Harga Porang Anjlok, Petani Wonogiri Pilih Tunda Panen

Muhammad Aris Munandar - detikJateng
Senin, 27 Jun 2022 19:07 WIB
Petani porang wonogiri menunda panen karena harga porang anjlok.
Petani porang di Wonogiri menunda panen lantaran harga porang sedang anjlok. (Foto: Muhammad Aris Munandar/detikJateng)
Wonogiri -

Petani porang di Wonogiri memilih menunda panen karena harga porang saat ini rendah. Mereka optimis harga porang kembali naik sehingga bisa menjual porang yang ditanamnya dengan harga yang normal.

"Memang harga porang untuk saat ini hancur. Karena satu tahun tidak ada ekspor porang," kata salah satu petani porang asal Desa Ngambarsari, Kecamatan Karangtengah, Supriyanto, kepada detikJateng, Senin (27/6/2022).

Supriyanto menambahkan, untuk satu tahun ini ekspor porang di Indonesia ditutup. Sebab negara pembeli porang dari Indonesia, seperti Jepang, Cina dan Korea harus mengetahui asal mula atau sejarah porang yang dibelinya. Mulai dari sumber porang, siapa pengelola porang hingga sertifikasi porang.


"Dua hari lalu sembilan pabrik porang di Jawa sudah mulai buka serentak. Sudah akan ada ekspor lagi, cuma harga porang belum normal. Sebab pabrik sendiri kan menghabiskan stok porang tahun lalu yang belum sempat diolah," ungkap dia.

Supriyanto mengatakan, harga porang saat ini Rp 3.000 per kilogram. Sedangkan pada tahun lalu, saat masih ada ekspor, harga porang menyentuh harga Rp 7.500-Rp 8.000 per kilogram. Saat ini pabrik masih mau menerima porang, namun dengan harga Rp 3.000 per kilogram.

Petani porang di Wonogiri menunda panen lantaran harga porang sedang anjlok.Petani porang di Wonogiri menunda panen lantaran harga porang sedang anjlok. Foto: Muhammad Aris Munandar

"Kalau saya dan petani lain memilih menahan panen dulu, menunggu harga normal. Porang panennya tidak terpatok waktu, tahun depan bisa, malah umbinya lebih besar. Prediksi kami September besok sudah stabil harganya," ujar dia.

Menurutnya, setiap petani porang perlu punya sertifikat. Sebab barang (porang) yang masuk ke pabrik harus punya sertifikat. Adapun acuan dari sertifikat porang adalah Good Agricultural Practices (GAP).

"Jadi petani harus punya buku harian yang berisi penanaman bibitnya seperti apa, pupuk komposnya berapa, pupuk kimianya berapa yang digunakan dan lain-lain. Jadi kegiatan, fasilitas yang digunakan harus ada di buku itu," paparnya.

Supriyanto menjelaskan, petani yang ingin memperoleh sertifikat bisa mendaftarkan melalui sistem Online Single Submission (OSS). Setelah diterima OSS nantinya akan memperoleh nomor induk berusaha (NIB).

Langkah selanjutnya, kata dia, petani melaporkan ke Dinas Pertanian kabupaten. Petugas dari dinas akan melakukan survei lahan. Jika ada revisi segera diperbaiki. Setelah selesai, yang mengeluarkan sertifikat dari Dinas Pertanian provinsi.

"Nah dengan seperti itu nanti pabrik (porang) memiliki petani binaan. Nanti akan didaftarkan ke Kementerian Perdagangan. Yang intinya nanti akan keluar surat izin ekspor porang. Ini para petani sudah didorong oleh pabrik agar membuat sertifikasi," katanya.

Menurut Supriyanto, rata-rata atau sebagian besar petani porang di Wonogiri belum memiliki sertifikat tersebut. Jumlah petani porang yang tergabung dalam Petani Pegiat Porang Nusantara (P3N) Wonogiri sekitar 160 orang. Namun yang tidak bergabung dalam forum itu lebih banyak.

"Di Desa Ngambarsari itu hampir semua menanam porang. Ya jumlah KK-nya 300 lebih. Rata-rata mereka belum panen satu tahun ini. Karena Agustus tahun lalu masih bisa menjual dengan harga normal. Ini masih menunggu harga normal. Sembari ada yang urus sertifikasi, biasanya butuh waktu 4 bulan," imbuh Supriyanto.



Simak Video "Pura-pura Jadi Polisi, 4 Pria di Sleman Peras-Tuduh Orang Pelaku Klitih"
[Gambas:Video 20detik]
(apl/rih)