Kegalauan Pangeran Sambernyowo di Malam Jelang Perjanjian Salatiga

Tim detikJateng - detikJateng
Minggu, 06 Mar 2022 11:24 WIB
Istana Raja Solo
Puro Mangkunegaran (Foto: Brigida Emi Lilia/d'Traveler)
Solo -

Setelah terjadi Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755, Mas Said atau yang kesohor dengan julukan Pangeran Sambernyowo berada dalam posisi terjepit. Dia berdiri sendiri menghadapi VOC, Susuhunan Pakubuwono (PB) III, dan Sultan Hamengku Buwono (HB) I alias Pangeran Arya Mangkubumi.

"Setelah beberapa kali kalah, misalnya di Semangka dan Sidakersa, dan banyak pengikutnya yang desersi, dia (Mas Said) tidak bisa lagi menolak tuntutan Hartingh untuk datang ke negosiasi" (arsip VOC 2910 : f.14-6, dikutip dari jurnal The Position of the Mangkunagara Within the Partitioned Political Structure of Central Java karya V.J.H. Houben dalam buku Cultural Contact and Textual Interpretation, C.D. Grijns & S.O. Robson, 1986:179).

Nicolaas Hartingh adalah Gubernur Belanda yang baru. Sebelumnya, dia 'berhasil' membujuk Pangeran Mangkubumi lewat Perjanjian Giyanti. Perjanjian yang membelah kerajaan Mataram menjadi dua bagian, Surakarta dan Yogyakarta, itu setidaknya meredam perang Jawa yang berlarut-larut sejak Geger Pacinan pada 1740.


Setelah adanya Perjanjian Giyanti, Mas Said yang semula bergabung dengan Pangeran Mangkubumi mesti berjuang sendiri menghadapi VOC dan Pakubuwono III. Seperti yang dipaparkan dalam berita sebelumnya, Mas Said sebenarnya beberapa kali memenangkan pertempuran.

Namun, VOC dan Pakubuwono III terlalu kuat, apalagi setelah berdamai dengan Mangkubumi. Singkat cerita, Mas Said pun terpaksa bersedia bernegosiasi dengan Belanda di Salatiga.

Negosiasi di Salatiga itu bukanlah yang pertama. Sebelum ada Perjanjian Giyanti, Houben mengungkapkan, Mas Said dan Von Hohendorff (Gubernur Belanda sebelum Hartingh) sudah mencoba bernegosiasi di Pantai Timur Laut Jawa pada 1752.

Hohendorff saat itu menawarkan Mas Said menjadi putra mahkota dan calon penerus PB III. Namun, Mas Said menolak. Dia meminta langsung diangkat menjadi Susuhunan menggantikan PB III (C.D. Grijns & S.O. Robson, 1986:179). Kini, Mas Said menyadari posisinya tak sekuat lima tahun lalu.

"... mungkin dia juga memikirkan nasib ayahnya, yang pada tahun 1723 setuju kembali ke istana (Keraton Kartasura) hanya untuk diusir beberapa tahun kemudian" (Arsip VOC 2910 : f.14-6 dalam jurnal Houben).

Mas Said akhirnya mengutarakan keinginannya kepada Hartingh lewat saudaranya, Pangeran Timur. Yaitu, sambil tetap berharap Jawa diperintah oleh satu raja, Mas Said berharap dapat hidup tenang dengan Kabupaten Laroh, Matesih, Kedu dan Pacitan, untuk 'ongkos hidupnya'.

Houben menyimpulkan kegalauan Mas Said saat itu dari sejumlah berkas laporan Hartingh ihwal beberapa pertemuan yang mengarah pada terjadinya Perjanjian Salatiga yang disepakati oleh Mas Said, Sunan, dan VOC.

Singkat cerita, pada 16 Maret 1757, diadakan pertemuan di Salatiga. Namun, dalam pertemuan pribadi dengan PB III (tanpa didampingi Hartingh), Mas Said tak mengajukan permintaan apapun. Baru keesokan harinya, 17 Maret, setelah tawar-menawar selama tiga jam, tercapailah tiga kesepakatan

Pertama, Mas Said diangkat oleh PB III menjadi Pangeran Miji (pangeran terdekat/pangeran istimewa) dan berhak menggunakan gelar ayahnya, yakni Pangeran Mangkunegoro. Kedua, Mas Said mendapat tanah apanage (lungguh) seluas 4.000 karya dengan status precario (tidak tetap) yang meliputi daerah Keduang, Laroh, Matesih, dan Gunungkidul.

Terakhir, Mas Said harus tinggal di Surakarta dan wajib hadir dan menerima perintah Sunan pada hari pisowanan (tradisi di mana para bawahan menghadap raja di keraton) tiap Senin dan Kamis. Sejak itulah, tanggal 17 Maret 1757 diperingati sebagai hari jadinya Puro Mangkunegaran.

Perjanjian Salatiga itu juga menjadi penanda panjangnya masa 'damai' di tanah Jawa. Perang-perang kecil beberapa kali terjadi tapi tak berlangsung lama. Adapun perang berskala besar dan lama di Jawa baru meletus lagi pada 1825-1830 yang dikenal dengan Perang Diponegoro.



Simak Video "Tarik Minat Wisatawan, Pura Mangkunegaran Solo Adakan Latihan Tari"
[Gambas:Video 20detik]
(dil/mbr)