Mengintip Splendore, Bengkel Kreatif Penawar Stres Gen Z

Mengintip Splendore, Bengkel Kreatif Penawar Stres Gen Z

Siti Nurhaliza Safitri - detikJabar
Minggu, 11 Okt 2026 17:00 WIB
Splendore Workshop.
Suasana kelas Splendore Workshop di Jalan Karawitan, Bandung. (Foto: Siti Nurhaliza Safitri/detikJabar)
Bandung -

Di era digital, generasi Z sering kali terjebak dalam fenomena ketergantungan gawai atau gadget untuk aktivitas sehari-hari. Sebab, tak bisa dipungkiri, internet memang mempermudah produktivitas, namun di sisi lain, durasi penggunaan ponsel pintar pun ikut melonjak hingga bikin kecanduan.

Sebuah rumah di Jalan Karawitan Nomor 20, Kota Bandung, menawarkan 'obat' untuk mengatasi kecanduan digital tersebut. Rumah berwarna merah muda itu menjadi bengkel kerajinan tangan yang pintunya selalu terbuka bagi siapa saja.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namanya Splendore Workshop. Tempat ini hadir sebagai ruang kreatif bagi pengunjung untuk menyalurkan hobi, mulai dari menyulam, merajut, menjahit, hingga menenun.

Berbeda dengan kelas workshop pada umumnya yang buka saat akhir pekan, Splendore beroperasi setiap hari dan terbuka untuk kunjungan individu maupun kelompok. Meski begitu, pengunjung tetap disarankan melakukan reservasi terlebih dahulu sebelum datang.

ADVERTISEMENT

Berdiri sejak 2017, pemilik Splendore Workshop, Maria, menjelaskan wol menjadi salah satu bahan utama yang digunakan. Dikenal sebagai cikal bakal-benang, wol dapat diolah melalui berbagai teknik seperti yarn painting dan needle felting untuk menghasilkan karya mulai dari boneka hingga lukisan.

"Kalau benang bisa diolah dengan cara merajut. Merajut itu ada berbagai tekniknya, seperti crochet, knitting, dan tetting. Selain itu ada juga yang udah familiar dan lebih terpakai sehari-hari biasanya menyulam dan menjahit," jelas Maria saat diwawancarai di Splendore Workshop, Selasa (6/10/2026).

Splendore Workshop.Kerajinan bunga kawat yang dijual di Splendore Workshop, Bandung. (Foto: Siti Nurhaliza Safitri/detikJabar)

Selain itu, terdapat teknik makrame dan kumihimo yang mengandalkan keterampilan tali-temali. Bagi pengunjung yang ingin berkreasi tanpa benang atau tali, tersedia pula kelas resin, clay, dan beads art.

Setiap kelas tentu memiliki tingkat kesulitan berbeda. Namun, Maria berkomitmen mengedepankan pengalaman pengunjung agar mereka bisa menikmati proses bereksperimen dengan jari-jemari.

"Tujuan kraft itu kan kalau dari kami sendiri memang sebagai pelarian untuk menenangkan hati. Harapannya orang-orang datang ke sini untuk refreshing dan melepas penat dari sibuknya aktivitas sehari-hari. Jadi memang kami usahakan sebisa mungkin semua kerajinan mudah untuk dipelajari," jelas Maria.

Menanggapi persoalan 'penyakit digital', Maria mengonfirmasi kunjungan generasi Z di bengkelnya meningkat sejak dua tahun lalu. Biasanya, mereka datang di akhir pekan bersama teman-teman. Selain menjadi ajang 'ngerumpi', kerajinan tangan terbukti efektif meningkatkan fokus dan melatih motorik halus.

"Untuk orang yang tangannya enggak pernah dipakai untuk crafting, yang emang hari-harinya kuliah atau bekerja kantoran, di awal memang pasti agak kaku. Tapi bisa dilihat perubahannya pada pertemuan 3-4 itu tangannya mulai luwes. Ditambah kalau orangnya sudah enjoy dengan crafting yang dipilih bisa menenangkan pikiran dan menjauhkan anxiety," jelasnya lebih lanjut.

Alya, mahasiswi Seni Universitas Telkom Bandung, mengakui crafting adalah cara ampuh bagi Gen Z untuk mengisi waktu luang. Menurutnya, menyibukkan diri dengan kerajinan tangan terbukti efektif mengurangi screen time karena kegiatan ini bisa memakan waktu berjam-jam.

"Karena fokus pada proses membuat kerajinan kita bisa sampai lupa untuk bermain gadget. Jadi, crafting bisa menjadi salah satu alternatif aktivitas yang membuat waktu yang biasanya digunakan untuk bermain gadget beralih ke kegiatan yang lebih produktif," ungkap Alya.

Selain meminimalisasi waktu penggunaan ponsel, bagi Alya, crafting adalah wadah pengembangan diri. Selain lebih hemat, kegiatan ini memberinya kesempatan mengeksplorasi berbagai teknik dan jenis benang.

"Menurut aku salah satu hal yang menarik dari crafting adalah embellishment, karena bisa menambahkan berbagai detail atau hiasan pada suatu barang sehingga tampilannya menjadi lebih personal dan sesuai dengan selera kita," ucap Alya.

Bagi Anda yang tertarik mencoba, kelas workshop Splendore dibanderol dengan tarif Rp40.000 per jam, belum termasuk peralatan penunjang. Selain menyediakan kelas, workshop ini juga menjual berbagai peralatan crafting hingga produk jadi dengan harga mulai dari Rp25.000.

(orb/orb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads