Mengenal Wangi Coffee, Kopi Organik dari Pangalengan

Mengenal Wangi Coffee, Kopi Organik dari Pangalengan

Wisma Putra - detikJabar
Senin, 15 Jun 2026 00:05 WIB
WIITEX 2026.
Ketua Kelompok Tani Wangi Sawargi Asep Agus Mulyana. (Foto: Wisma Putra/detikJabar)
Bandung -

Wangi Coffee, itulah nama produk kopi organik dari Kabupaten Bandung. Kopi asal Kecamatan Pangalengan ini menjadi satu dari sekian banyak produk yang dipamerkan di West Java International Industry and Trade Expo (WIITEX) 2026.

Ketua Kelompok Tani Wangi Sawargi, Asep Agus Mulyana, mengatakan kopi organik yang diproduksi kelompoknya ditanam di lahan seluas 25 hektare milik Perum Perhutani di Laspada, Gunung Tilu, Kecamatan Pangalengan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Wangi Coffee ini asal usulnya dari kesenangan saya dengan aroma kopi, dari situ kepikiran ingin buat produk kopi, karena senang dengan aromanya saya buat produk ini," kata Asep dijumpai di WIITEX 2026 yang digelar di Bandung, Minggu (14/6/2026).

Asep berujar, jenis kopi yang ditanamnya sama dengan kopi pada umumnya. Namun, yang membedakan terletak pada proses produksi.

ADVERTISEMENT

"Secara fisik sama, yang membedakannya itu aroma, ada racikan khusus di proses roasting gimana caranya aromanya muncul," ujarnya.

Dalam penanaman kopi, Asep menyebut kelompoknya menggunakan pupuk organik demi menjaga kualitas produk yang dihasilkan.

"Organik ini, kita memanfaatkan limbah dari kopi sendiri, dari kulit kopi, lalu juga kotoran kambing, pemupukan setahun dua kali tanpa ada tambahan kimia," ungkapnya.

Asep menuturkan, penggunaan pupuk organik ini bisa menghemat biaya pemupukan dan penyemprotan.

"Kenapa organik? Yang dikejar cita rasanya ya," tuturnya,

Mengenai perjalanan bisnisnya, Asep menyebut pihaknya mampu menghasilkan 4 ton kopi per sekali panen, bahkan kelompoknya bisa mencapai angka 10 ton.

"Tahun 2026 ada penurunan karena gagal panen, penyebabnya cuaca ekstrem, hujan berlebih dan ada pembusukan," tuturnya.

Asep menuturkan, selain meningkatkan kesejahteraan petani, budidaya kopi juga membantu memperbaiki lahan kritis di wilayah Pangalengan.

"Pemberdayaan masyarakat dan penghijauan bagai hutan yang gundul. Bisa meminimalisir bencana dan lahan teh yang dibabat diganti sama tanaman kopi dan pohon kayu damar," tuturnya.

Upaya Pemprov Ciptakan Industri Kopi Jabar

Wakil Gubernur Jabar, Erwan Setiawan, berharap WIITEX 2026 dapat memberikan dampak positif bagi industri di Jawa Barat. Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak boleh sekadar menjadi pameran, melainkan harus menjadi wadah nyata bagi kemajuan industri Jabar.

"Kegiatan ini bukan hanya pameran, tapi ruang strategis untuk mempertemukan potensi daerah dengan peluang pasar yang lebih luas, kami percaya melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, komunitas dan para pelaku industri, Jawa Barat akan semakin kuat sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," kata Erwan.

WIITEX 2026.Wakil Gubernur Jabar, Erwan Setiawan menghadiri WIITEX 2026 di Bandung. (Foto: Wisma Putra/detikJabar)

"Apa yang kita lakukan hari ini, bukan hanya keberhasilan penyelenggaraan acara, tetapi juga optimisme untuk masa depan perdagangan dan industri Jabar yang lebih maju," tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat, Nining Yuliastiani mengatakan, meski rupiah melemah, khusus petani kopi yang melakukan ekspor hal itu berdampak positif. Namun, Nining menyebut petani akan terbentur oleh melonjaknya biaya logistik.

"Logistik ini memang, dampaknya apakah kita bisa berdaya saing dengan kompetitor kita dengan Vietnam, Kolombia dan India. Pasar ekspor kita terbesar ke Amerika, kebetulan untuk ART dibandingkan Vietnam dan India kita lebih diuntungkan," ujarnya.

Meski demikian, untuk ekspor kopi ke negara tujuan seperti Amerika Serikat, Nining menyebut petani dan pembeli bisa melakukan negosiasi.

"Untuk logistik ada penyesuaian harga dengan pembeli di sana, intinya kalau semua semua proses yang terjadi dari mulai bahan baku dan proses produksi bisa diproduksi dalam negeri daya saing kita bisa lebih bagus," jelasnya.

Nining menambahkan bahwa industri kopi di Jawa Barat terus mengalami peningkatan. Hal itu dapat dilihat dari tren hasil produksi dan penjualan kopi dari Jawa Barat.

"Tahun 2025, ekspor kopi nilai nya mencapai 33,5 juta USD dengan volume kopi 5,8 juta ton. Itu naik terus. Banyak cari kopi dari Jabar, seperti Pakistan tertarik kopi Arabika kita," tuturnya.

Selain memberdayakan petani agar mampu menembus pasar ekspor, Nining menegaskan bahwa pihaknya terjun langsung mendampingi proses penanaman kopi.

"Upaya kita melihat masalah dari hulu ke hilir. Kita lakukan promosi, perbaikan produk dan meningkatkan produk, kita terus dorong. Permasalahan hulu di kebunnya, masalah panen dan mengolah kita edukasi dengan intens agar produknya bagus dan berkualitas," pungkasnya.

(wip/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads