Ini 4 Kuliner Khas Subang selain Nanas yang Wajib Dicoba

Ini 4 Kuliner Khas Subang selain Nanas yang Wajib Dicoba

Dian Nugraha Ramdani - detikJabar
Jumat, 27 Mar 2026 14:00 WIB
Ilustrasi buah nanas
Ilustrasi nanas. (Foto: Getty Images/Teen00000)
Bandung -

Selama ini, nanas menjadi buah tangan paling populer yang identik dengan wilayah Kabupaten Subang. Buah dengan rasa manis dan segar tersebut bahkan telah lama menjadi ikon kuliner Subang yang selalu diburu wisatawan maupun pemudik. Namun, di balik popularitas nanas, Subang sebenarnya menyimpan banyak makanan khas lain yang tak kalah menarik untuk dicicipi.

Daerah yang dikenal dengan sebutan Tatar Ranggawulung ini memiliki beragam kuliner tradisional yang lahir dari kekayaan bahan pangan lokal dan tradisi masyarakat setempat. Mulai dari camilan hingga makanan olahan khas, semuanya menawarkan cita rasa unik yang jarang ditemukan di daerah lain.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jika biasanya pemudik hanya melirik nanas sebagai buah tangan, Lebaran 2026 bisa menjadi kesempatan untuk menjelajahi kuliner khas Subang yang lebih beragam. Tidak hanya lezat, beberapa di antaranya juga telah dikenal turun-temurun sebagai makanan legendaris daerah tersebut. Berikut ini adalah makanan khas Subang selain nanas yang wajib dicoba dan masuk daftar belanja oleh-oleh:

4 Kuliner Subang Selain Nanas

ADVERTISEMENT

1. Gitrek Singkong

Bagi detikers yang menyukai tekstur renyah, Gitrek Singkong adalah pilihan utama. Berbeda dengan keripik singkong biasa, gitrek diolah dengan bumbu kencur yang kuat, memberikan aroma segar dan rasa pedas gurih yang khas.

Dikutip dari artikel 'Kuliner Kasomalang Kulon', dikatakan gitrek merupakan salah satu produk olahan pangan berbahan dasar singkong yang khas dari wilayah Kasomalang Kulon, Kabupaten Subang.

Proses pembuatannya cukup sederhana; singkong terlebih dahulu diperas agar muncul saripatinya, kemudian pati dicampur dengan tepung kanji dan berbagai rempah. Setelah adonan tercampur, adonan tersebut dicetak menggunakan cetakan khusus sebelum diolah lebih lanjut.

Kudapan ini bisa didapatkan di sepanjang Jalur Utama Pantura Subang atau di sentra oleh-oleh wilayah Cikalapa. Harganya berkisar antara Rp15.000 hingga Rp25.000 per bungkus, tergantung pada ukurannya.

2. Oncom Dawuan

Oncom dari daerah Dawuan diakui memiliki kualitas unggulan karena teksturnya yang padat dan rasa yang lebih bersih. Oncom ini sering menjadi bahan utama untuk 'tutug oncom' atau gorengan oncom yang sangat cocok dinikmati bersama nasi, hingga menjadi nasi tutug oncom.

Oncom serupa bahkan bisa pula dijadikan pelengkap ketupat saat kumpul keluarga pada momen Lebaran Idulfitri. Dikutip dari Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Subang, Oncom Dawuan merupakan produk warisan yang pembuatannya masih menggunakan metode tradisional secara turun-temurun.

Dikutip dari laman Kota Subang, dikatakan oncom dari Dawuan punya keistimewaan dari sisi bahan baku. Oncom khas Dawuan dikenal memiliki cita rasa yang khas karena menggunakan bahan utama kacang tanah dalam jumlah cukup tinggi. Semakin banyak kandungan kacang tanah yang digunakan, kualitas dan rasa oncom biasanya semakin baik.

Untuk menjaga mutu tersebut, kacang tanah yang dipilih harus berkualitas dan terbebas dari hama. Bahan baku yang terjaga inilah yang membuat oncom Dawuan tetap memiliki cita rasa unggul dan banyak digemari masyarakat.

Oncom ini bisa didapatkan di Pasar Dawuan atau kios-kios khusus oncom di sekitar area Kecamatan Dawuan, Subang. Kini bahkan ada yang membuat oncom kering sehingga bisa lebih awet. Harganya mulai dari Rp10.000 per papan.

3. Papais Cisaat

Jika detikers melewati jalur wisata Ciater menuju Bandung saat libur Idulfitri 2026, pastikan berhenti di Desa Cisaat. Papais Cisaat adalah kue basah berbahan dasar tepung beras dan parutan kelapa yang dibungkus daun pisang. Ada dua jenis Papais, yaitu Papais Enten (berbahan dasar tepung beras) dan Papais Sampeu (berbahan dasar singkong).

Dua varian ini terbentuk karena Desa Cisaat memiliki kondisi alam yang kaya dengan berbagai jenis tanaman, seperti padi, aren, kelapa, serta tumbuhan lain seperti singkong yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Papais Cisaat dibungkus menggunakan daun bangban, yaitu daun yang banyak tumbuh di wilayah desa dan biasa digunakan oleh masyarakat setempat sebagai bahan pembungkus makanan.

Dengan memanfaatkan bahan-bahan alami yang tersedia di lingkungan sekitar, masyarakat kemudian mengolahnya menjadi Papais Cisaat tersebut. Makanan ini biasanya disajikan dalam berbagai kesempatan, seperti konsumsi keluarga, acara hajatan, maupun untuk menjamu tamu yang datang ke desa, termasuk saat Lebaran.

Papais ini bisa didapatkan di sepanjang jalan di Desa Wisata Cisaat, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang. Harganya Rp2.000-Rp5.000 per buah dengan kebiasaan dijual per ikat berisi 5-10 buah.

Papais Cisaat.Papais Cisaat. (Foto: Dwiky Maulana Vellayati/detikJabar)

4. Peuyeum Ciruluk

Di Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang, terdapat kuliner khas berupa peuyeum ketan yang berbeda dari peuyeum pada umumnya. Jika biasanya peuyeum dibuat dari singkong, di daerah ini peuyeum justru diolah dari beras ketan.

Dikutip dari akun YouTube Trans7 Official, proses pembuatannya dimulai dengan merendam beras ketan sekitar satu jam, kemudian dikukus hingga matang. Setelah itu, ketan disiram dengan air perasan daun katuk yang berfungsi sebagai pewarna alami sekaligus mengandung antioksidan. Selanjutnya, ketan diberi sedikit ragi untuk proses fermentasi.

Ketan yang telah diberi ragi kemudian dibungkus menggunakan daun kemiri yang berukuran lebar. Pembungkus alami ini membuat aroma dan rasa peuyeum menjadi lebih khas.

Peuyeum ketan tersebut biasanya dijual dalam ikat berisi sekitar 10 bungkus. Sentra produksinya berada di Desa Ciruluk, Kecamatan Kalijati, dengan kios-kios yang berjejer di pinggir jalan raya arah Kalijati-Purwakarta.

Peuyeum ini juga dapat ditemukan di sekitar terminal atau pasar di wilayah Subang. Harganya berkisar antara Rp15.000 hingga Rp25.000 per ikat. Sebagai tips, jika detikers membeli peuyeum yang baru dibuat, pembeli biasanya disarankan untuk menyimpannya selama satu hingga dua hari terlebih dahulu agar proses fermentasinya lebih maksimal.

(orb/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads