Dilema Perajin Tempe Cimahi: Kedelai Mahal, Plastik Ikut Naik

Dilema Perajin Tempe Cimahi: Kedelai Mahal, Plastik Ikut Naik

Whisnu Pradana - detikJabar
Selasa, 07 Apr 2026 13:34 WIB
Menengok proses pembuatan tempe di Cimahi.
Menengok proses pembuatan tempe di Cimahi. (Foto: Whisnu Pradana/detikJabar)
Cimahi -

Produsen tempe di Kota Cimahi mulai pusing menghadapi lonjakan harga bahan baku kedelai serta plastik pembungkus dalam beberapa hari terakhir.

Saat ini, harga kedelai di pasaran telah menyentuh angka Rp10.500 hingga Rp10.700 per kilogram. Padahal, harga normal kedelai impor sebagai bahan baku utama biasanya berkisar antara Rp8.000 sampai Rp9.000 per kilogram. Kondisi tersebut membuat para perajin kian terjepit di tengah lesunya ekonomi nasional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sekarang harga kedelai sudah melejit, meskipun belum terlalu tinggi. Sekitar Rp10.500 bahkan ada yang Rp10.800 per kilogram di pasar," kata produsen tempe sekaligus Ketua Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Kopti) Kota Cimahi, Kusnanto, saat ditemui Selasa (7/4/2026).

Kusnanto menjelaskan bahwa kenaikan harga kedelai impor ini tidak terlepas dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Selain itu, faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik yang mengancam penutupan Selat Hormuz turut berdampak pada stabilitas harga komoditas global.

ADVERTISEMENT

"Faktornya karena dollar katanya ya, tapi kan walaupun dollar naik harusnya ada standar harga di kita berapa. Kita pengusaha ya ikut saja, yang penting ketersediaan ada. Daripada harga murah tapi barangnya enggak ada, ya repot juga kalau begitu," ujar Kusnanto.

Selain tercekik harga kedelai, produsen tempe juga dipusingkan oleh kenaikan harga plastik bening yang digunakan sebagai pengemas. Opsi untuk beralih kembali menggunakan daun pisang pun dinilai tidak realistis karena biaya operasionalnya justru jauh lebih mahal.

"Terus harga plastik juga kan lagi naik, berdampak pastinya. Misalnya Rp30 ribu per pax naik jadi Rp50 ribu per pax, ya kan lumayan selisihnya. Kalau pakai daun pisang juga enggak mungkin, justru lebih mahal," ujar Kusnanto.

Untuk menyiasati kenaikan harga kedelai dan plastik tersebut, para perajin terpaksa mengecilkan dimensi tempe. Sebagai gambaran, tempe seharga Rp5.000 kini dibuat seukuran 300 gram, lalu ukuran 400 gram untuk harga Rp6.000, dan ukuran paling besar 900 gram dijual seharga Rp12.500.

"Dampaknya kita juga mengurangi produksi 30 persenan, dan market di pasar memang sepi, daya beli menurun. Untuk ukuran kita perkecil tapi enggak setipis ATM juga. Harga normal, jadi nanti kalau kedelai turun ukuran kita kembalikan lagi," ujar Kusnanto.

(orb/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads