Es Kopi Susu Bandung: Rasa Lokal yang Terinspirasi Bajigur dan Cendol

Es Kopi Susu Bandung: Rasa Lokal yang Terinspirasi Bajigur dan Cendol

Wisma Putra - detikJabar
Minggu, 28 Jun 2026 06:00 WIB
Owner Merawat Coffee Dwitya Utama.
Owner Merawat Coffee Dwitya Utama. Foto: Wisma Putra/detikJabar
Bandung -

Anda pencinta kopi? Sajian apa yang paling Anda suka? Jika sedang berkunjung ke Kota Bandung, yuk coba 'Es Kopi Susu Bandung' menu andalan Merawat Coffee Space di Jalan Arcamanik, Kota Bandung.

Meski sajian dan namanya seperti kopi susu pada umumnya, siapa sangka menu es kopi di kedai ini memiliki nilai historis tinggi dan berdasarkan kajian antropologi.

"Secara kultur, kehadiran es kopi susu yang manis di Bandung ini polanya mirip dengan kemunculan Bajigur atau Cendol di zaman dulu. Kehadiran Es Kopi Susu Bandung ini menjadi jembatan agar minuman tradisional bisa masuk ke ruang yang lebih modern, seperti kampus dan kantor. Penemuannya menyesuaikannya dengan selera orang Bandung setelah melakukan riset panjang ke berbagai coffee shop," kata Owner Merawat Coffee Dwitya Utama kepada detikJabar, Selasa (23/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dwi, sapaan karib Dwitya, menjelaskan bahwa riset untuk Es Kopi Susu Bandung ini dilakukan sejak tahun 2022 lalu. Ratusan es kopi susu sudah dicicipinya.

ADVERTISEMENT

"Sejak tahun 2022, kurang lebih selama empat tahun riset berjalan, ada sekitar 200 coffee shop yang saya datangi, dan hampir 100 brand di Bandung yang saya amati secara khusus. Yang diteliti banyak, mulai dari hospitality, kebersihan toilet, detail kecil operasional, hingga karakteristik produk Es Kopi Susu mereka. Kami ingin mengikuti segmen pasar, tetapi tetap merawat nilai historisnya dan tidak asal-asalan. Kami bahkan mengembangkan dan memproduksi bahan bakunya sendiri," ungkap Dwi.

Es Kopi Susu Bandung memiliki rasa manis yang cocok di lidah warga lokal. Selain itu, rasa manis ini memberikan energi tinggi bagi siapa saja yang mencicipinya.

Disinggung perbedaan dengan es kopi di kedai lain, Dwi menjelaskan di Merawat Coffee Space ada tiga jenis es kopi susu yakni Klasik, Bandung, dan Aren. Selain itu, dia juga memproduksi sirup sendiri di daerah Kiaracondong dan gula arennya wajib dikirim langsung dari Cianjur karena karakteristik manisnya yang lembut.

Mengapa harus gula aren dari Cianjur? Ia mengaku pernah mencoba gula aren dari daerah lain seperti Garut atau Pangandaran, namun teksturnya cenderung keras dan memiliki rasa asam. Karena karakter Es Kopi Bandung ini harus bold, gula aren yang encer dan asam tidak akan masuk.

Untuk Es Kopi Susu Bandung, dia menggunakan jenis kopi robusta dari Temanggung, sedangkan kopi arabikanya didatangkan dari Pangalengan atau Ciwidey.

"Robusta kami proses semi-wash. Arabika digunakan untuk mengejar kompleksitas rasa. Jika menggunakan proses full wash, rasanya akan berbeda dan bodi kopinya kurang keluar," tuturnya.

Dwi menyebut, satu cup Es Kopi Susu Bandung dibanderol Rp 20 ribu. Harganya sengaja dibuat terjangkau agar bisa menjangkau berbagai generasi, dari Gen Z hingga Milenial.

"Penjualannya tertinggi, mencapai 1.500 cup per bulan dari total sekitar 7.000 cup yang terjual. Untuk Es Kopi Aren Rp22 ribu, karakter rasanya lebih kuat kopi-nya dan tidak terlalu manis dan Es Kopi Klasik Rp24 ribu. Menggunakan ekstrak cinnamon buatan sendiri. Proses ekstraksi cinnamon ini butuh waktu dua bulan sampai bisa jadi biang sirup. Harganya paling mahal karena bahan bakunya berbeda," tuturnya.

10 Tahun Bangun Usaha Kopi

Dwi menuturkan, sebelum bisa menyewa tempat yang luas dan strategis, usaha kopi ini sudah digelutinya sejak 10 tahun lalu. Dalam perjalanannya, ia pernah mengalami pasang surut dan pahit manis berdagang, mulai dari modal jualan di gerobak sampai akhirnya memiliki karyawan.

"Kami mulai berjualan menggunakan gerobak di Taman Flexi. Saat itu namanya belum 'Merawat' melainkan 'Proletar'. Konsepnya masih jualan kopi manual dan harganya sangat murah karena pasar kopi belum seramai sekarang."

Pada 2018, nama brand resmi diganti dari Proletar menjadi Merawat agar pasarnya lebih masuk ke generasi milenial dan Gen Z. Dwi juga mengisahkan usahanya sempat dihantam badai pandemi COVID-19 hingga membuat beberapa cabang tutup.

"Kami membuka cabang di Kiaracondong dan beberapa cabang kecil seperti di Sekeloa dan daerah dekat TSM tambahnya," ujarnya.

Karena finansial dan keterbatasan modal, akhirnya cabang-cabang tersebut ditutup dan menyisakan yang di Kiaracondong. Bahkan Dwi sempat menyisakan utang hingga Rp 180 juta akibat penutupan itu. Namun dengan tekad yang kuat, akhirnya dia bisa kembali menjalankan usahanya dan kini memiliki dua cabang di Kiaracondong dan Arcamanik.

Sementara itu, gerai di Arcamanik merupakan cabang baru yang menyasar pasar milenial. "Lebih ke milenial, banyak yang WFC di sini," pungkasnya.

(wip/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads