Nyokelat, Tren Baru yang Ingin Tumbuh di Tanah Pasundan

Wisma Putra - detikJabar
Rabu, 17 Jun 2026 09:30 WIB
Biji Cokelat yang sudah diroaster. (Foto: Wisma Putra/detikJabar)
Bandung -

Ngeteh telah lama menjadi bagian dari keseharian masyarakat Jawa Barat, terutama di Kota Bandung. Dalam beberapa tahun terakhir, kebiasaan menikmati kopi juga berkembang pesat dan menjelma menjadi gaya hidup baru, terutama setelah pandemi COVID-19.

Fenomena tersebut terlihat dari menjamurnya coffee shop di berbagai sudut Kota Kembang. Tak hanya menjadi tempat menikmati kopi, kedai-kedai tersebut juga berfungsi sebagai ruang berkumpul, bekerja, hingga bersosialisasi. Di sisi lain, industri kopi Jawa Barat terus berkembang. Bahkan, kopi asal Jawa Barat kini rutin diekspor ke berbagai negara di Asia, Eropa, hingga Amerika.

Di tengah dominasi budaya ngeteh dan ngopi, seorang pemuda asal Kota Bandung, Fadillah Satria, berupaya mengenalkan alternatif gaya hidup baru kepada masyarakat, khususnya kalangan muda, yakni budaya "nyokelat" atau menikmati minuman cokelat (drinking chocolate).

Pria yang akrab disapa Fadil itu merupakan Founder Dillco Chocolate. Ia telah berkecimpung di industri cokelat artisan sejak 2013 dan hingga kini konsisten memperkenalkan minuman cokelat sebagai produk yang memiliki potensi tren tak kalah besar dibanding teh maupun kopi.

Dalam perbincangan dengan detikJabar, Fadil memperkenalkan beragam produk berbahan baku cokelat yang dikembangkannya, mulai dari cokelat siap seduh hingga minuman cokelat dalam kemasan.

"Produknya banyak dan beragam," kata Fadil membuka perbincangan, Senin (15/6/2026).

Menurut Fadil, saat ini masyarakat masih lebih mengenal minuman cokelat dalam bentuk produk pabrikan yang umumnya memiliki kandungan gula cukup tinggi. Karena itu, selain menjual produk, ia juga berupaya mengedukasi masyarakat mengenai cokelat berkualitas atau fine flavor chocolate, sebagaimana edukasi yang selama ini berkembang di industri kopi.

Ia menilai perkembangan industri cokelat artisan masih tertinggal dibanding industri kopi. Jumlah pelaku usaha yang fokus pada cokelat berkualitas juga masih relatif sedikit.

Founder Dillco Chocolate Fadillah Satria. Foto: Wisma Putra/detikJabar

"Saat ini masih perlu diedukasi sih menurut saya terkait fine flavor cokelat itu seperti apa. Kalau kopi kan kita lihat banyak banget, tapi kalau cokelat ini masih sedikit pelaku usahanya. Jadi cokelat-cokelat sekarang banyak gulanya, gitu ya. Kalau Dillco Chocolate kan yang dijual bener-bener cokelat," ungkap Fadil.

"Jadi kita perlu kerja lebih keras untuk mengenalkan cokelat enak," tambah pria yang mulai mengenal dunia cokelat saat menempuh pendidikan di Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran angkatan 2012 tersebut.

Terkendala Bahan Baku

Meski telah 13 tahun berkecimpung di industri cokelat artisan, Fadil mengaku ketersediaan bahan baku kakao berkualitas di Jawa Barat masih menjadi tantangan utama. Menurutnya, mencari bahan baku cokelat tidak semudah memperoleh teh maupun kopi.

Sebagai pelaku usaha skala kecil, ia juga harus bersaing dengan industri besar dalam memperoleh biji kakao berkualitas.

"Ya memang bener tuh bahan baku kita tarik-tarikan sama industri besar. Sehingga artisan cokelat kayak kita, agak sulit dapat bahan baku yang bagus," ujarnya.

Selama menjalankan usahanya, Fadil memilih fokus pada produksi cokelat premium dengan pasar yang lebih spesifik. Strategi tersebut diambil untuk menjaga kualitas sekaligus mengangkat citra cokelat Jawa Barat agar dapat sejajar dengan komoditas teh dan kopi.

"Sekarang lebih ke kualitasnya daripada ngejar volume. Kita ngejarnya cokelat-cokelat berkualitas," tuturnya.

Saat ini, bahan baku kakao yang digunakan berasal dari sejumlah daerah di Jawa Barat, seperti Rajamandala di Kabupaten Bandung Barat, Pangandaran, hingga Sukabumi Selatan. Menurutnya, tidak semua wilayah di Jawa Barat memiliki perkebunan kakao yang mampu memasok kebutuhan industri secara berkelanjutan.

"Jadi memang aksesnya cukup jauh dari Kota Bandung," ujarnya.

Buah kakao yang hasil petani di Jabar. Foto: Wisma Putra/detikJabar

Produk-produk Dillco Chocolate saat ini dipasarkan di wilayah Bandung dan sejumlah kota lainnya di Jawa Barat.

"Ya kita fokus di drinking chocolate, jadi kita cukup banyak support ke restoran, cafe dan marketplace," ucapnya.

Fadil berharap Pemerintah Provinsi Jawa Barat dapat mendorong pengembangan perkebunan kakao di berbagai daerah agar pelaku usaha tidak lagi kesulitan memperoleh bahan baku.

"Cocok banget. Kalau bahan baku mahal menurut saya nggak jadi masalah, cuman harus ada, kalau ada itu lebih oke," tuturnya.

Selain itu, ia juga berharap pemerintah turut membantu memperkenalkan budaya mengonsumsi cokelat kepada masyarakat.

"Tapi yang pasti ya kita harus ngenalin dulu ke pecinta coklatnya. Jadi tak kenal maka tak sayang, jadi harus sayangin dulu nih," terang Fadil.




(wip/dir)

Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork