Sejarah Olahan Aci Khas Bandung: dari Camilan Jadi Ikon Kuliner

Sejarah Olahan Aci Khas Bandung: dari Camilan Jadi Ikon Kuliner

Yogi Bagus Prasetyo - detikJabar
Senin, 12 Okt 2026 10:00 WIB
Ilustrasi cireng
Cireng (Foto: Getty Images/iStockphoto/Tyas Indayanti)
Bandung -

Di antara deretan kuliner yang melekat dengan identitas Bandung, olahan aci menempati tempat yang istimewa. Bahan sederhana berupa tepung tapioka atau tepung kanji dapat berubah menjadi beragam jajanan dengan tekstur kenyal, gurih, pedas, dan renyah.

Dari gerobak kaki lima di depan sekolah hingga kedai kuliner modern, nama seperti cireng, cilok, cimol, cilor, dan cibay telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat.

Olahan aci khas Bandung bukan sekadar camilan murah. Di balik bentuknya yang sederhana, terdapat sejarah tentang singkong, kreativitas masyarakat Sunda, kebiasaan jajan, serta kemampuan kuliner lokal beradaptasi dengan perubahan zaman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Singkong dan Awal Mula Tepung Aci

Aci merupakan sebutan dalam bahasa Sunda untuk tepung tapioka atau tepung kanji. Tepung ini dibuat dari pati singkong atau ubi kayu. Prosesnya dilakukan dengan memarut singkong, memerasnya menggunakan air, kemudian mengendapkan pati yang terkandung di dalam cairan tersebut. Endapan itu lalu dikeringkan hingga menghasilkan tepung berwarna putih dengan tekstur halus.

ADVERTISEMENT

Melansir dari laman resmi Pemerintah Kota Bandung, singkong mulai berkembang di Pulau Jawa setelah dibawa oleh bangsa Belanda. Tanaman ini kemudian tumbuh subur karena sesuai dengan kondisi tanah dan iklim setempat.

Pada abad ke-18, masyarakat Sunda mulai mengolah singkong menjadi tepung aci dan berbagai makanan berbahan dasar pati tersebut. Peran singkong semakin penting pada awal abad ke-20. Ketika beras sulit diperoleh dan harganya relatif mahal, singkong menjadi bahan pangan yang lebih mudah ditanam serta dijangkau masyarakat.

Singkong dapat diolah menjadi berbagai makanan, baik sebagai makanan pokok maupun camilan. Dari sinilah kreativitas pengolahan aci berkembang dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sunda.

Aci memiliki karakteristik yang unik. Ketika dicampur dengan air panas, tepung ini berubah menjadi adonan yang lengket dan kenyal. Sifat tersebut membuat aci mudah dibentuk menjadi bola, lempengan, gulungan, atau isian makanan. Setelah dimasak, teksturnya dapat menjadi kenyal di bagian dalam, garing di bagian luar, atau lembut ketika disajikan bersama kuah.

Dari Dapur Sederhana ke Jajanan Jalanan

Pada mulanya, olahan aci tumbuh sebagai makanan rakyat, bahannya mudah ditemukan, proses pembuatannya tidak rumit, dan modal yang dibutuhkan relatif kecil. Faktor inilah yang membuat jajanan aci banyak dijual oleh pedagang keliling, pedagang pasar, serta penjual makanan di sekitar sekolah.

Kehadiran olahan aci di ruang-ruang publik turut membentuk kebiasaan jajan masyarakat Bandung. Anak-anak sekolah mengenalnya sebagai camilan terjangkau, sementara orang dewasa menikmatinya sebagai kudapan sore. Penyajiannya pun cukup beragam, ada yang ditusuk, dicocol, disiram bumbu, atau dibungkus untuk dibawa pulang.

CilokCilok Foto: Getty Images/iStockphoto/Febrian Eka saputra

Salah satu kekuatan olahan aci terletak pada kemampuannya menerima berbagai rasa. Adonan dasar yang cenderung netral dapat dipadukan dengan bawang putih, daun bawang, cabai, bumbu kacang, saus, keju, ayam, sosis, hingga oncom. Karena itu, satu jenis jajanan dapat melahirkan banyak variasi tanpa kehilangan ciri khas teksturnya.

Tak hanya itu, olahan aci dapat ditemukan dalam beragam bentuk, seperti cimol, cilok, cireng, cilor, cipuk, cibay, cilung, bakso aci, dan cilok goreng. Keragaman tersebut menunjukkan bahwa olahan aci bukan kuliner dengan satu resep baku, melainkan tradisi memasak yang terus dikembangkan oleh masyarakat.

Makna di Balik Nama Cireng, Cilok, dan Cimol

Keunikan olahan aci khas Bandung tidak hanya terdapat pada rasa dan teksturnya, tetapi juga pada namanya. Banyak nama jajanan tersebut terbentuk dari akronim atau gabungan kata dalam bahasa Sunda.

Cireng merupakan singkatan dari "aci digoreng". Bentuknya biasanya pipih dan tebal, kemudian digoreng hingga bagian luarnya terasa garing sementara bagian dalamnya tetap kenyal. Cireng pada masa kini hadir dengan berbagai isian, seperti ayam, daging, sosis, keju, dan kornet.

Cilok berarti "aci dicolok". Adonan aci dibentuk bulat, kemudian direbus atau dikukus. Setelah matang, cilok ditusuk seperti sate dan disajikan bersama bumbu kacang, kecap, saus, atau sambal. Di sejumlah tempat, cilok juga diisi dengan daging, jando, keju, atau bahan lainnya.

Sementara itu, cimol berasal dari ungkapan "aci digemol". Aci dibentuk menjadi bulatan kecil lalu digoreng. Cimol biasanya disantap dengan bumbu tabur, sambal kering, atau bumbu kacang. Tekstur luarnya yang garing dan bagian dalamnya yang kenyal menjadi daya tarik utama camilan ini.

Ilustrasi CimolIlustrasi Cimol Foto: Getty Images/iStockphoto/Art is to answer society problem

Nama-nama tersebut memperlihatkan cara masyarakat Bandung menciptakan istilah yang singkat, mudah diucapkan, dan langsung menggambarkan proses pembuatannya. Kajian dalam jurnal Yanti dkk. (2026) menyebutkan bahwa cireng, cilok, cimol, dan cipuk merupakan contoh akronim kuliner yang banyak berkembang di Jawa Barat, terutama Kota Bandung.

Kreativitas yang Terus Berkembang

Setelah cireng, cilok, dan cimol dikenal luas, muncul berbagai olahan lain yang memperkaya khazanah jajanan aci. Cilor, misalnya, merupakan singkatan dari "aci telor". Aci berbentuk kecil dicelupkan ke dalam telur, kemudian digoreng dan ditusuk. Perpaduan rasa gurih telur dengan tekstur kenyal aci membuatnya populer di kalangan pelajar.

Ada pula cilung atau "aci digulung". Adonan aci dimasak bersama telur, lalu digulung menggunakan tusuk sate. Camilan ini biasanya diberi tambahan bumbu bubuk dengan rasa asin, pedas, keju, atau jagung bakar.

Cipuk dikenal sebagai "aci kerupuk". Bagian luar makanan ini menggunakan remahan kerupuk sehingga menghasilkan sensasi renyah, sedangkan bagian dalamnya tetap kenyal. Cibay atau "aci ngambay" dibuat dengan membungkus adonan aci menggunakan kulit lumpia. Hasilnya adalah perpaduan kulit yang garing dan isian yang lembut.

Perkembangan lain tampak pada bakso aci. Berbeda dari bakso berbahan dominan daging, bakso aci mengutamakan tekstur kenyal dari tepung tapioka. Penyajiannya dapat dilengkapi kuah berbumbu, pilus, siomay, batagor kering, pangsit, dan cabai. Inovasi ini membuat olahan aci semakin dekat dengan selera generasi muda.

Dari Cemilan Rakyat Menjadi Ikon Kuliner

Popularitas olahan aci terus meningkat karena mampu menjembatani tradisi dan tren. Resep dasarnya tetap sederhana, tetapi penyajiannya dapat mengikuti perkembangan selera konsumen. Cireng yang dahulu dijual tanpa isian kini dapat ditemukan dalam bentuk beku, kemasan siap goreng, hingga sajian dengan isian premium.

Media sosial juga membantu memperluas pengenalan kuliner ini. Foto makanan dengan lelehan keju, kuah pedas, bumbu tabur berwarna-warni, atau ukuran yang tidak biasa membuat olahan aci semakin mudah menarik perhatian. Namun, daya tahan kuliner ini tidak hanya bergantung pada tren. Akar kekuatannya tetap berada pada harga yang terjangkau, rasa yang akrab, dan tekstur yang khas.

Penelitian Yanti dkk. (2026) tentang penamaan kuliner Nusantara menemukan 63 akronim nama makanan. Sebanyak 47 di antaranya, atau 74,60 persen, terdiri atas dua suku kata. Pola pendek tersebut membuat nama makanan lebih mudah diucapkan dan diingat.

Dalam konteks olahan aci, nama seperti cireng, cilok, cimol, dan cilor bukan hanya label dagang, melainkan bagian dari identitas bahasa serta budaya masyarakat.

Pada akhirnya, sejarah olahan aci khas Bandung adalah kisah tentang kemampuan masyarakat mengelola keterbatasan menjadi peluang. Singkong yang mudah tumbuh diolah menjadi tepung, tepung sederhana dibentuk menjadi beragam makanan, lalu jajanan rakyat tersebut berkembang menjadi ikon kuliner yang dikenal di berbagai daerah.

Halaman 3 dari 2
(dir/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads