Di tengah hiruk-pikuk Kota Bandung yang terus berubah, dari deretan kafe modern, kedai kopi, hingga pusat perbelanjaan, rupanya masih ada aroma manis dan kesegaran yang bertahan lintas generasi.
Minuman es tradisional bukan sekadar pelepas dahaga di udara sejuk Kota Kembang, melainkan bagian dari ingatan kolektif warganya. Ada rasa santan yang gurih, gula merah yang legit, cincau yang lembut, hingga potongan buah dan roti yang menyatu dalam gelas sederhana.
Menariknya, sejumlah penjual es ini telah berdiri sejak puluhan tahun lalu, bahkan sebelum banyak gedung tinggi dan mal bermunculan di Bandung. Mereka bertahan bukan hanya karena rasa, tetapi juga karena cerita, kebiasaan, dan kedekatan emosional dengan pelanggan.
Berikut lima es tradisional khas Bandung yang legendaris dan masih eksis hingga kini.
1. Es Cendol Elizabeth
Tidak banyak minuman yang mampu melekat begitu kuat dalam benak warga Bandung seperti es cendol Elizabeth. Melansir dari laman Pemerintah Kota Bandung, tercatat bahwa es cendol ini telah diperjualbelikan sejak 1972, ketika pendirinya, H. Rohman, mulai berjualan keliling menggunakan gerobak.
Dari aktivitas sederhana itu, nama Elizabeth kemudian tumbuh menjadi salah satu merek kuliner legendaris di kota ini. Cendol Elizabeth dikenal dengan butiran cendol hijau berbahan tepung beras yang lembut dan kenyal.
Rasa manis gula merah berpadu dengan santan gurih, lalu disajikan dingin sehingga terasa menyegarkan di cuaca siang maupun setelah beraktivitas. Selain itu, cendol Elizabeth juga telah menjadi nama yang langsung teringat warga ketika membahas pelepas dahaga di Kota Bandung.
Keberadaannya juga menunjukkan bagaimana usaha kecil dapat berkembang menjadi warisan kuliner. Pusat Es Cendol Elizabeth di Jalan Inhoftank Nomor 64 mulai dibangun sekitar tahun 1998, setelah sebelumnya usaha tersebut tumbuh dari penjualan keliling. Selain cendol, tempat ini juga menghadirkan es goyobod, batagor kering, baso tahu, dan baso yamin.
2. Es Goyobod
Es goyobod memiliki karakter yang khas, manis, gurih, dingin, dan kaya isi. Dalam bahasa Sunda, cincau hitam sering disebut goyobod atau agar-agar yang dibuat dari daun Mesona palustris. Minuman ini umumnya memadukan air gula, cincau hitam, susu kental manis, dan es serut, sehingga menghasilkan rasa yang lembut sekaligus memuaskan.
Meskipun secara lebih luas goyobod dikenal sebagai minuman tradisional yang berakar di Garut, minuman ini telah lama menjadi bagian penting dari peta kuliner Bandung. Isian goyobod dapat bervariasi, mulai dari potongan tepung hunkwe yang kenyal, alpukat, kelapa, kolang-kaling, hingga roti. Kombinasi tersebut kemudian disiram dengan santan dan pemanis sebelum disajikan bersama es.
Jejak usaha goyobod di Bandung juga terdokumentasi dalam dokumen resmi Pemerintah Kota Bandung. Naskah akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Bandung menyebut adanya warung es goyobod bernama Goyobod Kuno 1949 di Jalan Pasar Barat, yang pelakunya merupakan salah satu keluarga perintis usaha es goyobod di kota tersebut.
Hingga kini, es goyobod tetap mudah ditemukan, baik di warung tetap maupun di gerobak keliling. Salah satu contohnya adalah Es Goyobod Obi di Jalan Kalipah Apo yang telah dijajakan di lokasi yang sama selama sekitar dua dekade. Konsistensi rasa dan kedekatan dengan pelanggan membuat minuman ini tetap dicari meski pilihan minuman modern semakin beragam.
3. Es Oyen
Es oyen sering disebut sebagai salah satu es campur paling ikonik dari Bandung. Melansir dari laman Pemerintah Kota Bandung, es oyen adalah minuman segar yang telah populer sejak zaman dahulu dan memiliki kemiripan dengan es campur Betawi. Namun, identitasnya semakin kuat melalui kehadiran kedai es campur Pa Oyen di kawasan Sukajadi.
Nama oyen sendiri dipercaya berasal dari orang yang pertama kali menjual es ini di Jalan Sukajadi. Warung Pa Oyen 18 bahkan masih eksis sejak tahun 1954. Sebelum memiliki tempat yang lebih permanen, pelaku usaha tersebut memulai dagangannya dengan gerobak, sebuah pola yang juga banyak dijumpai pada pedagang minuman tradisional lain di Bandung.
Daya tarik es oyen terletak pada perpaduan buah, agar-agar, kelapa, santan, sirup, dan es serut. Teksturnya bervariasi dalam satu gelas, ada yang renyah, kenyal, lembut, dan menyegarkan. Rasa manisnya tidak terasa berlebihan karena santan memberi dimensi gurih yang membuat minuman ini terasa lebih kaya dibandingkan es campur biasa.
Bagi sebagian warga Bandung, es oyen bukan hanya minuman, tetapi juga pengingat masa lalu. Warung legendaris seperti Pa Oyen menjadi saksi perjalanan kota yang terus berkembang, sementara rasa minumannya tetap dijaga agar tidak kehilangan ciri khasnya.
(iqk/iqk)