Kemenhub Pasang Teknologi Weigh in Motion di Kulon Progo, Apa Fungsinya?

Jalu Rahman Dewantara - detikJateng
Rabu, 26 Jan 2022 16:10 WIB
Truk melintas di alat detektor berat kendaraan yang dipasang di Kulon Progo.
JatengTruk melintas di alat detektor berat kendaraan yang dipasang di Kulon Progo. (Foto: Jalu Rahman Dewantara/detikJateng)
Kulon Progo -

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memasang piranti Weigh in Motion di Kulon Progo untuk mendeteksi truk yang kelebihan muatan dan beban atau over dimension overload (ODOL). Ke depan, mereka tidak memerlukan lagi jembatan timbang.

"Dengan adanya WIM ini akan mempercepat upaya deteksi kendaraan yang berpotensi melanggar ODOL. Sehingga ini jadi salah satu upaya kita untuk mewujudkan program zero ODOL yang akan diberlakukan pada 2023," ujar Kasubbag Humas Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, Pitra Setiawan, di sela-sela peninjauan WIM di Unit Pelaksana Penimbangan Kendaraan Bermotor (UPPKB) Kulwaru, Wates, Kulon Progo, Rabu (26/1/2022).

WIM merupakan alat yang digunakan untuk mengukur berat kendaraan khususnya angkutan barang. Prinsip kerja piranti yang ditanam di jalan beton ini hampir sama dengan alat pengukur berat angkutan yang biasa ditemui di setiap UPPKB atau jembatan timbang.

Bedanya, alat ini lebih praktis dan mampu mendeteksi berat saat kendaraan sedang melaju, tak seperti di jembatan timbang di mana kendaraan harus berhenti sejenak untuk proses pengukuran. Adapun pemasangan WIM bisa dilakukan di jalur masuk jembatan timbang maupun jalan umum yang padat kendaraan.

Piranti ini dilengkapi dengan sensor dan kamera, sehingga selain mendeteksi berat, juga bisa mengidentifikasi plat nomor, kecepatan, jenis, konfigurasi sumbu, hingga dimensi kendaraan.

Data yang terekam oleh WIM terintegrasi dengan pusat data. Selanjutnya hasil tersebut akan dibandingkan dengan Jumlah Berat yang Diperbolehkan (JBB) dan dimensi standar sesuai Bukti Lulus Uji Elektronik (BLUe).

Bila kendaraan terdeteksi melanggar, sistem akan mengirimkan data pelanggaran beserta data identitas kendaraan ke pusat data. Dalam tahap ini, petugas PPNS melakukan verifikasi data, yang hasilnya akan dikirimkan ke sistem Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE). Adapun tahap terakhir adalah penindakan terhadap pelanggar.

Pitra menyebut kehadiran WIM bisa menekan jumlah angkutan ODOL yang selama ini masih marak ditemui. Dari catatan pihaknya, banyak kendaraan pengangkut barang melanggar ketentuan tersebut tapi tidak terdeteksi. Padahal kendaraan ODOL berpotensi membahayakan keselamatan si pengendara maupun pengguna jalan lainnya.

"Kalau dihitung ya banyak banget (pelanggaran ODOL) ini, dan kebanyakan itu tidak terdeteksi jembatan timbang, karena mungkin lewat jalur alternatif, sehingga jika nantinya WIM diterapkan bisa mendeteksi para pelanggar yang lewat jalur lain itu, karena pada pelaksanaannya WIM tidak hanya sebatas dipasang di sekitar jembatan saja, melainkan juga jalan lain yang dianggap padat kendaraan," ujarnya.

Penerapan WIM lanjut Pitra nantinya bisa meringkas durasi waktu identifikasi angkutan barang di jembatan timbang. Jika sebelumnya proses pemeriksaan memakan waktu lama, WIM dapat memangkasnya hingga hanya sekitar 2 menit.

"Selain itu, WIM bisa jadi jawaban atas masalah keterbatasan SDM jembatan timbang. Dari pendataan kami, hampir seluruh jembatan di Indonesia itu mengalami kekurangan pegawai, bahkan rata-rata kurangnya sampai 50 persen. Jadi misal dalam satu jembatan timbang itu idealnya ada 50 pegawai, sekarang hanya 25 saja," ucapnya.

Pitra mengatakan penggunaan sistem WIM akan coba diterapkan di seluruh jembatan timbang di Indonesia. Adapun hingga saat ini baru dua yang sudah memasang alat tersebut, yakni UPPKB Kulwaru dan UPPKB Losarang, Indramayu, Jawa Barat yang kemudian dijadikan pilot project penerapan WIM. Pemasangan dilakukan sekitar pertengahan 2021 lalu.

"Penggunaan WIM ini nanti akan coba kita terapkan ke seluruh jembatan timbang, tentunya mempertimbangkan kondisi anggaran yang kita punyai, yang pemerintah miliki, sekarang baru di Kulwaru sama Losarang," ujarnya

"Mudah-mudahan teknologi ini bisa mempermudah cita-cita kita menuju Indonesia bebas ODOL di tahun 2023," sambungnya.

Ditemui di lokasi yang sama, Koordinator Satuan Pelayanan (Korsatpel) UPPKB Kulwaru, Sigit Saryanto mengharapkan bahwa dengan dipasangnya WIM maka penegakan hukum pengendalian angkutan barang akan lebih efektif. Menurutnya selama ini banyak kendaraan yang tidak masuk UPPKB sehingga sukar terlacak.

"Selama ini banyak kendaraan yang tidak masuk UPPKB atau jembatan timbang, nah dengan adanya WIM ini nanti semua kendaraan yang melintas baik itu yang masuk jembatan timbang maupun yang tidak bakal terdeteksi. Sehingga kami akan lebih efektif penanganannya," ucap Sigit.

Dia mengungkapkan berdasarkan catatan pihaknya, jumlah angkutan barang yang diperiksa pihaknya mencapai kisaran 30.000 unit per tahun. Dari jumlah itu separuh lebih dipastikan melanggar aturan.



Simak Video " Terungkap! Penyebab Kematian Pria di Kulon Progo Dianiaya Selingkuhan Istri"
[Gambas:Video 20detik]
(ahr/sip)