Fenomena Desa Kretin di Wonogiri, Adakah Harapan Sembuh?

Tim detikJateng - detikJateng
Sabtu, 28 Mei 2022 14:29 WIB
Bangsal perawatan anak di RSUD Sudiran Mangun Sumarso, Wonogiri.
Bangsal perawatan anak di RSUD Sudiran Mangun Sumarso, Wonogiri. Foto: Istimewa
Wonogiri -

Puluhan warga Desa Lemahbang, Kecamatan Kismantoro, Wonogiri, menderita kretin. Fenomena ini sudah berlangsung hingga beberapa generasi. Para penderita mengalami berbagai macam keterbatasan, seperti keterbelakangan mental, bisu-tuli, hingga tuna daksa.

Diduga, kondisi itu dipicu oleh minimnya kandungan yodium pada sumber air di desa yang terpencil itu. Lalu, bisakah kretin disembuhkan?

Salah satu dokter anak di Wonogiri, dr Khairunisa Wardani SpA, mengatakan kretin merupakan salah satu bentuk dari hipotiroid, yaitu penurunan atau tidak berfungsinya hormon tiroid.

"Hipotiroid ini bisa disebabkan oleh tiga faktor, yaitu kelainan pembentukan kelenjar, gangguan pada pembuatan hormon tiroid, atau kekurangan yodium saat ibu hamil," kata dokter yang akrab disapa Anis itu kepada detikJateng, Sabtu (28/5/2022).

Dalam kasus seperti yang terjadi di Lemahbang, fenomena kretin massal itu diduga kuat disebabkan kurangnya asupan yodium. Kekurangan asupan yodium berakibat bayi yang dilahirkan berpotensi mengalami hipotiroid yang menjadi pangkal kelainan kretin.

Penderita kretin di Desa Lemahbang, Kecamatan Kismantoro, Wonogiri, saat membuat batik.Penderita kretin di Desa Lemahbang, Kecamatan Kismantoro, Wonogiri, saat membuat batik. Foto: dok. Kades Lemahbang

Sebenarnya, lanjut Anis, bayi yang mengalami kretin bisa disembuhkan. Bayi juga bisa tumbuh secara normal. "Kretin ini bisa disembuhkan melalui terapi hormon. Jadi hormon tiroid yang rusak karena kekurangan yodium bisa diperbaiki," kata dia.

Fasilitas terapi hormon ini menurutnya sudah dimiliki oleh banyak rumah sakit, termasuk rumah sakit yang ada di Wonogiri. Melalui terapi ini, kelenjar diharapkan mampu berkembang memproduksi hormon tiroidnya sendiri hingga terapi bisa dihentikan.

Namun, ada pula hipotiroid kongenital yang bersifat menetap sehingga anak membutuhkan pengobatan seumur hidup. Hanya saja, terapi hormon ini hanya bisa efektif jika dilakukan sedini mungkin saat bayi baru saja lahir.

"Jika terlambat penanganannya, peluang untuk sembuh dan hidup normal semakin kecil," kata Anis.

Sayang, tidak mudah mendeteksi bayi yang mengalami kretin, apalagi bagi orang awam. Hal itu membuat banyak orang tua terlambat membawa anak yang mengalami kretin untuk berobat.

"Sehingga untuk daerah yang banyak kasus kretin seperti di Lemahbang memang setiap bayi lahir seharusnya diperiksa dan diskrining agar bisa segera mendapatkan penanganan," katanya.


Rumah salah satu warga pengidap kretin di Lemahbang, Wonogiri.Rumah salah satu warga pengidap kretin di Lemahbang, Wonogiri. Foto: Muhammad Aris Munandar/detikJateng

"Dan ini memang sudah dilakukan oleh pemerintah, sehingga kasus kretin di sana sudah banyak berkurang," lanjut dia.

Skrining paling ideal menurutnya harus dilakukan terhadap bayi berumur 48-72 jam melalui pemeriksaan darah di laboratorium. Hasilnya bisa diketahui sepekan kemudian.

"Di Wonogiri, RSUD Sudiran Mangun Sumarso sudah bisa melakukan skrining ini. Jadi bisa lebih dekat dan cepat diketahui hasilnya sehingga penanganan bisa maksimal, " kata Anis.

Sebelumnya diberitakan, Kepala Desa Lemangbang, Sugito mengatakan saat ini terdapat 41 warganya yang mengalami kretin. Kebanyakan memang merupakan warga kelahiran sebelum 1990.

Sedangkan warga yang lahir setelah tahun 2000 hanya ada 4 orang yang mengalami kretin. Meski demikian, malnutrisi masih menjadi masalah di desa pelosok Wonogiri itu. Saat ini terdapat 23 anak yang tercatat mengalami stunting.



Simak Video "Asyiknya Menyusuri Gua Sumitro di Kulon Progo"
[Gambas:Video 20detik]
(dil/dil)