Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berdampak langsung pada produksi tempe di Kabupaten Bandung. Para pelaku UMKM terpaksa memutar otak, salah satunya memperkecil ukuran produk agar tetap bisa bertahan.
Lonjakan harga kedelai impor membuat para perajin terjepit. Kondisi ini kian pelik lantaran permintaan pasar justru merosot tajam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau kondisi penjualan sebenarnya, kan daya beli masyarakat memang sedang turun ya, di tengah gejolak kurs dolar hari ini kan. Terakhir ini kan kurs dolar kan sampai Rp18.000 ya, bahkan lebih sedikit," ujar pengusaha tempe, Ghufron, saat ditemui di Kampung Mekarsari, Kecamatan Baleendah, Senin (8/6/2026).
Ghufron menyebut melemahnya nilai tukar rupiah memicu penurunan daya beli masyarakat. Saat ini, para perajin hanya bisa berupaya bertahan di tengah situasi yang tidak menentu.
"Nah, ini kan yang menjadikan daya beli masyarakat ini menurun gitu kan. Walaupun inflasinya tidak se-inflasi di tahun 1998 dulu gitu kan. Tapi memang sangat berdampak ya, daya beli masyarakat itu," katanya.
Ia mengungkapkan harga kedelai terus merangkak naik setiap pekan sejak sebulan terakhir. Rata-rata kenaikan mencapai Rp200 hingga Rp300 per kilogram.
"Iya, memang ini kan akumulasi kenaikan harga di beberapa bulan angka ini itu kan. Yang tadinya dari Rp9.000, Rp9.500 lah sampai hari ini Rp11.000 itu kan kenaikan yang akumulatif, bukan kenaikan yang serentak, bukan. Jadi naik sejak satu bulan lalu," jelasnya.
Berbagai strategi diterapkan pengusaha tahu dan tempe untuk menyiasati kenaikan harga bahan baku tersebut. Salah satu langkah yang paling umum adalah dengan menyusutkan ukuran produk.
"Kalau pengrajin tempe itu tidak menaikkan harga kiloan, tidak menaikkan harga tapi lebih mengecilkan ukuran, lebih ke mengurangi ukuran. Tapi kalau untuk tahu biasanya dinaikkan," ungkapnya.
Di tengah kondisi sulit ini, ia berharap harga kedelai kembali stabil. Selain itu, pemerintah diharapkan mampu menjamin ketersediaan stok kedelai bagi para perajin lokal.
"Dari dulu juga tidak neko-neko. Jadi apa yang diinginkan para pengrajin tahu tempe se-Indonesia bahkan, itu kemauannya hanya satu hanya stabilitas harga dan jaminan stok gitu loh," pungkasnya.
(orb/orb)
