Eks Gedung SI Semarang, Tempat Bung Karno Berpidato Garang-Muncul Nama PKI

Angling Adhitya Purbaya - detikJateng
Minggu, 07 Agu 2022 15:45 WIB
Eks Gedung SI di Semarang, Kamis (4/8/2022).
Eks Gedung SI di Semarang, Kamis (4/8/2022). Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikJateng
Semarang -

Sebuah bangunan bergaya lama di Kampung Gendong Utara, Semarang Timur, Kota Semarang, Jawa Tengah, menjadi saksi bisu berbagai peristiwa bersejarah. Mulai dari pidato Bung Karno hingga tercetusnya nama PKI (Partai Komunis Indonesia).

Bangunan itu berada di tengah permukiman padat, saat detikJateng berkunjung ke sana, sejumlah warga dan mahasiswa yang melakukan KKN sedang bersih-bersih. Meski dulu sempat nyaris roboh, bangunan yang dikenal sebagai Gedung Sarekat Islam (SI) kini masih dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan.

Gedung SI terdiri dari satu ruangan luas dengan sejumlah pilar kayu Jati yang menyangga. Tepat di bagian tengah ada cekungan sekitar 30 cm dan di dalamnya ada susunan tegel berbentuk huruf S dan I.


Berdirinya Gedung SI

Siapa sangka bangunan itu sudah berusia 102 tahun sejak selesai dibangun tahun 1920. Pelopor berdirinya gedung SI adalah Semaoen yang saat itu menjabat ketua serikat buruh kereta api dan trem (VSTP) dan juga Ketua Sarekat Islam Indonesia.

"Semaoen mencetuskan. Ia sebagai ketua Sarekat Islam Semarang, hijrah dari Surabaya ke Semarang, dia lihat tidak ada gedung yang representatif untuk pertemuan kaum pergerakan. Orang pergerakan harus sewa gedung kalau mau pertemuan, padahal punya Belanda dan Tionghoa, pasti mahal. Maka terpikir harus punya gedung, tapi tidak ada modal. Kebetulan Komisaris SI, haji Busro punya lahan 1.300 m2, mewakafkan tanahnya. Dibangun dijadikan gedung pusat pergerakan rakyat Semarang," jelas pegiat sejarah Semarang, Rukardi, Kamis (4/8/2022).

Semaoen menggagas bangunan untuk pertemuan pada tahun 1918. Setelah mendapatkan tanah wakaf, banyak pihak mulai iuran untuk membangun gedung tersebut. Iuran tidak hanya uang tapi juga bahan bangunan. Banyak donatur yang mendukung pembangunan gedung itu bahkan termasuk tokoh pergerakan berdarah Tionghoa, Lie Eng Hok.

"Jadi tidak hanya uang, ada barang dan bahan bangunan. Kalau kita lihat ini (menunjuk pilar), konteks zaman itu ini kualitas rendah, besarnya juga tidak sama. Arsitektur bangunan ini adalah orang pribumi asal Kudus yaitu Sutrisno. Desainnya tanpa biaya karena ini untuk pergerakan," ujarnya.

Tahun 1920 bangunan itu diresmikan dan Semaoen dalam pidatonya menegaskan gedung tersebut digunakan bersama dan bukan hanya milik SI dan dulu namanya adalah Gedung Rakyat Indonesia.

"Waktu itu dalam pidato peresmian Semaoen menegaskan gedung itu adalah gedung dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Ini faktual karena hasil iuran berbagai elemen, ada Budi Utomo, SI, Partindo, dan lain sebagainya," lanjut Rukardi.

Eks Gedung SI di Semarang, Kamis (4/8/2022).Eks Gedung SI di Semarang, Kamis (4/8/2022). Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikJateng

Soal tulisan SI di tengah ruangan, Rukardi menemukan catatan unik soal itu karena ternyata merupakan 'kecelakaan'. Saat diresmikan, bangunan belum benar-benar rampung karena alasnya masih tanah. Sembari digunakan, pemasangan lantai dilakukan oleh pekerja. Kemudian pekerja itulah yang berinisiatif membuat tulisan SI, padahal gedung itu milik bersama, bukan hanya Sarekat Islam.

"Saya menemukan memoarnya, ini menurut kesaksian aktivis tahun 20-an. Tulisan SI ini ternyata 'kecelakaan'. Ada tukang berinisiatif membuat inisial SI. Kemudian setelah gedung jadi ada komite pengelola gedung diketuai oleh Darsono, gimana ini sudah terlanjur, tapi kemudian tidak dipermasalahkan karena daripada bongkar maka dibiarkan saja," katanya.

Halaman selanjutnya, tempat Bung Karno berpidato garang...