Round-Up

GPH Bhre Jadi Mangkunegoro X, Generasi Z Pimpin Lembaga Tradisi

Tim detikJateng - detikJateng
Minggu, 13 Mar 2022 07:44 WIB
Presiden Joko Widodo (tengah) saat menghadiri Jumenengan Mangkunagoro X di Pura Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (12/3/2022). Pura Mangkunegaran menggelar Jumenengan atau upacara kenaikan takhta GPH Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo sebagai KGPAA Mangkunagoro X dan mengundang sejumlah tamu undangan diantaranya dari Keraton Kasunanan Solo, Keraton Kasultanan Yogyakarta dan Pura Pakualaman Yogyakarta. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/rwa.
Jumenengan Mangkunegoro X di Puro Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (12/3/2022). (Foto: Antara Foto/Mohammad Ayudha)
Solo -

GPH Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo resmi dikukuhkan sebagai KGPAA Mangkunegoro X. Bhre tergolong generasi Z pimpin lembaga tradisi.

Bhre adalah putra dari prameswari KGPAA Mangkunegoro IX. Pengukuhan dilakukan oleh prameswari dalem Gusti Kanjeng Putri Mangkunegoro IX.

Pada prosesi inti, prameswari membacakan piagam pengukuhan di depan GPH Bhre. Pengukuhan dibacakan dalam bahasa Jawa.


"Minangka hanetepi adat paugeran saha dhawuh wasiat leluhur Puro Mangkunegaran ing dinten menika 8 Ruwah Alip 1955, surya kaping 12 Maret 2022, Prameswari dalem Gusti Kanjeng Putri Mangkunegoro IX hanetepaken GPH Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo, SH katetepaken jumeneng KGPAA Mangkunegoro X," ucap prameswari, Sabtu (12/3/2022).

Penobatan GPH Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo sebagai KGPAA Mangkunegoro X menambah daftar pemimpin muda atau generasi Z. Sehingga Puro Mangkunegaran, sebagai salah satu pusat budaya Jawa, diyakini bisa terus berkembang menyesuaikan zaman.

Tak salah jika era saat ini disebut eranya anak muda. Sebelumnya ada sosok Gibran Rakabuming Raka sebagai Wali Kota Solo.

Belakangan ini, Keraton Kasunanan Surakarta juga mengangkat KGPH Purbaya yang berumur 21 tahun sebagai putra mahkota. Sementara Mangkunegoro X berusia 25 tahun di bulan ini.

Pendapat budayawan

"Realitanya memang ini eranya anak muda, tidak mungkin tidak," kata budayawan Sardono W Kusumo saat dihubungi detikJateng, Sabtu (12/3).

Menurutnya, anak muda tak boleh dipandang sebelah mata dalam urusan pengembangan budaya. Sebagai pimpinan tertinggi di sebuah institusi, kemampuan manajerial lebih diperlukan.

"Yang dibutuhkan bagaimana me-manage gagasan, me-manage aset budaya. Bagaimanapun Mangkunegaran adalah institusi dengan banyak pemangku kepentingan, sehingga harus ada sinergi," ujarnya.

Sardono mengatakan, para senior saat ini bertugas mendampingi pemimpin muda. Namun, dia mengingatkan bahwa zaman terus berubah.

"Budaya itu bukan sesuatu yang kuno, tapi hidup dalam kekinian. Yang diutamakan memanajemen. Orang tua-tua juga jangan menilai dengan ukuran kita, karena bisa saja keahlian kita sudah tidak relevan. Kita dampingi, beri masukan, tapi nggak perlu terlalu memaksa," tegasnya.

Bawa budaya sesuai zaman tanpa lepas dari tradisi

Sementara itu, anggota DPR RI Aria Bima meyakini bahwa para pemimpin muda bisa membawakan budaya sesuai zaman tanpa terlepas dari tradisi.

"Mereka bisa melestarikan seni budaya dan peradaban, kali ini lebih kontekstual, mampu menjadi sesuatu yang menarik, karena masih muda. Tentunya bisa berkolaborasi dengan anak muda lainnya, dengan Gibran, Ganjar, dan pemerintah," kata Aria Bima usai menghadiri jumenengan Mangkunegoro X.

Aria Bima juga meyakini anak muda juga bisa berpikir secara luas. Dia pun berharap Mangkunegoro X bisa menjadikan Puro Mangkunegaran sebagai episentrum kebudayaan.

"Dia lebih smart, think global, menjadikan Mangkunegaran episentrum pengembangan pusat budaya yang tentunya sudah dilakukan Mangkunegoro sebelumnya," tutupnya.

Harapan para raja kerajaan dinasti Mataram

Tiga penguasa kerajaan dinasti Mataram Islam menghadiri pengukuhan GPH Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo sebagai KGPAA Mangkunegoro X. Mereka memiliki doa dan harapan agar Puro Mangkunegaran Solo bisa terus maju.

Raja Keraton Kasultanan Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menyampaikan harapannya agar Mangkunegoro X bisa membawa kesuksesan. Sultan juga mendoakan agar Mangkunegoro X diberikan kesehatan.

"Harapan saya semoga sukses, jaga kesehatan, dan hati-hati saja," kata Sultan usai acara pengukuhan atau jumenengan di Puro Mangkunegaran, Sabtu (12/3).

Sementara itu, Adipati Puro Pakualaman KGPAA Paku Alam X mengingatkan bahwa penerus dinasti Mataram Islam memiliki tanggung jawab bersama, yakni menjaga kebudayaan dalam konteks luas.

"Tentu terkait dengan hal kebudayaan itu harus dilestarikan. Tentu kebudayaan tidak hanya berkesenian belaka tapi perilaku, pola pikir, dan budaya kerja tentu perlu mendapat perhatian. Saya yakin Kanjeng Gusti yang saat ini kan lebih muda. Bahasanya mungkin milenial, bisa mengakomodir perkembangan yang ada tanpa tercerabut dari akar budaya," ujar Paku Alam X.

Adapun putra mahkota Keraton Kasunanan Surakarta, KGPH Purbaya atau yang bergelar Kanjeng Gusti Adipati Anom Sudibyo Rajaputra Narendra Ing Mataram juga memiliki harapan serupa.

"Mas Bhre yang sudah dinobatkan sebagai Mangkunegoro X, semoga membawa keberkahan bagi Puro Mangkunegaran sendiri. Pastinya dipimpin sosok pemuda kan bagus dan semoga bisa menjaga kebudayaan di Puro Mangkunegaran agar bisa dilestarikan makin maju," katanya.

KGPH Purbaya yang juga berusia muda mengaku sudah sering berkomunikasi dengan Bhre. Dia membuka diri untuk saling bekerja sama ke depannya.

"Saya sudah berteman sejak beberapa waktu lalu dengan Mas Bhre, sering komunikasi juga lah. Semoga (bisa bekerja bersama)," kata dia.



Simak Video "Bukan Google, Gen Z Gunakan TikTok dan Instagram Sebagai Alat Cari"
[Gambas:Video 20detik]
(rih/sip)