Pria Klaten Ini Ngaku Sedih Saat Terima Rp 4,7 M dari Proyek Tol, Kenapa?

Achmad Hussein Syauqi - detikJateng
Selasa, 07 Jun 2022 15:34 WIB
Sumarto menerima UGR tol Rp 4,7 miliar di balai desa Malangjiwan, Kecamatan Kebonarum, Klaten, Selasa (7/6/2022).
Sumarto menerima uang ganti rugi tol Rp 4,7 miliar di Balai Desa Malangjiwan, Kecamatan Kebonarum, Klaten. (Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng)
Klaten -

Seorang pria warga Desa Malangjiwan, Kecamatan Kebonarum, Klaten, Jawa Tengah, Sumarto (52) menerima uang ganti rugi (UGR) proyek Tol Jogja-Solo sebesar Rp 4,7 miliar. Saat menerima uang tersebut Sumarto mengaku sedih, kenapa?

Usut punya usut, ternyata Sumarto hanya mewakili keluarga besarnya untuk menerima UGR. Lahan pekarangan seluas 1.397 meter persegi warisan orang tuanya diganti pemerintah dengan harga Rp 4.710.292.543.

Di lahan tersebut berdiri enam rumah keluarga besarnya. Namun karena terdampak proyek Tol Jogja-Solo, keluarganya harus tinggal terpisah karena tidak mungkin lagi tinggal di satu pekarangan.


"Satu pekarangan itu ada tujuh KK dan enam rumah. Uang nanti dibagi, kita pisah, sendiri-sendiri, terpaksa ya mau bagaimana lagi," ucap Sumarto kepada detikJateng di Balai Desa Malangjiwan, Selasa (7/6/2022).

Berpisah pekarangan dengan keluarga besarnya membuatnya sedih. Sumarto menyatakan rencananya dia akan mencari rumah baru di sekitar tempat tinggalnya yang lama.

"Ya sedih. Mau bagaimana lagi, nanti ada yang pindah di sekitar sini tapi pasti ada juga yang keluar dari desa sini," kata Sumarto.

Pantauan detikJateng di lokasi pembayaran uang ganti rugi, saat dipanggil maju menerima data besaran uang, Sumarto lebih banyak diam. Selama proses tanda tangan berkas, pria yang sehari-hari bekerja sebagai petani itu datang ditemani kakaknya, Bambang Sudiro (62).

Bambang Sudiro juga mengaku sedih karena harus tinggal terpisah-pisah dengan keluarga besarnya.

"Ya susah karena nanti pisah-pisah. Tidak mungkin jadi satu dan ini saja ada yang dapat rumah baru ada yang belum," kata Bambang kepada detikJateng di lokasi yang sama.

Meskipun akhirnya tinggal di tempat berpisah dengan keluarganya, ucap Bambang, dia berharap UGR yang diterima keluarganya menjadi berkah.

"Ini sama saja memisahkan saudara, ambyar semua. Yang penting berkah, kita harap persaudaraan tidak ikut menjauh," imbuh Bambang.

Diwawancara dalam kesempatan yang sama, warga lain bernama Warno Siswoyo (80) juga mengaku sedih sawahnya hilang meskipun mendapatkan uang ganti rugi Rp 3,6 miliar. Sebagian uang Warno akan dia belikan sawah lagi.

"Ya dibelikan sawah lagi kalau ada. Sisanya dibagi, anak saya banyak, cucu 15 orang, cicit delapan orang," ungkap Warno kepada detikJateng.

Kades Malangjiwan, Suprianto, menambahkan ada 42 bidang yang UGR cair di desanya. Tidak ada yang keberatan atau sanggah.

"Tidak ada sanggahan. Selain lahan warga ada tanah kas desa sekitar 6.000 meter persegi dengan UGR Rp 6 miliar lebih dan akan dicarikan tanah pengganti," pungkasnya.

+++

Kamu punya kesan yang tak terlupakan saat mengunjungi Jawa Tengah dan DIY, jangan lewatkan untuk menyampaikannya di program Giveaway Serentak. Hadiahnya: uang tunai senilai total Rp 30 juta plus plus.

Segera gabung! Kamu hanya perlu menuliskan kesan-kesanmu itu di kolom komentar artikel ini.

Yuk, ajak juga teman-temanmu!



Simak Video "Alasan Tambang Tanah Uruk Proyek Tol Jogja-Solo Disegel Satpol PP"
[Gambas:Video 20detik]
(sip/rih)