Harga Kedelai Melonjak, Polres Cianjur Awasi Penimbunan

Harga Kedelai Melonjak, Polres Cianjur Awasi Penimbunan

Ikbal Selamet - detikJabar
Minggu, 07 Jun 2026 21:00 WIB
Kapolres Cianjur AKBP A Alexander Yurikho Hadi
Kapolres Cianjur AKBP A Alexander Yurikho Hadi (Foto: Ikbal Selamet/detikJabar)
Cianjur -

Lonjakan harga kedelai impor yang dipicu melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mendapat perhatian serius dari Polres Cianjur. Kepolisian memastikan akan mengawasi distribusi dan penjualan kedelai guna mencegah praktik penimbunan yang dapat memperparah kondisi para perajin tahu dan tempe.

Langkah tersebut dilakukan menyusul meningkatnya beban yang harus ditanggung para pengusaha tahu dan tempe di Kabupaten Cianjur. Sejumlah pelaku usaha bahkan dilaporkan menghentikan produksi karena tingginya harga bahan baku yang tidak sebanding dengan permintaan pasar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kapolres Cianjur AKBP A Alexander Yurikho Hadi menegaskan pihaknya tidak akan segan mengambil tindakan hukum terhadap pihak-pihak yang memanfaatkan situasi untuk meraup keuntungan secara sepihak.

"Tentu kami akan turunkan tim dan lakukan upaya penegakan hukum jika didapati pihak yang melakukan perbuatan dengan orientasi keuntungan sepihak yang dapat menjadikan harga bahan baku berupa kedelai menjadi tidak ekonomis," kata dia, Minggu (7/6/2026).

ADVERTISEMENT

Menurut Alexander, kenaikan harga kedelai telah memberikan dampak nyata terhadap keberlangsungan usaha para perajin tahu dan tempe di Cianjur. Bahkan, beberapa pelaku usaha terpaksa menghentikan operasional karena tidak mampu menanggung biaya produksi yang terus meningkat.

"Jangan sampai ada yang menimbun, membuat pengusaha di Cianjur semakin terdampak. Makanya kami akan lakukan berbagai langkah antisipasi dan penindakan," kata dia.

Polres Cianjur juga membuka ruang bagi para pengusaha untuk melaporkan apabila menemukan dugaan praktik penimbunan ataupun permainan harga yang merugikan pelaku usaha.

"Silakan informasikan pada kami, akan kami proses hukum," ucap dia.

Sementara itu, Ketua Koperasi Perajin Tahu Tempe Indonesia (Kopti) Kabupaten Cianjur, Hugo Siswaya, mengungkapkan bahwa dampak kenaikan harga kedelai impor sudah dirasakan luas oleh para perajin. Menurutnya, pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika membuat harga kedelai terus merangkak naik hingga mencapai Rp10.500 per kilogram.

"Efek dolar naik atau nilai tukar rupiah ke dolar Amerika melemah, harga kedelai impor jadi naik. Sekarang tembus Rp 10.500 per kilogram. Akibatnya pengusaha jadi merugi, karena biaya operasional jadi bertambah," kata dia.

Hugo menambahkan, persoalan yang dihadapi pengusaha bukan hanya soal kenaikan harga bahan baku. Kondisi semakin berat karena permintaan pasar juga mengalami penurunan sehingga keuntungan yang diperoleh tidak mampu menutupi biaya produksi.

"Kalaupun harga bahan baku naik, asalkan permintaan pasar atau penjualan juga naik tidak akan masalah. Yang berdampak besar itu, bahan baku susah, harganya naik, dan permintaan pasar menurun. Makanya diharapkan ada berbagai langkah dari pemerintah untuk mendukung para pengusaha tahu dan tempe," pungkasnya.

Di tengah tekanan tersebut, para perajin berharap pengawasan distribusi kedelai dapat mencegah praktik penimbunan yang berpotensi memperburuk situasi. Selain itu, mereka juga menantikan langkah konkret dari pemerintah untuk menjaga stabilitas harga bahan baku dan membantu keberlangsungan usaha tahu-tempe yang menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat.



(dir/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads