Upaya Membangun Industri Teh Jabar yang Naik Kelas

Upaya Membangun Industri Teh Jabar yang Naik Kelas

Nur Khansa Ranawati - detikJabar
Selasa, 19 Mei 2026 17:30 WIB
Wakil Manager Regional detikcom Erna Mardiana (kiri) dan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat Nining Yuliastian
Wakil Manager Regional detikcom Erna Mardiana (kiri) dan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat Nining Yuliastian
Bandung -

Di tengah merebaknya tren konsumsi kopi di Jawa Barat lewat kemunculan coffee shop di berbagai tempat, industri teh Jabar masih menyimpan potensi besar yang belum sepenuhnya tergarap. Meski jadi penghasil teh terbesar di Indonesia, komoditas ini dinilai belum berhasil dibangun sebagai gaya hidup premium yang mampu mendongkrak nilai jualnya.

Padahal, sejarah teh di Jawa Barat sudah mengakar sejak era kolonial. Pada medio 1800-an, penanaman teh secara besar-besaran di Wanayasa, Purwakarta, menjadi salah satu tonggak berkembangnya perkebunan teh di tanah Priangan.

Hingga kini, Jawa Barat masih menyuplai sekitar 80 persen produksi teh nasional sekaligus menopang ekspor teh Indonesia ke berbagai negara. Namun, di balik besarnya angka tersebut, sebagian besar teh Jabar masih dijual dalam bentuk curah dengan nilai ekonomi yang rendah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi tersebut membuat Pemerintah Provinsi Jawa Barat mulai mendorong hilirisasi dan rebranding industri yang sarat nilai histori tersebut. Tujuannya, agar komoditas teh bisa naik kelas dan memiliki daya saing global seperti industri kopi.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat Nining Yuliastiani mengatakan, kopi sebenarnya pernah berada di posisi yang sama dengan teh saat ini. Namun, industri kopi berhasil berkembang karena mampu membangun budaya konsumsi sekaligus branding yang kuat.

ADVERTISEMENT

"Kalau kita jujur, kopi pernah mengalami hal yang sama. Lalu mulai muncul budaya ngopi seperti 'Starbucks Culture'. Dari sana kopi berhasil dijual secara global dengan branding bagus, maka dari konsumsi massal berubah jadi lifestyle," ungkap Nining saat berbincang di podcast Ngobrol Bareng Teteh di detikJabar, Selasa (19/5/2026).

Menurutnya, persoalan utama teh Jawa Barat saat ini ialah posisi komoditas tersebut yang masih dijual sebagai produk massal dengan harga murah. Petani teh, kata dia, belum menikmati nilai ekonomi yang layak karena hasil panen hanya dijual ke pengepul atau pabrik dalam bentuk curah.

"Petani menjual ke pabrik dengan harga yang sangat murah per-kilo atau per-tiga kilo ke pengepul. Harganya jauh di bawah biaya produksi. Petani jadi seperti buruh meskipun dia punya lahan," ujarnya.

Kampung Barusel di ketinggian sekitar 2.200 mdpl jadi kampung tertinggi di Jawa Barat. Sebagian menyebut sebagai kampung Brussel. Kampung Barusel berada di tengah-tengah hamparan perkebunan teh yang sangat luas. Perkebunan teh Rancabali.Kampung Barusel di ketinggian sekitar 2.200 mdpl jadi kampung tertinggi di Jawa Barat. Sebagian menyebut sebagai kampung Brussel. Kampung Barusel berada di tengah-tengah hamparan perkebunan teh yang sangat luas. Perkebunan teh Rancabali. Foto: Joy Noviyana/dtraveler

Di sisi lain, Nining menjelaskan, industri kopi saat ini sudah berkembang hingga memasuki gelombang ketiga atau third wave coffee. Pada tahap itu, konsumen tidak lagi hanya membeli produk untuk diminum, tetapi juga mulai memperhatikan asal-usul, hingga proses produksi kopi tersebut.

"Nah kopi sekarang sudah sampai gelombang ketiga. Orang enggak cuma pengen minum kopi aja, tapi ingin tahu kopinya ditanam di mana, siapa petaninya, bagaimana proses produksinya, sampai ada indikasi geografisnya atau tidak," tuturnya.

Menurutnya, perubahan pola konsumsi itu yang membuat kopi berhasil naik kelas menjadi bagian dari gaya hidup. Kehadiran coffee shop dan budaya nongkrong pun ikut memperkuat citra premium pada kopi di kalangan anak muda.

Sementara itu, teh dinilai belum berhasil mencapai posisi serupa. Di Indonesia, teh masih dipandang sebagai minuman sehari-hari yang murah, mudah ditemukan, dan belum memiliki identitas kuat sebagai produk premium.

"Nah teh belum pada tahap itu posisinya. Kita belum branding teh dengan benar. Kita belum merasa teh adalah produk premium yang layak dijual dengan nilai tinggi," katanya.

Tak Kalah dari Teh Luar Negeri

Nining memaparkan, kualitas teh Jawa Barat dinilai tidak kalah dibandingkan produk teh unggulan dunia seperti Darjeeling dari India, teh Matcha Jepang maupun teh Ceylon asal Sri Lanka. Faktor iklim dan kondisi geografis Jawa Barat disebut sangat mendukung untuk menghasilkan teh berkualitas tinggi.

"Iklim Jabar itu sangat sesuai untuk menumbuhkan teh dengan kualitas tinggi. Bahkan enggak kalah dengan Darjeeling India, matcha Jepang dan Sri Lanka," ujarnya.

Ia menilai, salah satu kekuatan yang belum dimaksimalkan dari industri teh Indonesia dan Jawa Barat khususnya, ialah identitas geografis dan storytelling produk. Di negara-negara maju penghasil teh, unsur budaya dan filosofi justru menjadi bagian penting dalam meningkatkan nilai jual.

"Di China dan Jepang, teh itu bukan cuma minuman. Ada ritual pengolahan sampai cara minumnya yang benar-benar dijalankan sesuai filosofinya. Ini yang belum kita lakukan," kata Nining.

Menurutnya, teh yang memiliki identitas geografis jelas akan memiliki nilai jual lebih tinggi. Konsumen global saat ini juga disebut semakin memperhatikan proses budidaya hingga keberlanjutan lingkungan dari sebuah produk.

"Akan lebih mahal teh yang sudah teridentifikasi geografis dibandingkan yang belum. Karena ada storytelling-nya. Orang luar sekarang juga mulai lihat bagaimana diolah, ada pestisida atau tidak, sampai bagaimana kesejahteraan petaninya," tuturnya.

Selain persoalan branding, industri teh Jawa Barat juga menghadapi tantangan dari sisi produksi. Berdasarkan data Disperindag Jabar, sekitar 50 persen kebun teh di Jawa Barat saat ini dimiliki masyarakat dengan luas rata-rata dua hingga tiga hektare.

Mayoritas perkebunan rakyat itu, kata Nining, masih menggunakan pola budidaya konvensional sehingga produktivitasnya rendah. Kondisi tersebut membuat regenerasi tenaga kerja di sektor perkebunan teh semakin sulit terjadi.

"Karena produktivitas rendah, akhirnya anak muda enggak tertarik. Tidak sedikit lahan yang kemudian dialihfungsikan atau dijual," ujarnya.

Data Disperindag Jabar menunjukkan luas lahan teh di Jawa Barat terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2017, luas perkebunan teh di Jabar masih mencapai sekitar 97 ribu hektare. Namun saat ini luasnya tinggal sekitar 74 ribu hektare.

"Itu karena alih fungsi lahan. Akhirnya produksi pun menurun, padahal permintaan global meningkat terus. Kita jadi berkompetisi dengan negara lain seperti Kenya," jelasnya.

Saat ini, ia memaparkan, Kenya mulai memasok teh hasil produksi mereka ke beberapa negara yang juga merupakan sasaran ekspor Indonesia selama ini, termasuk Malaysia dan Amerika. Bila tak berbenah, posisi teh Indonesia di pasar global semakin terancam.

"Kenya punya produksi teh yang sustainable dan konsisten. Mereka mulai masuk ke beberapa negara yang sebelumnya jadi pasar kita juga, termasuk Malaysia dan Amerika," ujarnya.

"Suatu saat hal ini akan mengurangi jumlah ekspor. Mau tidak mau harus berubah, dari komoditas massal ke branding seperti kopi," lanjutnya.

Karena itu, Pemprov Jabar kini mulai mendorong hilirisasi industri teh agar produk yang dijual tidak lagi sekadar bahan mentah. Pengolahan hingga penguatan identitas produk dinilai penting agar nilai tambah bisa dinikmati langsung oleh petani dan pengusaha lokal.

"Kita ingin rebranding industri teh. Kita harus kaitkan preferensi pasar dengan branding-nya. Teh seperti apa yang punya nilai jual tinggi, itu yang kita bangun," tutur Nining.

Sebagai salah satu upaya mendorong transformasi tersebut, Disperindag Jabar juga akan menggelar West Java International Industry and Trade Expo (WIITEX) pada 12-14 Juni di Summarecon Mall Bandung.

Dalam kegiatan itu, pelaku usaha teh, kopi dan kakao akan dipertemukan dengan buyer, trader dan investor melalui business matching, pitching hingga workshop.

"Kita harus branding agar yang terjadi pada kopi juga bisa terjadi pada industri teh. Teh adalah warisan budaya, secara history sudah kuat. Tinggal bagaimana kita mengembangkan dan membangun branding-nya agar bisa naik kelas," tutupnya.

(yum/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads