Analisis Ahli Sejarah Bumi soal Tsunami Megathrust di Selatan Jawa

Achmad Hussein Syauqi - detikJateng
Kamis, 24 Mar 2022 17:44 WIB
Humas Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Didit Hadi Bariyanto, di Klaten, Kamis (24/3/2022).
Humas Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Didit Hadi Bariyanto, di Klaten, Kamis (24/3/2022). (Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng)
Klaten -

Gempa megathrust yang diikuti tsunami puluhan meter tingginya dikabarkan masih berpotensi terjadi di selatan Jawa. Namun ahli dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) menyatakan hal itu hanya hasil simulasi bukan fakta.

"Kaitan gempa megathrust, data megathrust itu prediksi simulasi komputer. Saya kan ahli sejarah bumi tapi saya tidak berani berkata itu (gempa megathrust) pernah terjadi," papar Humas IAGI, Didit Hadi Bariyanto, saat mengisi diskusi wilayah rawan gempa di Klaten, Kamis (24/3/2022).

Didit yang juga Kepala Stasiun Lapangan Geologi UGM tersebut memaparkan tsunami Aceh saja hanya 11 meter. Di Jawa selama ini belum pernah terjadi megathrust dengan tsunami 30 meter.


"Di Jawa selama ini belum pernah terjadi megathrust dengan tsunami 30 meter. Kalau disimulasikan itu bisa, tapi apakah bisa terjadi? Sejarahnya belum ada," jelas Didit.

Didit mengaku pernah menegur beberapa koleganya yang menyatakan soal gempa megathrust tersebut meskipun yang bersangkutan ahli gempa. Sebab jika hanya prediksi menurutnya kasihan masyarakat.

"Saya bilang ngomong itu yang jelas, yang pernah ada. Sebab jika hanya prediksi kasihan masyarakat yang membaca," imbuh Didit.

Akibat informasi soal gempa megathrust yang sempat muncul tersebut, sambung Didit, dirinya pernah diundang Pemkab Gunungkidul. Dirinya diminta menjelaskan ke masyarakat.

"Saya diminta menjelaskan ke masyarakat, karena kalau naik 30 meter tsunami maka tidak ada yang akan ke Pantai Baron, Parangtritis, Kukup dan lainnya sampai Wedi Ombo. Padahal banyak turisnya," imbuh Didit.

Meskipun perkiraan megathrust itu untuk sekadar edukasi pun, kata Didit, kurang tepat. Setelah isu itu muncul dirinya sampai pernah diminta memasang early warning system (EWS) di Banyuwangi.

"Saya sempat diminta memasang EWS di sekitar Banyuwangi. Terus masyarakat kita simulasikan, kita latihan tahun 2020, tapi saya cari endapan tsunami 30 meter itu ndak pernah ada," terang Didit.

Di kesempatan yang sama, Kalak BPBD Klaten, Sri Winoto, menjelaskan dari hasil diskusi tersebut diharapkan ada informasi yang benar ke masyarakat. Dengan demikian ada edukasi yang tepat.

"Diharapkan ada informasi yang bisa mengedukasi dan tidak menyebabkan keresahan. Sebab bagaimana pun bencana adalah keniscayaan dan harus dipersiapkan langkah antisipasi," kata Winoto.

Diskusi tersebut diikuti organisasi perangkat daerah (OPD) Pemkab Klaten, SAR, Pemadam Kebakaran, akademisi, dan lainnya.

Sebelumnya, Kepala Laboratorium Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB) Heri Andreas mewaspadai potensi bencana gempa bumi megathrust selatan Jawa yang bisa terjadi kapan saja.

Menurut Heri, gempa tersebut memiliki kekuatan yang sangat besar dan saat ini tengah berada di ujung siklus perulangan (earthquake cycle).

"Berdasarkan data Global Navigation Satellite System (GNSS) mengonfirmasi adanya akumulasi energi di bagian megathrust Selat Sunda hingga Pelabuhan Ratu dan selatan Parangtritis hingga selatan pantai Jawa Timur," terang Heri, Kamis (19/8/2021).

Dari hasil pemodelan, kekuatan gempa yang bisa terjadi mencapai magnitudo (M) 8,7 hingga 9,0 dan bisa diikuti oleh gelombang tsunami hingga 20 meter tingginya.



Simak Video "Lubang Raksasa Muncul Misterius di Chili, Ilmuwan Dikerahkan"
[Gambas:Video 20detik]
(sip/sip)