5 Es Legendaris Bandung yang Tak Lekang Waktu

5 Es Legendaris Bandung yang Tak Lekang Waktu

Yogi Bagus Prasetyo - detikJabar
Minggu, 18 Okt 2026 11:30 WIB
Aurelie Moeremans Mendadak Ngidam Es Cendol
Es Cendol (Foto: Instagram/iStock)
Bandung -

Di tengah hiruk-pikuk Kota Bandung yang terus berubah, dari deretan kafe modern, kedai kopi, hingga pusat perbelanjaan, rupanya masih ada aroma manis dan kesegaran yang bertahan lintas generasi.

Minuman es tradisional bukan sekadar pelepas dahaga di udara sejuk Kota Kembang, melainkan bagian dari ingatan kolektif warganya. Ada rasa santan yang gurih, gula merah yang legit, cincau yang lembut, hingga potongan buah dan roti yang menyatu dalam gelas sederhana.

Menariknya, sejumlah penjual es ini telah berdiri sejak puluhan tahun lalu, bahkan sebelum banyak gedung tinggi dan mal bermunculan di Bandung. Mereka bertahan bukan hanya karena rasa, tetapi juga karena cerita, kebiasaan, dan kedekatan emosional dengan pelanggan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut lima es tradisional khas Bandung yang legendaris dan masih eksis hingga kini.

1. Es Cendol Elizabeth

Momen bulan Ramadan dimanfaatkan para penjual Es Cendol Elizabeth musiman untuk meraup cuan. Mereka berjualan di sepanjang Jalan Otista, Kota Bandung, Jawa Barat.Momen bulan Ramadan dimanfaatkan para penjual Es Cendol Elizabeth musiman untuk meraup cuan. Mereka berjualan di sepanjang Jalan Otista, Kota Bandung, Jawa Barat. Foto: Wisma Putra

Tidak banyak minuman yang mampu melekat begitu kuat dalam benak warga Bandung seperti es cendol Elizabeth. Melansir dari laman Pemerintah Kota Bandung, tercatat bahwa es cendol ini telah diperjualbelikan sejak 1972, ketika pendirinya, H. Rohman, mulai berjualan keliling menggunakan gerobak.

ADVERTISEMENT

Dari aktivitas sederhana itu, nama Elizabeth kemudian tumbuh menjadi salah satu merek kuliner legendaris di kota ini. Cendol Elizabeth dikenal dengan butiran cendol hijau berbahan tepung beras yang lembut dan kenyal.

Rasa manis gula merah berpadu dengan santan gurih, lalu disajikan dingin sehingga terasa menyegarkan di cuaca siang maupun setelah beraktivitas. Selain itu, cendol Elizabeth juga telah menjadi nama yang langsung teringat warga ketika membahas pelepas dahaga di Kota Bandung.

Keberadaannya juga menunjukkan bagaimana usaha kecil dapat berkembang menjadi warisan kuliner. Pusat Es Cendol Elizabeth di Jalan Inhoftank Nomor 64 mulai dibangun sekitar tahun 1998, setelah sebelumnya usaha tersebut tumbuh dari penjualan keliling. Selain cendol, tempat ini juga menghadirkan es goyobod, batagor kering, baso tahu, dan baso yamin.

2. Es Goyobod

Es Goyobod ObiEs Goyobod Obi Foto: Wisma Putra/detikJabar

Es goyobod memiliki karakter yang khas, manis, gurih, dingin, dan kaya isi. Dalam bahasa Sunda, cincau hitam sering disebut goyobod atau agar-agar yang dibuat dari daun Mesona palustris. Minuman ini umumnya memadukan air gula, cincau hitam, susu kental manis, dan es serut, sehingga menghasilkan rasa yang lembut sekaligus memuaskan.

Meskipun secara lebih luas goyobod dikenal sebagai minuman tradisional yang berakar di Garut, minuman ini telah lama menjadi bagian penting dari peta kuliner Bandung. Isian goyobod dapat bervariasi, mulai dari potongan tepung hunkwe yang kenyal, alpukat, kelapa, kolang-kaling, hingga roti. Kombinasi tersebut kemudian disiram dengan santan dan pemanis sebelum disajikan bersama es.

Jejak usaha goyobod di Bandung juga terdokumentasi dalam dokumen resmi Pemerintah Kota Bandung. Naskah akademik Rancangan Peraturan Daerah Kota Bandung menyebut adanya warung es goyobod bernama Goyobod Kuno 1949 di Jalan Pasar Barat, yang pelakunya merupakan salah satu keluarga perintis usaha es goyobod di kota tersebut.

Hingga kini, es goyobod tetap mudah ditemukan, baik di warung tetap maupun di gerobak keliling. Salah satu contohnya adalah Es Goyobod Obi di Jalan Kalipah Apo yang telah dijajakan di lokasi yang sama selama sekitar dua dekade. Konsistensi rasa dan kedekatan dengan pelanggan membuat minuman ini tetap dicari meski pilihan minuman modern semakin beragam.

3. Es Oyen

Es OyenEs Oyen Foto: Google Review

Es oyen sering disebut sebagai salah satu es campur paling ikonik dari Bandung. Melansir dari laman Pemerintah Kota Bandung, es oyen adalah minuman segar yang telah populer sejak zaman dahulu dan memiliki kemiripan dengan es campur Betawi. Namun, identitasnya semakin kuat melalui kehadiran kedai es campur Pa Oyen di kawasan Sukajadi.

Nama oyen sendiri dipercaya berasal dari orang yang pertama kali menjual es ini di Jalan Sukajadi. Warung Pa Oyen 18 bahkan masih eksis sejak tahun 1954. Sebelum memiliki tempat yang lebih permanen, pelaku usaha tersebut memulai dagangannya dengan gerobak, sebuah pola yang juga banyak dijumpai pada pedagang minuman tradisional lain di Bandung.

Daya tarik es oyen terletak pada perpaduan buah, agar-agar, kelapa, santan, sirup, dan es serut. Teksturnya bervariasi dalam satu gelas, ada yang renyah, kenyal, lembut, dan menyegarkan. Rasa manisnya tidak terasa berlebihan karena santan memberi dimensi gurih yang membuat minuman ini terasa lebih kaya dibandingkan es campur biasa.

Bagi sebagian warga Bandung, es oyen bukan hanya minuman, tetapi juga pengingat masa lalu. Warung legendaris seperti Pa Oyen menjadi saksi perjalanan kota yang terus berkembang, sementara rasa minumannya tetap dijaga agar tidak kehilangan ciri khasnya.

4. Es Doger

Slurrp! Manis Segar 20 Es Doger di SiniSlurrp! Manis Segar 20 Es Doger di Sini Foto: Getty Images/Faiz Zakiy Yamani

Es doger mungkin paling mudah dikenali dari gerobaknya yang berwarna cerah dan isian yang tampak penuh. Minuman ini biasanya memuat ketan hitam, tape singkong, pacar cina, roti tawar, kelapa, alpukat, atau nangka. Semuanya kemudian disiram dengan susu kental manis, santan, sirup, gula, serta es serut.

Meskipun sejumlah sumber menyebut es doger memiliki keterkaitan dengan tradisi Cirebon, minuman ini telah lama hidup dan berkembang di Bandung. Di jalanan Kota Bandung, es doger kerap dijajakan dengan gerobak dan menjadi pilihan warga ketika cuaca terik.

Kekuatan es doger ada pada kontras rasanya. Santan dan susu memberi rasa gurih, sementara tape dan ketan hitam menghadirkan aroma fermentasi yang khas. Potongan roti menyerap cairan manis dan menciptakan tekstur lembut, sedangkan es serut menjaga kesegaran minuman. Perpaduan itu menjadikan es doger bukan sekadar minuman dingin, melainkan camilan yang cukup mengenyangkan.

5. Es Cincau

Es cincauEs cincau Foto: Instagram/Google Review

Di antara berbagai es tradisional Bandung, es cincau mungkin tampil paling sederhana. Minuman ini identik dengan warna hitam pekat dari cincau yang dibuat dari daun cincau.

Biasanya, cincau dipotong kecil-kecil lalu disajikan bersama es, gula, dan santan. Rasa manis gula berpadu dengan gurih santan, sementara tekstur cincau yang lembut memberi sensasi khas yang sulit digantikan.

Es cincau kerap dikonsumsi pada siang hari ketika dahaga datang setelah beraktivitas di luar ruangan. Dalam daftar minuman tradisional khas Sunda, cincau juga sering disebut bersama es goyobod, bajigur, dan bandrek. Perbedaannya, cincau hadir sebagai pilihan dingin yang ringan, sementara bajigur dan bandrek lebih dikenal sebagai minuman hangat.

Kesederhanaan inilah yang membuat es cincau tetap relevan. Ia tidak membutuhkan banyak bahan tambahan, tetapi tetap mampu memberi rasa yang khas dan menyegarkan. Di Bandung, minuman ini juga sering menjadi pendamping kuliner jalanan seperti batagor, siomay, atau makanan berkuah santan.

Halaman 2 dari 2
(iqk/iqk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads