Mengenal 5 Pusat Produksi Tempe di Bandung

Yogi Bagus Prasetyo - detikJabar
Senin, 12 Okt 2026 06:00 WIB
Ilustrasi tempe. (Foto: Getty Images/iStockphoto)
Bandung -

Tempe merupakan salah satu pangan yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Makanan berbahan dasar kedelai ini hadir di meja makan dalam berbagai bentuk, mulai dari tempe goreng, orek, bacem, mendoan, hingga keripik.

Di Bandung dan kawasan sekitarnya, tempe tidak hanya dibuat oleh industri besar, tetapi juga oleh perajin rumahan yang mempertahankan proses produksi secara turun-temurun.

Keberadaan sentra perajin tempe membuat proses pengolahan kedelai menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat. Dari gang sempit, dapur produksi, hingga rumah tempe dengan standar higienis, setiap kawasan memiliki karakter tersendiri. Berikut lima sentra perajin tempe yang dikenal di wilayah Bandung Raya.

1. Kawasan Strategis Kota (KSK) Cibuntu

Berbicara mengenai olahan kedelai di Kota Kembang, ingatan kolektif masyarakat pasti langsung tertuju pada kawasan Cibuntu. Secara administratif, wilayah sentra ini berlokasi di sekitar Jalan Aki Padma dan Jalan Terusan Holis, masuk ke dalam Kelurahan Babakan, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung.

Kawasan legendaris ini telah dikukuhkan dalam Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bandung sebagai salah satu Kawasan Strategis Kota (KSK) khusus untuk Sentra Tahu dan Tempe Cibuntu.

Aktivitas produksi olahan kedelai di perkampungan padat ini telah berlangsung secara turun-temurun sejak era 1950-an. Menariknya, di lokasi ini pula berdiri kantor pusat Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (KOPTI) Kota Bandung yang menaungi ratusan perajin aktif.

Wangi khas rebusan kedelai dan kepulan asap dari tungku-tungku produksi menjadi pemandangan harian yang lumrah di sini. Mayoritas tempe segar hasil produksi Babakan Ciparay langsung didistribusikan secara masif untuk memenuhi lapak-lapak sayur di pasar induk regional seperti Pasar Ciroyom dan Pasar Caringin.

2. Kampung Tempe Cikarees

Menyeberang ke arah selatan menuju wilayah administratif Kabupaten Bandung, kita akan menemukan Kampung Cikarees yang terletak di wilayah RW 21, Kecamatan Baleendah. Wilayah urban yang padat penduduk di dekat bantaran Sungai Citarum ini sudah lama dikenal sebagai kampung perajin tempe tradisional.

Industri rumahan di Cikarees tumbuh secara swadaya dan berkelompok. Warga memanfaatkan area belakang rumah mereka sebagai tempat perendaman, pengupasan kulit ari kedelai, hingga proses pembungkusan menggunakan daun pisang maupun plastik.

Pasokan tempe dari Kampung Cikarees memegang peranan vital dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan di pasar-pasar rakyat wilayah Bandung Selatan, terutama Pasar Baleendah dan Pasar Banjaran.

3. Sentra Modern Cipanileuman, Tegalluar

Perkembangan infrastruktur di timur Bandung rupanya berjalan beriringan dengan modernisasi industri pangan lokalnya. Di kawasan Cipanileuman, Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang yang posisinya tidak jauh dari area stasiun kereta cepat kini tumbuh menjadi basis produksi tempe berskala menengah yang dikelola secara modern. Salah satu entitas usaha yang menonjol di kawasan ini adalah produsen Tempe Padasuka.

Berbeda dengan industri rumahan konvensional yang kerap terkendala masalah higienitas tempat, rumah produksi di kawasan Tegalluar ini mengedepankan standardisasi pengolahan pangan yang bersih dengan penggunaan air bersih terfiltrasi serta ruangan fermentasi bersuhu konstan terkendali.

Langkah modernisasi ini membuat produk tempe asal Tegalluar berhasil menembus pasar modern, jaringan hotel, usaha katering skala besar, hingga ritel-ritel swalayan terkemuka di penjuru Bandung Raya.




(orb/orb)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork