Singgah Purwokerto, 3 Pria Lumajang Jalan Kaki Ingin Mengadu ke Jokowi

Vandi Romadhon - detikJateng
Jumat, 01 Jul 2022 15:50 WIB
Tiga pria warga Lumajang nekat jalan kaki ingin bertemu Jokowi di Jakarta. Mereka singgah di Purwokerto, Jumat (1/7/2022).
Tiga pria warga Lumajang nekat jalan kaki ingin bertemu Jokowi di Jakarta. Mereka singgah di Purwokerto, Jumat (1/7/2022). Foto: Vandi Romadhon/detikJateng
Banyumas -

Tiga orang warga Sumberwuluh, Candipuro, Lumajang, nekat melakukan aksi jalan kaki dari daerah asalnya untuk menemui Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Jakarta. Aksi itu bertujuan untuk mengadukan nasib korban erupsi Gunung Semeru yang disebut mereka mendapat ketidakadilan.

Adalah Nor Holik (41), Masbud (36), dan Supangat (52), yang telah berjalan kaki selama 10 hari untuk singgah di Alun-alun Purwokerto, Banyumas, Jumat (1/7/2022). Mereka mengatasnamakan diri sebagai Paguyuban Peduli Erupsi Semeru.

"Perjalanan mulai hari Selasa (21/6), kalau dulu saya target 25 hari (sampai) karena badannya sudah tak tentu, nanti semoga sesuai perkiraan," kata Supangat saat beristirahat di Alun-alun Purwokerto, ditemui detikJateng.


Perjalanan panjang yang dipilih mereka itu menurutnya sebagai bentuk protes. Karena selama ini, menurutnya, ada ketidakadilan yang dirasakan oleh warga desanya yakni tidak mendapatkan solusi yang memuaskan dari pemerintah setempat.

"Kami ingin minta keadilan wilayah Dusun Kamar Kajang yang selama ini tidak mendapat perhatian dari pemerintah Lumajang, dulu saya mengadukan ke polsek tapi jawabannya bukan kewenangan polsek, lalu saya disuruh ke Pemkab jam 9 pagi, ditemuinya jam 9 malam," tuturnya.

Supangat menyebut, ketidakadilan yang dimaksud berawal dari adanya praktik penambangan pasir di Kali Royo yang tidak wajar. Perusahaan tambang menurutnya, membuat tanggul-tanggul dengan cara melintang di tengah sungai.

"Bahkan mereka membuat kantor di tengah aliran sungai yang berpotensi membelokkan aliran banjir lahar dingin ke daerah permukiman warga" ucapnya.

Sementara itu, Nor Holik peserta jalan kaki lainnya menambahkan perusahaan penambang pasir itu membuat tanggul untuk menghambat dan menampung pasir yang terbawa banjir. Tanggul menurut Kholil dibuat selebar sungai dengan ketinggian hingga empat meter.

"Kami sudah melapor kepada pihak kepala desa, polsek, polres hingga pemerintah Kabupaten Lumajang, bahwa cara penambangan dengan membuat tanggul-tanggul itu membahayakan keselamatan kami, tapi sampai saat ini tidak digubris," kata Holik

Holik berkisah sejak awal pihaknya bersama masyarakat sudah berkali-kali menyampaikan kekhawatirannya jika Gunung Semeru erupsi. Namun tidak ada tanggapan, akhirnya terbukti pada 4 Desember 2021, menurutnya bencana datang dan Desa Sumber Wuluh tertimbun guguran pasir erupsi Semeru.

"Seandainya protes kami dulu didengarkan mungkin desa kami tidak tertimbun pasir. Kalau pun terdampar saya yakin tidak akan sejarah itu hingga banyak menyebabkan korban jiwa," tuturnya.

Tiga orang yang masing-masing merupakan petani dan pedagang itu berharap nantinya Presiden Jokowi mau mendengarkan keluh kesah mereka. Mereka berharap Jokowi segera mengambil tindakan terhadap praktik penambang pasir yang membahayakan penduduk itu.

"Misalkan ketemu Jokowi kemungkinan saya akan ditanggapi karena saya bawa bukti-bukti yang kuat, di antaranya video, foto-foto waktu saya merekam di lokasi tambang, sudah ada semua," pungkasnya.



Simak Video "Banjir Lahar Gunung Semeru, 2 Alat Berat Terjebak di Sungai Leprak"
[Gambas:Video 20detik]
(rih/ams)