Lebaran Idulfitri selalu identik dengan tradisi berkumpul bersama keluarga, bersilaturahmi, dan menikmati berbagai hidangan khas yang hanya muncul pada momen tertentu.
Di tanah Sunda, selain makanan utama seperti opor ayam atau kupat (ketupat), ada juga berbagai kudapan tradisional Sunda yang hampir selalu hadir di meja tamu saat Lebaran.
'Kue' tradisional ini biasanya disajikan untuk menyambut tamu yang datang bersilaturahmi. Ada yang manis seperti dodol atau angleng, ada juga yang gurih seperti rengginang. Menariknya, sebagian besar makanan tradisional ini dibuat dari bahan sederhana seperti beras ketan, kelapa, gula merah, dan tepung beras.
Beberapa di antaranya bahkan sudah menjadi bagian dari tradisi turun-temurun di masyarakat Sunda. Meski kini banyak kue modern bermunculan, 'kue' tradisional Sunda saat Lebaran tetap memiliki tempat tersendiri karena cita rasanya yang khas.
9 Kudapan Tradisional Sunda yang Selalu Ada Saat Lebaran
1. Dodol
Dodol merupakan salah satu kudapan legendaris dari Jawa Barat yang sering menjadi suguhan khas saat Lebaran. Kudapan ini memiliki tekstur kenyal dan rasa manis yang khas karena dibuat dari campuran tepung ketan, gula merah, santan, dan gula pasir.
Proses pembuatannya cukup lama karena adonan harus dimasak dan diaduk terus-menerus hingga mengental dan matang sempurna. Saat Lebaran, dodol biasanya disajikan dalam bungkus kecil-kecil. Dodol yang dibuat secara tradisional di rumah-rumah biasanya memiliki cita rasa orisinal gula merah yang khas.
Namun, dodol yang dijual di pasaran, seperti Dodol Garut, selain rasa orisinal gula merah, juga memiliki banyak varian seperti cokelat, durian, wijen, hingga nanas.
2. Wajit
Wajit adalah kue tradisional yang terkenal di tatar Sunda. Wajit paling tersohor adalah wajit dari daerah Cililin, Bandung Barat. Kudapan ini terbuat dari beras ketan, gula merah, dan santan yang dimasak hingga menghasilkan tekstur lengket dan rasa manis gurih.
Ciri khas wajit adalah bungkusnya yang menggunakan daun jagung kering. Bentuknya kecil memanjang sehingga mudah disantap. Tiga kali gigitan, satu wajit pasti habis.
Saat Lebaran, wajit sering disajikan bersama kue kering modern sebagai alternatif camilan tradisional yang tetap digemari. Jika tidak membuat sendiri, orang Sunda saat ini membeli Wajit Cililin untuk memperkaya khazanah kudapan saat Lebaran.
3. Ulen Ketan
Ulen merupakan makanan berbahan dasar beras ketan yang dikukus kemudian ditumbuk hingga halus. Dalam proses pengukusannya, beras ketan dicampur dengan kelapa parut dan sedikit garam sehingga menghasilkan rasa gurih.
Setelah tiris, biasanya ulen dipotong-potong dan digoreng atau dibakar sebelum disajikan. Teksturnya kenyal dengan aroma kelapa yang kuat. Di luar garing, di dalam tetap lembut. Menurut tradisinya, ulen adalah satu di antara 'kue' yang wajib ada saat perayaan Lebaran Idulfitri di Jawa Barat.
4. Opak Ketan
Opak ketan adalah kerupuk tradisional yang dibuat dari beras ketan yang dihaluskan, dibentuk tipis, lalu dijemur hingga kering sebelum dipanggang.
Pemanggangan dilakukan dengan mengepit kepingan opak itu dengan sebuah bambu yang ujungnya dibelah. Opak lalu dipanaskan pada bara api dari arang yang terjaga intensitas panasnya hingga opak mengembang.
Rasanya yang gurih dan renyah membuat opak selalu cocok dijadikan teman minum teh saat menerima tamu Lebaran. Opak menjadi salah satu camilan yang praktis karena dapat disimpan cukup lama asalkan diletakkan di tempat kedap udara.
(orb/orb)