat modern masih mencari-cari bentuk untuk menerapkan konsep pelestarian alam, Fachruddin menuliskan bahwa gerakan konservasi alam dalam Islam sudah dimulai sejak abad ke-17.


Berikut adalah konsep sekaligus praktik konservasi Islam sejak zaman Nabi, Khulafa ar-Rasyiddin, sampai hari ini di beberapa negara Timur Tengah dan Afrika.

1. Harim

Harim merupakan lahan atau kawasan yang sengaja dilindungi untuk melestarikan sumber-sumber air. Harim dapat dimiliki atau dicadangkan oleh perorangan atau kelompok di sebuah daerah yang mereka miliki. Jadi harim adalah gabungan antara dua kawasan, yaitu yang telah digarap (ihya) dan yang tidak digarap (al-mawat).

Sebagai istilah, Fachruddin menjelaskan, harim berarti lahan yang terlarang untuk dibudidayakan kecuali dengan alasan khusus. Biasanya, harim terbentuk bersamaan dengan keberadaan ladang dan persawahan. Luasan harim berbeda-beda, biasanya tidak terlalu luas (hlm 102).

2. Ihya al-Mawat

Menghidupkan tanah yang mati (ihya al-mawat) merupakan salah satu khazanah hukum Islam yang juga dijumpai dalam syariat. sebagai istilah, Ihya al-Mawat berarti menghidupkan atau mengurus lahan yang terlantar menjadi produktif dan mendatangkan manfaat lebih banyak bagi manusia, spesies dan lingkungan (hlm 91).

3. Haqq al-Irtifaq

Haqq al-Irtifaq mengandung pengertian hak untuk menarik garis batas dengan lahan dan bangunan tetangga dan hak atas jasanya. Misalnya, hak yang memberi akses melalui tempat orang lain. Menurut Fachruddin, salah satu rujukan lama untuk hak ini dijumpai pada kitab Mukhtasar yang ditulis Khalil.

Tiga konsep konservasi alam lainnya silakan baca di halaman selanjutnya...