Selain Tahu, Ini 5 Makanan Khas Sumedang yang Tak Kalah Lezat

Selain Tahu, Ini 5 Makanan Khas Sumedang yang Tak Kalah Lezat

Dian Nugraha Ramdani - detikJabar
Jumat, 27 Mar 2026 09:00 WIB
20 Tahu Sumedang Rp 2.000 an Ada di Sini!
Ilustrasi tahu Sumedang. (Foto: Google Image)
Bandung -

Kabupaten Sumedang memang identik dengan tahu gorengnya yang renyah. Tahu Sumedang sudah dikenal luas. Kudapan ini simpel dan bisa dinikmati dengan cara digado atau dijadikan teman nasi. Namun, tahukah detikers bahwa Sumedang menyimpan segudang 'permata' kuliner tersembunyi yang tak kalah menggoda selera?

Dari hidangan berkuah kental hingga camilan para bangsawan, berikut adalah daftar kuliner khas Sumedang yang wajib masuk dalam daftar buruan Anda. Selain bisa dinikmati di tempat, ada pula lho makanan yang bisa dijadikan oleh-oleh libur Lebaran dari Sumedang. Apa saja? Simak yuk!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Soto Bongko

Kalau pagi-pagi berada di Sumedang, detikers akan mudah menemukan gerobak pinggir jalan yang menjajakan Soto Bongko. Namanya unik ya? Berbeda dengan soto pada umumnya yang menggunakan nasi atau bihun, Soto Bongko menggunakan bongko.

Dikutip dari akun YouTube Trans7 Official, nama 'bongko' adalah sebutan lokal untuk lontong berukuran besar dan bentuknya kotak. Lontong kotak ini dibungkus daun pisang. Kalau akan disajikan dalam piring, penjual akan memotong kecil-kecil lontong ini. Menariknya, lontong ini punya tekstur lembut karena dimasak menggunakan kapur sirih.

ADVERTISEMENT

Lantas, seperti apa sajian Soto Bongko ini? Di atas piring, potongan lontong disiram kuah kari kuning kental yang gurih, lengkap dengan potongan tahu Sumedang, taoge rebus, dan siraman kecap manis. Jangan lupa, ini yang tak kalah penting sebagai ciri khas: soto ini menggunakan sayur labu siam dalam kuahnya dan sering dinikmati dengan rempeyek kacang yang renyah.

Harga seporsi Soto Bongko berkisar antara Rp15.000-20.000. Kuliner ini biasanya mudah ditemukan di sekitar Pasar Sumedang atau di sekitar Alun-alun Sumedang pada pagi hari.

2. Opak Ketan

Dahulu, opak ketan merupakan penganan favorit kaum bangsawan dan raja di wilayah Kerajaan Sumedang Larang. Opak terbuat dari beras ketan pilihan yang dicampur parutan kelapa dan bumbu.

Dikutip dari siaran 'Bocah Petualang' pada akun YouTube Edutainment Trans7 Official, opak ketan khas Sumedang diproduksi secara serius oleh produsen opak berjenama Opak Oded. Proses pembuatannya cukup panjang dan masih dilakukan dengan cara tradisional.

Beras ketan yang telah dikukus, ditumbuk hingga halus. Lalu, adonan yang telah halus ini dibuat bulatan kecil supaya mudah untuk dicetak. Pencetakan dilakukan dengan memipihkan adonan menggunakan pengepit kayu. Adonan akan berbentuk pipih bundar, lalu dijemur.

Setelah kering, opak setengah jadi dipanggang di atas bara arang kayu untuk proses pematangan. Opak tidak mengembang terlalu besar, karenanya tekstur tetap padat dan tidak kopong. Produsen paling terkenal adalah Opak Oded yang beralamat di Kecamatan Conggeang.

Harga opak ketan khas Sumedang berada pada kisaran Rp25.000-50.000 per bungkus. Opak ketan bisa didapatkan di Opak Oded Conggeang atau pusat oleh-oleh di sepanjang Jalan Raya Cimalaka.

3. Kadedemes

Kadedemes adalah bukti kreativitas masyarakat Sunda dalam mengolah bahan pangan. Hidangan ini terbuat dari kulit singkong, yakni bagian kulit yang menempel pada daging singkong yang biasanya berwarna putih atau merah muda.

Kulit singkong tersebut, setelah dibersihkan, lalu direbus hingga empuk. Setelah tiris, kulit singkong dipotong-potong lalu ditumis dengan bumbu rempah seperti cabai, bawang, dan kencur. Penggunaan daun bawang yang melimpah membuat masakan ini lebih wangi.

Dalam pembuatannya, pengolahan kulit singkong harus tepat, termasuk direndam atau direbus lama agar teksturnya kenyal dan bebas dari rasa yang aneh. Setelah direbus, kulit harus langsung diolah karena berisiko basi jika terlalu lama didiamkan.

Kadedemes bukan kudapan yang bisa digado, melainkan teman nasi. Kadedemes bisa didapatkan di rumah-rumah makan khas Sunda di Sumedang dengan harga berkisar Rp10.000-20.000.

4. Asinan Sumedang

Jika Bogor punya asinan khasnya, Sumedang juga punya 'Asinan Sukasari'. Dikutip dari laman budaya-indonesia.org, dikatakan kuliner ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu asinan buah dan asinan sayur.

Asinan buah dibuat dari potongan berbagai jenis buah yang direndam dalam larutan air gula selama beberapa jam. Buah yang umum digunakan antara lain kedondong, pepaya, jambu, bengkuang, salak, serta beberapa jenis buah lainnya.

Sementara itu, asinan sayur menggunakan bahan berupa sayuran seperti timun, kol, wortel, atau taoge yang telah dicuci bersih, kemudian disajikan dengan kuah asinan. Dibandingkan dengan asinan buah, asinan sayur biasanya memberikan sensasi rasa yang lebih segar.

Ciri khas Asinan Sumedang ini terletak pada keseimbangan rasa manis, asam, dan pedas pada kuahnya yang segar, menjadikannya pilihan tepat sebagai pencuci mulut atau oleh-oleh.

Harga asinan khas Sumedang ini berkisar antara Rp15.000-30.000 per porsi. Asinan Sukasari bisa didapat di sekitar Jalan Prabu Gajah Agung atau di pusat oleh-oleh khas Sumedang seperti di Kompleks Pujasera Sawopolo, Jalan Mayor Abdurahman.

5. Salak Bongkok

Sumedang juga memiliki buah unggulan bernama Salak Bongkok yang berasal dari Desa Bongkok, Kecamatan Paseh. Sebagai buah khas Sumedang, salak ini memiliki ciri khas rasa manis dengan sedikit sentuhan masam yang segar. Tekstur daging buahnya tebal dan renyah.

Salak ini sering diburu oleh wisatawan sebagai buah tangan karena daya tahannya yang baik. Salak Bongkok harganya berkisar antara Rp10.000-Rp15.000 per kilogram dan bisa didapatkan di kios-kios buah di Jalan Raya Paseh (jalan utama Sumedang-Cirebon).

Saat ini, ada juga warga Desa Bongkok yang mengolah salak menjadi berbagai kudapan, di antaranya wajit salak, dodol salak, dan sebagainya. Cara membelinya bisa dengan mengakses lapak jualan online UMKM Desa Bongkok pada laman bongkok-sumedang.berdesa.id.

Halaman 2 dari 2
(orb/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads