Pilu Kakak dan Adik di Klaten Lumpuh, Tinggal Serumah di Pojok Dusun

Achmad Syauqi - detikJateng
Jumat, 28 Jan 2022 19:38 WIB
Kakak beradik di Klaten alami kelumpuhan.
Ratmini hanya tergolek di tempat tidur. (Achmad Syauqi/ detikJateng)
Klaten -

Kakak beradik Marsono (49) dan Ratmini (43) asal Dusun Serut, Desa Kebon, Kecamatan Bayat, Klaten, Jawa Tengah menderita kelumpuhan. Keduanya tinggal dalam satu rumah kecil di pojok dusun.

Untuk sampai ke tempat tinggal keduanya, detikJateng harus menempuh jarak sekitar 20 kilometer dari pusat kota ke wilayah pegunungan selatan. Setelah menelusuri jalan kampung, perjalanan harus ditempuh dengan jalan kaki.

Jalan setapak yang becek dan dikepung pohon yang rapat menjadi akses utama ke rumah Marsono. Dari jalan kampung, rumah mereka berjarak sekitar 100 meter.

Rumah berukuran sekitar 3x4 meter itu berada di tepi kebun berbatasan dengan sawah. Dindingnya hanya batako tanpa plaster semen.

Di dalam rumah tidak ada kamar tetapi hanya berupa ruang tanpa sekat. Di pojok belakang pintu terdapat kamar mandi sederhana.

Terdapat dua dipan kayu di ruang rumah tersebut. Satu dipan untuk tidur Marsono dan satu untuk Ratmini yang hanya disekat kain.

Di rumah sederhana tersebut, kedua kakak beradik itu selama delapan tahun terakhir menghabiskan waktu dalam ketidakberdayaan. Keduanya mengalami lemah gerak anggota tubuh.

Kakak beradik di Klaten alami kelumpuhan.Marsono bisa duduk di kursi roda bantuan Kapolres Klaten. (Achmad Syauqi/detikJateng) (Foto: Achmad Syauqi/detikJateng)

Keseharian keduanya dirawat oleh warga sekitar dan sang kakak Lastri (60). Namun Lastri tinggal di lain desa, Desa Wiro, Kecamatan Bayat.

"Ya setiap hari saya yang merawat. Ya sudah delapan tahun sampai sekarang, mau bagaimana lagi itu adik saya," tutur Lastri pada detikJateng di lokasi, Jumat (28/1/2022).

Lastri menceritakan, kedua adiknya itu menderita semacam kelumpuhan baru sekitar 8 tahun terakhir. Sebelumnya mereka hidup dan beraktivitas normal.

"Kecilnya biasa saja, sehat, bekerja dan berkeluarga. Yang pertama itu Ratmi sekitar delapan tahun lalu tapi Marsono baru empat tahun terakhir," ungkap Lastri.

Marsono, awalnya bekerja di Jakarta dan pulang. Setelah di rumah mulai mengalami gejala lemas saat beraktivitas dan dibawa ke Jakarta lagi untuk berobat.

"Marsono di rumah itu masih bisa jalan terus lemas. Dibawa ke Jakarta untuk berobat tetapi malah semakin parah lalu dibawa pulang," ucap Lastri.

Keduanya, sambung Lastri, dirawat oleh ibunya. Namun karena ibunya sudah tua akhirnya dirawatnya di Desa Wiro.

"Ibu saya rawat ikut saya karena sudah jompo, usianya 80 tahun. Jadi kalau pagi setelah merawat ibu saya baru ke sini (rumah tinggal Marsono dan Ratmini) membawa makanan, minuman dan memandikan," imbuh Lastri.

Kades Kebon, Sukoco mengatakan warga dan pemerintah desa terus memberikan perhatian. Keduanya menurut informasi menderita pengapuran tulang.

"Dari lingkungan sudah mengurus keduanya, termasuk pemerintah desa. Informasinya pengapuran tulang, saat kecil sampai berkeluarga itu biasa, normal," jelas Sukoco pada detikJateng di kantornya.



Simak Video "Baliho Raksasa Ajak Nikah Mbak Maya Nangkring di Klaten"
[Gambas:Video 20detik]
(bai/sip)