Di antara deretan kuliner yang melekat dengan identitas Bandung, olahan aci menempati tempat yang istimewa. Bahan sederhana berupa tepung tapioka atau tepung kanji dapat berubah menjadi beragam jajanan dengan tekstur kenyal, gurih, pedas, dan renyah.
Dari gerobak kaki lima di depan sekolah hingga kedai kuliner modern, nama seperti cireng, cilok, cimol, cilor, dan cibay telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat.
Olahan aci khas Bandung bukan sekadar camilan murah. Di balik bentuknya yang sederhana, terdapat sejarah tentang singkong, kreativitas masyarakat Sunda, kebiasaan jajan, serta kemampuan kuliner lokal beradaptasi dengan perubahan zaman.
Singkong dan Awal Mula Tepung Aci
Aci merupakan sebutan dalam bahasa Sunda untuk tepung tapioka atau tepung kanji. Tepung ini dibuat dari pati singkong atau ubi kayu. Prosesnya dilakukan dengan memarut singkong, memerasnya menggunakan air, kemudian mengendapkan pati yang terkandung di dalam cairan tersebut. Endapan itu lalu dikeringkan hingga menghasilkan tepung berwarna putih dengan tekstur halus.
Melansir dari laman resmi Pemerintah Kota Bandung, singkong mulai berkembang di Pulau Jawa setelah dibawa oleh bangsa Belanda. Tanaman ini kemudian tumbuh subur karena sesuai dengan kondisi tanah dan iklim setempat.
Pada abad ke-18, masyarakat Sunda mulai mengolah singkong menjadi tepung aci dan berbagai makanan berbahan dasar pati tersebut. Peran singkong semakin penting pada awal abad ke-20. Ketika beras sulit diperoleh dan harganya relatif mahal, singkong menjadi bahan pangan yang lebih mudah ditanam serta dijangkau masyarakat.
Singkong dapat diolah menjadi berbagai makanan, baik sebagai makanan pokok maupun camilan. Dari sinilah kreativitas pengolahan aci berkembang dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sunda.
Aci memiliki karakteristik yang unik. Ketika dicampur dengan air panas, tepung ini berubah menjadi adonan yang lengket dan kenyal. Sifat tersebut membuat aci mudah dibentuk menjadi bola, lempengan, gulungan, atau isian makanan. Setelah dimasak, teksturnya dapat menjadi kenyal di bagian dalam, garing di bagian luar, atau lembut ketika disajikan bersama kuah.
Dari Dapur Sederhana ke Jajanan Jalanan
Pada mulanya, olahan aci tumbuh sebagai makanan rakyat, bahannya mudah ditemukan, proses pembuatannya tidak rumit, dan modal yang dibutuhkan relatif kecil. Faktor inilah yang membuat jajanan aci banyak dijual oleh pedagang keliling, pedagang pasar, serta penjual makanan di sekitar sekolah.
Kehadiran olahan aci di ruang-ruang publik turut membentuk kebiasaan jajan masyarakat Bandung. Anak-anak sekolah mengenalnya sebagai camilan terjangkau, sementara orang dewasa menikmatinya sebagai kudapan sore. Penyajiannya pun cukup beragam, ada yang ditusuk, dicocol, disiram bumbu, atau dibungkus untuk dibawa pulang.
Salah satu kekuatan olahan aci terletak pada kemampuannya menerima berbagai rasa. Adonan dasar yang cenderung netral dapat dipadukan dengan bawang putih, daun bawang, cabai, bumbu kacang, saus, keju, ayam, sosis, hingga oncom. Karena itu, satu jenis jajanan dapat melahirkan banyak variasi tanpa kehilangan ciri khas teksturnya.
Tak hanya itu, olahan aci dapat ditemukan dalam beragam bentuk, seperti cimol, cilok, cireng, cilor, cipuk, cibay, cilung, bakso aci, dan cilok goreng. Keragaman tersebut menunjukkan bahwa olahan aci bukan kuliner dengan satu resep baku, melainkan tradisi memasak yang terus dikembangkan oleh masyarakat.
(dir/dir)