Fenomena Kretin di Desa Lemahbang, Pakar Beberkan Cara Penanganannya

Bayu Ardi Isnanto - detikJateng
Sabtu, 28 Mei 2022 09:01 WIB
Rumah salah satu warga pengidap kretin di Lemahbang, Wonogiri.
Rumah salah satu warga pengidap kretin di Desa Lemahbang, Wonogiri. Foto: Muhammad Aris Munandar/detikJateng
Solo -

Fenomena kretin terjadi turun-temurun di Desa Lemahbang, Kecamatan Kismantoro, Wonogiri. Kretin adalah akibat lanjut dari kekurangan yodium sejak dalam kandungan. Bagaimana penanganannya menurut akademisi?

Menurut dosen Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, dr Anang Girimulyo, SpA, kretin di Wonogiri kemungkinan besar karena kekurangan yodium.

"Orang dulu kan mungkin mengonsumsi hanya dari produk pertanian di sana. Sedangkan sekarang bisa dapat makanan dari mana-mana, termasuk garam sekarang beli sudah beryodium, jadi kasusnya semakin sedikit," kata Anang saat dihubungi detikJateng, Jumat (27/5/2022).


Dokter anak ahli endokrin itu mengatakan, kretin tidak disebabkan karena keturunan. Namun, kondisi gizi ibu hamil bisa menyebabkan bayinya terdampak kretin.

"Bukan keturunan, tapi bisa kena dari lahir, sejak di kandungan. Kalau ibunya konsumsi yodiumnya kurang, hormon tiroid dari kelenjar gondok juga kurang. Maka bayi di kandungannya juga kekurangan yodium," jelas dokter di RSUD dr Moewardi Solo itu.

Menurutnya, daerah endemik gondok seperti Kismantoro itu perlu dilakukan skrining untuk bayi yang baru lahir. Dengan demikian, penanganannya bisa dilakukan sejak dini.

"Sejak bayi lahir bisa dilakukan skrining. Ini juga sedang digalakkan pemerintah," ujarnya.

Sementara itu, dosen program studi Ilmu Gizi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Mutalazimah, mengaku sudah lama meneliti masalah tersebut, termasuk di Kismantoro.

"Penelitian terakhir saya menyasar wanita usia subur hingga menopause. Tahun 2019 di Kismantoro memang ada 10,4 persen yang mengalami gangguan kelenjar tiroid akibat kekurangan yodium. Itu sudah disebut endemik karena batas WHO 5 persen," ujar Mutalazimah.

Menurutnya, faktor lingkungan menjadi masalah utama. Sebab, tanah dan air di Kismantoro minim yodium.

"Tanahnya dan airnya memang tidak mengandung yodium, ada yang sampai 0, kapurnya tinggi. Beberapa gejalanya, wanita subur bisa kena masalah fertilitas, gangguan menstruasi, merasa kedinginan. Kemudian ada anak yang apatis, seperti tidak punya semangat, murung," ujar dia.

Menurutnya, masalah ini harus ditangani melalui suplai makanan dengan kadar yodium yang tepat. Sebab jika kadar yodium yang dikonsumsi berlebihan juga akan menyebabkan ekses negatif.

"Tanah di sana itu grumosol, yodiumnya kurang. Apapun yang tumbuh ya tidak mengandung yodium, jadi harus didatangkan dari luar. Dan, kita harus mengajarkan bagaimana membuat makanan yang terfortifikasi yodium," kata dia.

"Menurut saya, mulai wanita usia subur dulu. Supaya kehamilan baik, bayi lahir baik, tapi ini butuh waktu panjang. Dulu pernah ada program pemberian kapsul yodium, tapi jadi ekses karena kelebihan juga nggak baik. Makanya ini butuh effort besar untuk menangani ini," pungkasnya.



Simak Video "Asyiknya Menyusuri Gua Sumitro di Kulon Progo"
[Gambas:Video 20detik]
(dil/rih)