Kisah Penerbangan Pertama TNI AU oleh Adisutjipto di Maguwo Jogja

Tim detikJateng - detikJateng
Jumat, 29 Jul 2022 10:58 WIB
Teatrikal mengenang aksi pemboman pertama TNI AU
Teatrikal mengenang aksi pemboman pertama TNI AU. Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJateng
Jogja -

Penerbangan pertama TNI AU terjadi pada 27 Oktober di Maguwo, Jogja. Pesawat Cureng itu diterbangkan oleh Agustinus Adisutjipto pada pukul 10.00. Berikut kisah sibuknya persiapan menerbangkan pesawat beridentitas Merah Putih untuk yang pertama kalinya setelah Indonesia merdeka itu.

Dalam buku Sejarah TNI Angkatan Udara Jilid I (1945-1949) disebutkan, Jepang meninggalkan bermacam jenis pesawat di Indonesia setelah dikalahkan oleh Sekutu. Pesawat tinggalan Jepang itu di antaranya pesawat pengintai (Nakajima), pemburu (Hayabusha dan Sansikisin), pesawat latih (Nishikoreng, Cukiu, Cureng), pesawat transport, dan lain sebagainya.

Namun, hampir semua pesawat itu dalam kondisi tak terawat. Hanya pesawat jenis Cureng dan Cukiu yang sering digunakan untuk keperluan operasi penerbangan. Beberapa teknisi asli Indonesia yang sebelumnya memperoleh pendidikan di Minarioko Bandung dan Singapura punya jasa besar dalam mempersiapkan pesawat-pesawat peninggalan Jepang itu.


Untuk diketahui, sebelum Jepang menduduki Indonesia, sudah ada sepuluh pemuda yang mengikuti pendidikan perwira penerbang di Militaire Luchvaart (ML) pada masa kolonial Belanda. Lima pemuda di antaranya memperoleh Brevet sebagai penerbang. Dari lima pemuda itu, dua di antaranya mendapatkan Groot Militaire Brevet atau Wing Besar untuk Latih Lanjut.

Namun, dalam buku yang diterbitkan Subdisjarah Diswatpersau (2004) itu disebutkan hanya A Adisutjipto yang kembali ke kota asalnya di Salatiga dan bekerja di bidang perhubungan angkutan darat Jepang (Jidosya Jimukyoku). Adapun pemegang Wing Besar satunya lagi, Sambudjo Hurip, gugur pada 19 Januari 1942 saat pesawat pembom B-10 Glenn Martin yang diterbangkannya tertembak jatuh dan terbakar di Selat Malaka.

Masa Awal Indonesia Merdeka

Setelah Indonesia merdeka, dibentuklah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945. Tak lama kemudian, dibentuk pula TKR Djawatan Penerbangan untuk bidang usaha pertahanan matra udara. Para penerbang Indonesia yang ada di Jawa pun dihubungi, termasuk A Adisutjipto yang ditugaskan untuk mengurus penerbangan di Jogja.

Misi utama saat itu ialah memperbaiki pesawat-pesawat peninggalan Jepang agar dapat mengudara kembali. Seperti lapangan-lapangan udara lainnya, Pangkalan Udara Maguwo (sekarang Lanud Adisutjipto Jogja) juga memiliki sekitar 70 pesawat.

Pada medio Oktober 1945, sekitar 30 tenaga penerbang yang sudah terkumpul mulai memperbaiki pesawat-pesawat di Maguwo. Sebagian besar pesawat itu jenis Cureng dan sudah diberi identitas Merah Putih di badannya.

Tapi hanya tiga pesawat yang dalam kondisi lengkap dan butuh sedikit perbaikan. Pada 26 Oktober 1945, tiga pesawat Cureng itu diperiksa oleh para teknisi di bawah pimpinan Basyir Surja.

Sementara itu, di Jogja sedang dilakukan persiapan Kongres Pemuda Seluruh Indonesia. Kongres itu untuk merapatkan barisan dalam menghadapi Sekutu, khususnya Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia. Rapat raksasa di Jogja yang dihadiri utusan daerah-daerah itu diselenggarakan pada 28 Oktober 1945.

Sehari sebelum rapat raksasa itu dilaksanakan, yaitu pada 27 Oktober 1945, Adisujtipto berhasil menerbangkan salah satu dari tiga pesawat Cureng yang telah diperbaiki di Maguwo. Kabar ihwal penerbangan pesawat pertama yang beridentitas Merah Putih oleh pilot asli Indonesia itu pun semakin membakar semangat para peserta Kongres Pemuda keesokan harinya.

Untuk mengenang jasa para perintis TNI AU pada masa awal kemerdekaan itulah, tanggal 27 Oktober diperingati sebagai Hari Penerbangan.



Simak Video "Penampakan Terkini Sesaat Setelah Pesawat Latih Jatuh di Blora"
[Gambas:Video 20detik]
(dil/rih)